Singkat Mengenal Apa Itu Resiliensi

Selasa, 14 Januari 2020 | 10:15:58

Singkat Mengenal Apa Itu Resiliensi

 

Dalam berbagai kajian, resiliensi dianggap sebagai kekuatan dasar yang menjadi pondasi dari semua karakter positif dalam membangun kekuatan emosional dan psikologis seseorang. Secara umum, resiliensi ditandai oleh sejumlah karakteristik, yaitu: adanya kemampuan dalam menghadapi kesulitan, ketangguhan dalam menghadapi stres ataupun bangkit dari trauma yang dialami (Masten & Coatsworth, 1998). Senada dengan hal tersebut, Luthar, dkk (2000) menyatakan bahwa resiliensi adalah sebuah proses dinamis yang mencakup adaptasi positif dalam konteks situasi yang sulit, mengandung bahaya maupun hambatan yang signifikan.

Menurut Duncan et al (2005), resiliensi mencakup keberadaan sejumlah kemampuan, karakteristik maupun berbagai kondisi individu yang tidak bertujuan untuk menghilangkan resiko, akan tetapi lebih pada upaya untuk mampu menghadapi hal-hal yang berpotensi memunculkan krisis dengan cara-cara yang positif. Bagi mereka yang resilien, resiliensi membuat hidupnya menjadi lebih kuat. Artinya, resiliensi akan membuat seseorang berhasil menyesuaikan diri dalam berhadapan dengan kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan, perkembangan sosial, akademis, kompetensi vokasional, dan bahkan dengan berbagai tekanan yang hebat.

Menjadi individu yang resilien bukan berarti ia tidak pernah mengalami kesulitan atau stres. Justru sebaliknya, suatu jalan untuk menjadi orang yang resilien adalah dengan sering mengalami tekanan-tekanan emosional yang masih bisa dihadapi. Resiliensi juga bukanlah sebuah trait, yang dimiliki ataupun tidak dimiliki oleh seseorang. Akan tetapi resiliensi mencakup perilaku, pikiran dan berbagai sikap yang dapat dipelajari dan dikembangkan dalam diri setiap manusia.

Penelitian yang dilakukan oleh Tugade & Fredricson (2004) telah mengambil kesimpulan bahwa individu atau sekelompok orang yang resilien akan banyak melakukan regulasi emosi dengan menggunakan emosi positifnya untuk menggantikan emosi-emosi negatif yang seringkali muncul manakala mereka tengah menghadapi situasi sulit atau kondisi yang menekan. Salah satu landasan teori yang digunakan dalam penelitian Tugade & Fredricson (2004) tersebut adalah pandangan Lazarus (1993, dalam Tugade & Fredricson, 2004) yang mendefinisikan resiliensi psikologis sebagai koping efektif dan adaptasi positif terhadap kesulitan dan tekanan. Resiliensi psikologis ini akan mencerminkan bagaimana kekuatan dan ketangguhan yang ada dalam diri seseorang.

Menurut  Block & Kremen (1996, dalam Tugade & Fredricson, 2004), resiliensi psikologis ditandai dengan kemampuan untuk bangkit dari pengalaman-pengalaman emosional yang negatif. Dengan kemampuan adaptasi dan fleksibilitas yang dimiliki, seorang yang resilien akan berusaha untuk menghadapi dan kemudian bangkit dari berbagai kondisi stres.

Studi Tugade & Fredricson (2004) juga mencatat bahwa individu yang resilien memiliki sifat optimistik, dinamis, bersikap antusias terhadap berbagai hal yang ditemuinya dalam hidup, terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru, dan memiliki emosionalitas yang positif. Lebih dari itu, individu yang memiliki resiliensi tinggi secara proaktif dan strategis akan menumbuhkan kondisi emosi yang positif, semisal melalui humor, teknik-teknik relaksasi, berpikir optimis dan melakukan pengubahan persepsi terhadap segala sesuatu yang pada awalnya dipandang sulit, menekan atau tidak menyenangkan menjadi sesuatu yang wajar, menyenangkan, atau menantang. Dengan demikian, emosionalitas yang positif merupakan elemen penting dari resiliensi psikologis. Kemampuan seseorang dalam meregulasi berbagai emosi negatif menjadi emosi-emosi yang positif akan menentukan bagaimana resiliensi yang dicapainya

Faktor Risiko dan Protektif

Rutter (1987) menyatakan bahwa resiliensi lebih merupakan hasil dari upaya mengelola berbagai macam risiko (hal-hal yang tidak menyenangkan: hambatan, persoalan, konflik, dsb) daripada menghindari risiko-risiko tersebut. Windle (1999) menambahkan, resiliensi terbentuk dari interaksi yang signifikan antara faktor-faktor risiko dengan faktor-faktor protektif. Dalam hal ini, adaptasi yang baik dan berhasil terhadap suatu permasalahan mencerminkan kuatnya pengaruh faktor protektif yang dimiliki individu.

a. Faktor Risiko

Banyak peneliti telah membuat berbagai definisi tentang faktor risiko. Kaplan (1999) mendefinisikan faktor risiko sebagai “prediktor awal” dari sesuatu yang tidak diinginkan atau sesuatu yang membuat orang semakin rentan terhadap hal-hal yang tidak dinginkan. Menurut Rutter (1987, 1990) faktor risiko merupakan variabel yang mengarah langsung pada kondisi patologis atau maladjustment, meski di sisi lain ia juga menunjukkan bahwa faktor risiko merepresentasikan proses dan mekanisme yang mengarah pada akibat yang bersifat problematik. Sementara Luthar (1999) mendefinisikan faktor risiko sebagai sebuah ”mediator” atau variabel-variabel yang memfasilitasi munculnya problem perilaku.

Berbagai macam situasi dapat diidentifikasikan sebagai faktor risiko, yang muncul baik pada level individual, keluarga, komunitas maupun lingkungan yang lebih luas. Faktor-faktor risiko utama yang banyak disebutkan dalam berbagai literatur antara lain kehilangan pekerjaan, kemiskinan, perceraian, kematian, penyakit kronis dan kemandulan.

b. Faktor Protektif

Faktor-faktor protektif merupakan hal-hal potensial yang digunakan sebagai alat untuk merancang pencegahan dan penanggulan berbagai hambatan, persoalan, dan kesulitan dengan cara-cara yang efektif (Hogue and Liddle, 1999; Masten and Braswell, 1991). Dalam diskusi dengan tema resiliensi individual, Garmezy (1991) mengidentifikasikan berbagai kategori dari faktor protektif, yaitu : atribusi disposisional yang dimiliki individu seperti temperamen dan intelegensi, kohesivitas dan kehangatan keluarga, serta keberadaan dan pemanfaatan sistem pendukung eksternal.

Terdapat empat jalur potensial yang digunakan oleh faktor-faktor protektif untuk mengubah efek merugikan dari faktor risiko, yaitu: (1) Mereduksi dampak dari faktor risiko ; (2) Mereduksi rantai negatif dari sebuah kejadian yang menekan; (3) Memelihara dan mengembangkan self-esteem dan self-efficacy; serta (4) Membuka diri terhadap kesempatan-kesempatan baru (Rutter, 1990).

https://wiwinhendriani.com