Tuntunan Rasulullah SAW Untuk Kehidupan Keseharian Kita

Rabu, 18 April 2018 | 08:49:06

Tuntunan Rasulullah SAW Untuk Kehidupan Keseharian Kita

 

”Siapapun yang ingin hidup ini bahagia, mulia, dan bermartabat, maka pelajari dan tirulah Nabi Muhammad S.a.w dengan segenap keikhlasan”

Hendaknya kita selalu menjaga Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam di dalam kehidupan kita, semoga Allah yang Maha Agung mengkaruniakan kita kecintaan dan kerinduan kepada Rasulullah S.a.w, dan kita menjalankan sunnahnya dengan penuh ketulusan karena dalam keadaan cinta kepada Beliau S.a.w.

 

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

 

Kaum muslimin dan muslimat tanpa terkecuali tentunya sangat ingin untuk mengikuti semua tuntunan Nabinya, berikut sedikit di antara Sunnah-sunnah Nabi S.a.w yang dapat kita terapkan langsung dalam keseharian kita:

Mendahulukan yang Kanan

Dari Sayyidina Ali R.a, bahwa Rasulullah S.a.w bersabda: "Apabila seseorang di antara kalian memakai sandal, hendaknya ia mendahulukan kaki kanan, dan apabila melepas, hendaknya ia mendahulukan kaki kiri, jadi kaki kananlah yang pertama kali memakai sandal dan terakhir melepaskannya.". (Muttafaq Alaihi).

Dari Sayyidatina Aisyah R.a: "Bahwa Nabi S.a.w menyukai memulai dengan bagian yang kanan, dalam memakai sandalnya, dalam menyisir rambutnya, dalam bersucinya, dan dalam gerak-geriknya". (Shahih Bukhari).

Amru bin Abu Salamah R.a menceritakan bahwa suatu hari, sewaktu dirinya masih kecil, ia tengah berada di pangkuan Rasulullah S.a.w, dan saat itu jamuan makanan sedang dihidangkan. Ketika tangannya hendak meraih salah satu makanan dalam piring besar tersebut, Rasulullah S.a.w berkata kepada dia: ”Nak, ucapkanlah Bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang ada di hadapanmu.”.

Abu Hurairah R.a mengatakan bahwa Rasulullah S.a.w bersabda: "Jika kamu berpakaian atau berwudhu, hendaknya mendahulukan anggota badan sebelah kanan.". (HR Abu Daud dan Tirmidzi).

Dari Ibnu Umar R.a, bahwa Rasulullah S.a.w bersabda: "Apabila seseorang di antara kalian makan hendaknya ia makan dengan tangan kanan dan minum hendaknya ia minum dengan tangan kanan, karena sesungguhnya setan itu makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.". (Riwayat Muslim).

Rasulullah S.a.w dalam banyak perbuatannya senantiasa mendahulukan bagian anggota yang kanan, Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani menyebutkan dengan menukil ucapan Al Imam An Nawawi bahwa ucapan Beliau S.a.w: " وفي شأنه كله (dalam segala perbuatannya)", menunjukkan kalimat ‘aam makhsuus (kalimat umum yang dikhususkan), yang mana tidak semua perbuatan yang Beliau S.a.w kerjakan dimulai dari anggota yang kanan, sebagaimana banyak perbuatan yang Beliau mulai dengan anggota yang kiri, seperti ketika masuk ke dalam kamar mandi, atau ketika keluar dari masjid, dan lainnya.

Senyum dan Salam (Mengucapkan dan Menjawab)

Jangan sekali-kali meremehkan sesuatu perbuatan baik walaupun hanya sekedar senyuman. Kebaikan yang kau anggap kecil, mungkin terasa besar bagi orang yang menerima kebaikanmu itu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata pada Jabir bin Sulaim:

 

وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ

 

“Janganlah meremehkan kebaikan sedikitpun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.”. (HR.Tirmidzi dan Abu Daud 4084).

Dari Abu Dzar R.a, dia berkata, Rasulullah S.a.w bersabda, “Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu.”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Dari Abdullah bin Al Harits bin Jaz`i R.a dia berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak senyumannya selain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.”. (HR. Tirmidzi).

Dari Jarir bin Abdillah R.a dia berkata, “Sejak aku masuk Islam, Rasulullah S.a.w tidak pernah menolak aku untuk duduk bersama Beliau. dan tidaklah Beliau melihatku kecuali Beliau tersenyum kepadaku.”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mengucapkan salam, hukumnya adalah sunnah, sedangkan bagi yang mendengarnya, wajib untuk menjawabnya. Ucapan Assalamu ‘Alaikum atau lengkapnya Assalamu ’Alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh, yang artinya “Semoga kedamaian dilimpahkan kepadamu diiringi dengan rahmat dari Allah dan juga barakah dari Allah untukmu”, yang diucapkan sesama muslim, adalah sunnah Nabi Muhammad S.a.w. Adapun jawabannya adalah Wa ’Alaikumus salaam, atau lengkapnya Wa ’Alaikumus Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh.

Kita sangat dianjurkannya kita untuk mengucapankan salam antara sesama muslim, sebagaimana hadist berikut yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah R.a, bahwa Rasulullah S.a.w bersabda:

”Kamu tidak dapat memasuki surga kecuali bila kamu beriman. Imanmu belumlah lengkap sebelum kamu berkasih sayang satu sama lain. Maukah kuberitahukan kepadamu sesuatu yang, jika kamu kerjakan, kamu akan menanamkan dan memperkuat kasih sayang di antara kamu sekalian? Tebarkanlah ucapan salam satu sama lain, baik kepada yang kamu kenal maupun yang belum kamu kenal.”. (HR Muslim).

Abu Umammah R.a meriwayatkan, Rasulullah S.a.w bersabda, ”Orang yang lebih dekat kepada Allah S.w.t adalah yang lebih dahulu memberi salam.”. (Musnad Ahmad, Abu Daud, dan At Tirmidzi).

Hadist riwayat Abu Hurairah R.a, ia berkata: Rasulullah S.a.w. bersabda: "Seorang pengendara hendaknya mengucapkan salam kepada pejalan kaki dan pejalan kaki mengucapkan salam kepada orang yang duduk dan jamaah yang beranggota lebih sedikit mengucapkan salam kepada jama'ah yang beranggota lebih banyak". (Shahih Muslim 4019).

Hadist riwayat Abu Hurairah R.a, ia berkata: Rasulullah S.a.w bersabda: "Ada lima kewajiban bagi seorang muslim terhadap saudaranya yang muslim; menjawab salam, mendoakan orang yang bersin, memenuhi undangan, menjenguk orang sakit dan mengiring jenazah". (Shahih Muslim 4022).

Hadis riwayat Anas bin Malik R.a: Rasulullah S.a.w pernah melewati anak-anak, lalu Beliau mengucapkan salam kepada mereka. (Shahih Muslim 4031).

Makan dan Minum dalam Keadaan Duduk

Rasulullah S.a.w bersabda: “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian minum sambil berdiri. Apabila dia lupa maka hendaknya dia muntahkan.”. (HR. Muslim 2026).

“Bagaimana dengan makan (sambil berdiri)?”, Anas menjawab, “Itu lebih parah dan lebih jelek.” (HR. Muslim 2024).

Menyambung Silaturrahmi (Kepada Kerabat, Teman, Tetangga, dst)

Hadist riwayat Anas bin Malik R.a, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah S.a.w bersabda: "Barang siapa yang merasa senang bila dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung hubungan kekeluargaan (silaturahmi)". (Shahih Muslim 4638).

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Tidak ada dosa yang Allah cepatkan adzabnya kepada pelakunya di dunia ini di samping adzab yang telah Dia sediakan untuknya di akhirat daripada berlaku dzalim dan memutuskan silaturrahmi". (al-Adab al-Mufrad 29).

Memenuhi Undangan, Menjenguk Orang Sakit dan Mengantarkan Jenazah

Hadis riwayat Ibnu Umar R.a, ia berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: "Apabila seorang di antara kamu diundang untuk menghadiri pesta perkawinan, maka hendaklah ia menghadirinya". (Shahih Muslim 2574)

Hadis riwayat Abu Hurairah Radliallahu 'Anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Hak muslim atas muslim lainnya ada lima, yaitu; menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan orang yang bersin". (Shahih Bukhari 1164).

Allah S.w.t menghendaki seluruh umat Islam untuk saling membantu dan mengasihi, masing-masing peduli dengan yang lain, saling memperhatikan dalam kehidupan yang tidak lama ini. Karena hal ini berhubungan dengan kehidupan di akhirat kelak. Di antaranya ialah ketika salah satu dari umat Islam meninggal maka yang lain berkewajiban untuk memandikan, mengkafani, menshalati, mengantarkan, mendoakan, dan lain-lain.

Abu Hurairah R.a berkata bahwa Rasulullah S.a.w bersabda: "Barangsiapa yang menyaksikan jenazah sampai dishalatkan maka ia mendapat pahala satu qirat dan barangsiapa yang menyaksikannya sampai di kubur maka mendapat pahala dua qirat". Ditanyakan: "Berapa itu dua qirat?", Rasulullah S.a.w bersabda: "Seperti dua gunung besar.". (HR Bukhari).

Shalat Tahajjud

Di antara ibadah sunnah yang sangat ditekankan dalam Islam adalah shalat Tahajjud. Demikian ditekankannya Tahajjud, sampai-sampai secara khusus disebutkan dalam Al-Quran, dan disebutkan pula keutamaan bagi orang yang melakukannya.

Nabi S.a.w bersabda, “Laku­kanlah oleh kalian shalat malam, karena hal itu merupakan kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian, pendekat­an diri kepada Allah Ta`ala, pencegah dari dosa, penghapus segala kesalahan, dan penolak penyakit dari tubuh.”.

Beliau S.a.w juga bersabda, “Dua raka'at di tengah malam yang dilakukan oleh se­orang anak Adam lebih baik daripada dunia dan seisinya. Dan jika saja tidak memberatkan umatku, niscaya aku mewajibkan dua raka'at shalat malam ter­sebut kepada mereka.”.

Diriwayatkan bahwa Allah membang­gakan orang-orang yang melakukan shalat malam kepada para malaikat. Allah S.w.t berfirman: “Lihatlah hamba-hamba-Ku. Sungguh mereka telah melakukan shalat di kegelapan malam, sehingga tidak ada yang melihat mereka selain Aku. Aku bersaksi kepada kalian bahwasanya Aku mempersilakan mereka me­nempati negeri kemuliaan-Ku.”.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah mengatakan mengenai Abdullah bin Umar:

 

« نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللَّهِ ، لَوْ كَانَ يُصَلِّى بِاللَّيْلِ » . قَالَ سَالِمٌ فَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ لاَ يَنَامُ مِنَ اللَّيْلِ إِلاَّ قَلِيلاً .

 

“Sebaik-baik orang adalah Abdullah (maksudnya Ibnu ‘Umar) seandainya ia mau melaksanakan shalat malam.”. Salim mengatakan, “Setelah dikatakan seperti ini, Abdullah bin ‘Umar tidak pernah lagi tidur di waktu malam kecuali sedikit.“. (HR Bukhari).

Kemudian setelah shalat, mohon ampunlah untuk kaum muslimin dan muslimat, mukminin mukminat (orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan). Nabi S.a.w ber­sabda, “Barang siapa memohonkan ampunan kepada Allah bagi orang-orang beriman laki-laki dan perempuan, nis­caya, dari setiap orang beriman laki-laki dan perempuan, Allah menuliskan bagi­nya satu kebaikan.”.

Sayyidina Rasulullah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

 

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ

 

“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata: 'Dan bagimu juga kebaikan yang sama'.”. (HR Muslim 4912).

Membaca Al-Qur’an.

Abdullah bin Mas'ud R.a berkata bahwa Rasulullah S.a.w bersabda: "Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah maka baginya satu kebaikan, sedangkan kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif-laam-miim satu huruf, tapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf". (HR Tirmidzi).

Dari Anas R.a, beliau berkata: Sesungguhnya Rasulullah S.a.w bersabda, “Barangsiapa setelah imam salam dari shalat Jum`at sebelum merubah posisi duduknya membaca surat Al-Fatihah, surat Al-Ikhlas, surat Al-Mu`awwidzata in (yakni surat Al-Falaq dan surat An-Naas) masing-masing tujuh kali (7x), maka Allah S.w.t mengampuni dosa yang telah lewat dan yang akan datang serta diberi pahala sebanyak hitungan orang yang beriman kepada Allah S.w.t dan Rasul-Nya.”. (HR. Ibnu Mundzir).

Al Quran merupakan kitab suci sempurna yang mengulas berbagai aspek kehidupan. Sebelum memulai aktifitas keseharian kita, alangkah baiknya membaca Al-Qur’an terlebih dahulu dengan penuh penghayatan. Firman Allah S.w.t: "Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa". (QS Al-Baqarah [2]: 2).

Allah S.w.t berfirman: "Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al-Quran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman". (QS Al-‘Ankabut [29]: 51).

Tak hanya bernilai ibadah, tetapi bagi pembaca Al-Qur'an keadaan mereka dikatakan oleh Nabi S.a.w: "Rumah yang di dalamnya dibacakan Al-Qur'an akan terlihat penduduk langit sebagaimana penduduk bumi melihat gemerlap bintang-gemintang di langit.". (HR Baihaqi). Sedangkan bagi orang yang malas membaca Al-Qur'an, Rasulullah S.a.w memperingatkan: "Sungguh, orang yang di dalam hatinya tidak terdapat sesuatu pun dari Al-Qur'an, bagaikan rumah yang sepi (menyeramkan)". (HR Turmudzi).

Sayyidina Rasulullah S.a.w bersabda: ”Katakanlah “Qul Huwallahu Ahad (yakni surat Al-Ikhlas) dan Al Mu’awwidzata in (yakni surat Al-Falaq dan An-Naas) pada sore hari dan pagi hari (sebanyak) tiga kali, maka hal itu telah mencukupimu dari segala sesuatu.”. (HR Abu Daud).

Rutinkanlah untuk membaca Al-Qur'an. Membaca ayat-ayat Al-Qur'an yang ringan, seperti surah-surah pendek tentu tidak memberatkan (kecuali bagi orang-orang yang malas), dan perlu kita ingat bahwa sebaik-baik amalan yang paling dicintai oleh Allah S.w.t ialah yang kita tekun melakukannya tanpa terputus (kontinyu), istiqamah. Rasulullah S.a.w bersabda:

 

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

 

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang lestari (terus-menerus) walaupun itu sedikit.”. (HR Muslim).

Shalat Berjama'ah di Masjid

Islam tidak lepas dari konteks kehidupan berjama'ah, bahkan ada hukum yang secara langsung berkaitan dengan jama'ah, seperti shalat, puasa Ramadhan, ibadah haji, jihad fi sabilillah, dan juga dakwah.

Rasulullah S.a.w bersabda: "Tidaklah tiga orang yang berdiam di suatu kota atau suatu desa yang di antara mereka tidak ditegakkan salat jamaah, melainkan setan telah menguasai mereka. Oleh karena itu, engkau wajib berjamaah. Sebab, sesungguhnya serigala itu hanyalah akan memangsa kambing yang sendirian.". (HR Abu Dawud, Nasai, Ahmad dan Hakim).

Dalam syariat Islam, diberikan penghargaan yang sangat tinggi bagi yang melaksanakan shalat lima waktu secara berjama'ah, yaitu 25 atau 27 kali shalat sendirian di rumahnya. Shalat Isya berjama'ah di masjid diberi ganjaran setengah pahala shalat malam. Shalat Subuh berjama'ah di masjid diganjar seperti pahala shalat tahajjud sepanjang malam.

Rasulullah S.a.w pernah bersabda: "Sesungguhnya Shalat Subuh dan dan Shalat Isya’ secara berjama'ah di masjid sangat sulit dikerjakan oleh orang-orang yang munafik". Maukah gelar ini melekat pada diri kita? ..Tentu tidak, maka marilah kita bangun di waktu fajar untuk melaksanakan perintah Allah S.w.t.

Sebelum melangkah ke mana pun, langkahkan kaki ke masjid, karena masjid merupakan pusat keberkahan, bukan karena panggilan muadzin, tetapi panggilan Allah S.w.t yang menyeru kepada orang beriman untuk memakmurkan masjid-Nya. Beberapa hadits yang menerangkan keutamaan berjalan ke masjid, di antaranya sabda Rasulullah S.a.w: "Barangsiapa yang pergi ke masjid atau pulang, maka Allah telah menyiapkan dalam surga, setiap pergi atau pulang.". (HR Bukhari dan Muslim).

Nabi S.a.w bersabda: "Siapa saja yang melangkahkan kaki menuju masjid untuk shalat berjama'ah, pada setiap langkahnya itu satu dosa dihapuskan dan satu derajatnya ditinggikan" (HR Al-Khamsah dari Abu Hurairah R.a).

Allah S.w.t akan mengubah apa yang terjadi di muka bumi ini dari kegelapan menjadi keadilan, dari kerusakan menuju kebaikan. Semua itu terjadi pada waktu yang mulia, ialah waktu Subuh. Berhati-hatilah, jangan sampai tertidur pada saat yang mulia ini. Allah S.w.t akan memberikan jaminan kepada orang yang menjaga shalat Subuhnya, yaitu terbebas dari siksa neraka jahanam.

Diriwayatkan dari Ammarah bin Ruwainah R.a, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah S.a.w bersabda: "Tidak akan masuk neraka, orang yang shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam matahari". (HR Muslim).

Shalat Subuh merupakan hadiah dari Allah S.w.t. Hadiah ini tidak diberikan, kecuali kepada orang-orang yang taat lagi bertaubat. Hati yang gemar kemaksiatan, bagaimana mungkin akan bangun untuk shalat Shubuh. Orang munafik tidak mengetahui kebaikan yang terkandung dalam shalat Subuh berjama'ah di masjid. Sekiranya mereka mengetahui kebaikan yang ada di dalamnya, niscaya mereka akan pergi ke masjid, bagaimanapun kondisinya, seperti sabda Rasulullah S.a.w, "Maka mereka akan mendatanginya, sekalipun dengan merangkak".

Betapa beruntungnya orang membiasakan dalam melaksanakan kewajiban shalat dengan berjama'ah dan betapa ruginya orang yang melalaikannya. Masjid dan shalat berjama'ah merupakan media bagi persatuan dan kesatuan umat Islam, yang dapat mewujudkan persaudaraan lahir bathin di antara sesama muslim.

Sedikit tambahan kesunnahan ialah memakai wangi-wangian (minyak wangi), sebagaimana hadist berikut: "Apabila salah seorang di antara kalian menyaksikan waktu Isya' ~(dalam sebuah riwayat lain disebutkan 'masjid' (di masjid)~ maka hendaklah dia memakai wangi-wangian pada malam itu". (Hadits Riwayat Muslim).

Shalat Dhuha

Shalat Dhuha hukumnya sunnah mu'akkadah (sangat dianjurkan), waktunya dari meningginya matahari setinggi pedang, sampai sebelum bergesernya matahari dari istiwa'. Dilakukan paling sedikit dua raka'at.

Abu Darda' R.a berkata, "Aku diberi wasiat oleh Kekasihku S.a.w tiga hal yang tidak akan aku tinggalkan selama aku hidup: Puasa tiga hari setiap bulan, Shalat dhuha, dan tidak tidur sebelum aku shalat witir.". (HR Muslim).

Ada banyak keutamaan dibalik shalat Dhuha, pelakunya diampuni dosanya, rezekinya diluaskan sepanjang hari dan dimasukkan ke dalam surga melalui sebuah pintu khusus, pintu Dhuha. Allah mencukupi rezekinya. “Wahai anak Adam, janganlah engkau merasa lemah dari empat raka'at dalam mengawali harimu, niscaya Aku (Allah) akan mencukupimu di akhir harimu.”. (HR. Abu Darda`). Bahkan, siapa saja yang mengerjakan shalat Dhuha secara istiqamah, pahalanya dapat menyamai pahala ibadah haji.

Dengan menunaikan shalat Dhuha, kita sedang memberikan makna yang luhur atas pekerjaan dan tugas sehari-hari yang akan kita selesaikan. Kita bekerja juga merupakan sebuah tugas mulia dan semestinya dimulai dengan mengingat Allah S.w.t, agar keberkahan dan semangat melewati proses kerja dilimpahkan oleh-Nya. Sebab, dengan shalat Dhuha, kita memohon kepada-Nya untuk menjadi Pelindung. Siapa yang menunaikan shalat Dhuha akan tergolong sebagai orang yang bertaubat kepada Allah S.w.t. “Tidaklah seseorang selalu mengerjakan shalat Dhuha kecuali ia telah tergolong sebagai orang yang bertaubat.”. (HR Hakim).

Dari Abu Dzarr R.a, ia berkata: Rasulullah S.a.w bersabda: “Setiap pagi, pada ruas tulang kalian terdapat sedekah, setiap ucapan tasbih (Subhanallah) adalah sedekah, setiap ucapan tahmid (Alhamdulillah) adalah sedekah, setiap ucapan tahlil (Laa Ilaha illallah) adalah sedekah, setiap ucapan takbir (Allahu Akbar) adalah sedekah, memerintah kebaikan adalah sedekah, mencegah perkara mungkar adalah sedekah, dan dua raka’at yang dikerjakan seseorang dalam shalat Dhuha telah mencakup semuanya.”. (HR.Muslim).

Sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah R.a, beliau berkata: ”Kekasihku Nabi Muhammad S.a.w mewasiatkan tiga hal: Shalat Witir sebelum tidur, Puasa tiga hari di setiap bulan, dan Shalat Dhuha.”. (Imam al-Baihaqi dalam kitabnya Fadhail Awqat).

Ketiga ibadah ini merupakan wasiat langsung dari Nabi Shalallahu Alaihi wa Aalihi wa Shahbihi wa Salam.

Sedekah (setiap hari)

Sedekah termasuk amalan yang bersifat al-muta’ddiyah (sosial), artinya manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh orang yang mengerjakannya, namun juga dirasakan oleh banyak orang lain. Allah S.w.t menyukai orang yang suka bersedekah, dan malaikat-Nya selalu mendoakan kepada orang yang bersedekah setiap hari.

Sedekah memiliki banyak keutamaan, (terutama yang dilakukan pada bulan Ramadhan). Di antara keutamaan sedekah adalah menyucikan diri dari dosa-dosa kecil, menunjukkan rasa syukur, menghilangkan sifat kikir pada diri seseorang, 'membersihkan' harta yang dimiliki, dan membantu meringankan beban kaum dhuafa. Sedekah juga takkan mengurangkan harta sedikitpun, karena Allah pasti akan menggantinya dengan berlipat ganda. Rasulullah S.a.w bersabda:

 

مَا نَقَصَ مَالُ مِنْ صَدَقَةٍ

 

Artinya: "Harta tidak berkurang karena bersedekah.". (HR Muslim).

Allah S.w.t berfirman: "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui". (QS Al-Baqarah [2]: 261).

Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari tentang salah seorang wanita bertanya kepada Rasul S.a.w, “Wahai Rasulullah, aku punya harta yang lebih, boleh tidak aku sedekahkan pada suamiku dan anakku? boleh tidak sedekah kepada kerabat sendiri?”, maka Rasul S.a.w menjawab: “Untukmu dua pahala, yang pertama kau dapat pahala shadaqah dan yang kedua kau dapat pahala menyambung silaturahmi dengan kerabatmu".

Sering dipertanyakan, mana yang lebih didahulukan, umum atau keluarga sendiri?. Justru keluarga sendiri dulu, baru orang lain. Bahkan kepada keluarga sendiri, kata Rasul S.a.w, ada dua pahala, yaitu pahala sedekah dan pahala menyambung kekerabatan. Demikian indahnya tuntunan Nabiyyuna Muhammad S.a.w.

Untuk sedekah dalam bentuk materi tentunya kita semua telah banyak memahaminya, namun perlu juga kita sadari bahwa sedekah tidaklah semata-mata dalam bentuk materi (harta atau benda), sebagaimana hadist berikut, Dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah R.a, ia bertanya kepada Rasulullah S.a.w: “Amal apakah yang paling utama?”, Beliau S.a.w menjawab: “Iman kepada Allah dan berjuang di jalan-Nya.” Saya bertanya: “Memerdekakan budak yang bagaimana yang paling utama?” Beliau S.a.w menjawab: “Memerdekakan budak ketika sangat disayang oleh tuannya dan yang paling mahal harganya.” Saya bertanya: “Seandainya saya tidak mampu berbuat yang sedemikian, lalu bagaimana?” Beliau S.a.w menjawab: “Kamu membantu orang yang bekerja atau kamu menyibukkan diri agar hidupmu tidak sia-sia.” Saya bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika saya tidak mampu melakukan sebagian pekerjaan itu?” Beliau S.a.w menjawab: “Janganlah kamu berbuat kejahatan kepada sesama manusia, karena sesungguhnya yang demikian itu termasuk sedekah untuk dirimu.”. (HR.Bukhari dan Muslim).

Sedekah tidak selalu berati pemberian materi, namun juga bisa bermakna pemberian yang bersifat non-materi, semisal, membantu orang lain, menyingkirkan duri di jalan, berbicara dengan bahasa yang santun dan sopan, dan lain-lain. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah R.a, bahwa Rasulullah S.a.w bersabda, “Setiap anggota badan manusia diwajibkan bersedekah setiap harinya selama matahari masih terbit; kamu mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah; kamu menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang bawaannya ke atas kendaraannya adalah sedekah; setiap langkah kakimu menuju tempat shalat juga dihitung sedekah, dan menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah.”. (HR Bukhari dan Muslim).

Apabila kita kurang mampu untuk melakukan sedekah materi, minimal kita menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat semisal membantu orang lain yang bekerja, dan senantiasa pula kita menahan diri untuk tidak menganggu orang lain, karena secara tidak langsung, yang demikian adalah memberi (sedekah) kenyamanan dan menjaga kesalamatan orang banyak. Sabda Nabi S.a.w: "Yang disebut dengan muslim sejati adalah orang yang selamat orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya". (HR Bukhari 10 dan Muslim 40).

Berbeda dengan zakat yang biasa dilakukan secara terbuka agar menjadi nasehat (yakni dilihat dan ditiru) bagi orang lain, sedekah lebih utama jika dikeluarkan secara diam-diam, dan juga pada prakteknya, menolak dengan kata-kata yang halus lebih baik daripada memberi tapi dibarengi bentakan atau menghardik yang dapat menyakiti hati penerima.

Jauhilah sifat kikir dan hiasilah diri anda dengan akhlak dan watak penderma yang gemar memberi dan menolong. Firman Allah S.w.t: "Dan siapa yang dihindarkan dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.". (QS Al Hasyr [59]: 9). Rasulullah S.a.w bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya.”. (HR Ath-Thabarani).

Jaga Wudhu (terus-menerus).

Abdullah bin Umar R.a berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

 

عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: طهروا هذه الأجساد طهركم الله فإنه ليس عبد يبيت طاهرا إلا بات معه ملك في شعاره لا ينقلب ساعة من الليل إلا قال : اللهم اغفر لعبدك فإنه بات طاهرا.

 

“Bersihkanlah jasad-jasad ini semoga Allah membersihkan kalian, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba bermalam suatu malam dalam keadaan suci melainkan seorang malaikat akan bermalam bersamanya di dalam selimutnya, tidaklah dia bergerak pada suatu waktu dari malam melainkan malaikat itu berdoa: “Wahai Allah, ampunilah untuk hamba-Mu, sesungguhnya dia tidur malam dalam keadaan suci.”. (HR Ath Thabrani).

Allah S.w.t menyayangi hamba-Nya yang berwudhu. Sayyidina Ali bin Abu Thalib K.w berkata: “Orang yang selalu berwudhu senantiasa ia akan merasa selalu shalat walau ia sedang tidak shalat, dan dijaga oleh malaikat dengan dua doa, "Ampuni dosa dan sayangi dia Ya Allah”.

Biasakanlah bersuci dan berdoa sebelum tidur, mudah-mudahan mendapat keberkahan. Diriwayatkan dari Nabi S.a.w bahwa­sanya Beliau bersabda, ”Barang siapa hendak tidur dan ingin terbangun di waktu tertentu, hendaknya ia tidur dalam kondisi berwudhu, dan ketika hendak tidur membaca ayat (Al-Kahfi ayat 110), lalu mengusap dadanya dengan tangan kirinya dan mengucapkan Allahumma nabihni fi waqti kadza atau fi sa`ati kadza (Ya Allah, bangunkan aku di waktu ini.. atau pada jam sekian..), maka ia akan terba­ngun di waktu tersebut dengan pasti.”.

Rasulullah S.a.w bersabda: “Barangsiapa tidur dimalam hari dalam keadaan suci (berwudhu) maka malaikat akan tetap mengikuti, lalu ketika ia bangun niscaya malaikat itu akan berucap ‘Ya Allah ampunilah hamba-Mu si fulan, karena ia tidur di malam hari dalam keadaan selalu suci’.”. (HR Ibnu Hibban dari Ibnu Umar R.a).

Selain berdampak kepada kebersihan lahir (tubuh), wudhu juga berdampak pada kesehatan bathiniah seseorang, dimana dengan berwudhu dapat menjadi sebab hadirnya ketentraman hati dan ketenangan jiwa. Basuhan dan siraman air wudhu akan meredam emosi seseorang yang sedang panas terbakar amarah. Rasulullah S.a.w bersabda, “Sesungguhnya kemarahan itu berasal dari syaitan, dan syaitan tercipta dari api. Dan sesungguhnya api itu dapat dipadamkan dengan air. Jika salah seorang di antara kalian marah, maka berwudhulah.”. (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Wudhu adalah amalan yang tergolong ringan, dimana wudhu juga sebagai pembersih bagi orang yang sering melakukannya. Setelah dengan kemudahan yang demikian itu, Allah juga memberi pahala yang sangat besar dan pelakunya dipersilahkan untuk memasuki surga dari pintu mana saja yang dikehendakinya, sungguh ini merupakan pemberian yang sangat besar. Bagaimana dengan yang lalai dan lengah dalam hal ini?, betapa mereka menyia-nyiakan keagungan ini. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Uqbah bin Amir R.a, bahwa Rasulullah S.a.w bersabda: "Tidaklah seorang muslim berwudhu, lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian shalat menghadap kiblat dua raka'at, kecuali wajib baginya surga.". (HR Muslim).

Dari Al-Barra’ bin Azib Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

 

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ ، ثُمَّ قُلْ : اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ ؛ فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ فَأَنْتَ عَلَى الْفِطْرَةِ ، وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَتَكَلَّمُ بِهِ

 

“Apabila engkau hendak tidur, berwudhulah sebagaimana wudhu ketika hendak shalat. Kemudian berbaringlah miring ke kanan, dan bacalah:

 

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

 

'Ya Allah, aku tundukkan wajahku kepada-Mu, aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu, karena rasa takut dan penuh harap kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari hukuman-Mu kecuali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan kepada nabi-Mu yang telah Engkau utus'.

Jika kau wafat di malam itu, kamu mati dalam keadaan fitrah. Jadikanlah doa itu, sebagai kalimat terakhir yang engkau ucapkan sebelum tidur.”. (HR. Bukhari 247 dan Muslim 2710).

Istighfar (setiap saat)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, ”Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya setiap hari sebanyak seratus kali”. (Riwayat Al Bukhari dalam Adab Al Mufrad dan dihasankan oleh Al Hafidz As Suyuthiy). Al Hafidz Al Ala’iy menjelaskan bahwa maksud taubat pada hadits tersebut adalah taubat istighfar, yang mana Rasulullah S.a.w banyak melakukannya.

Istighfar bukanlah sekedar ucapan dzikir belaka, tetapi di dalamnya terkandung nilai ibadah yang begitu besar, sebagaimana sabda Rasulullah S.a.w: "Tidaklah tergolong orang berdosa, orang yang selalu beristighfar meskipun dia mengulangi perbuatan dosanya sebanyak 70 kali dalam sehari.". (HR Tirmidzi).

Tsauban R.a berkata, "Rasulullah S.a.w jika selesai shalat mengucap 'Astaghfirullah' tiga kali, kemudian mengucap 'Allahumma Antassalam wa Minkassalam Tabarakta ya Dzaljalali wal ikram' (Ya Allah, Engkaulah Salam dan dari-Mu semua keselamatan, Maha Mulia Engkau Tuhan yang Maha Besar dan Maha Terhormat).". (HR Muslim).

Dengan istighfar, masalah yang terjadi karena dosa kita, akan dijauhkan oleh Allah S.w.t.

Bershalawat Kepada Nabi S.A.W

Suatu ketika sahabat Ubay bin Ka’ab R.a bertanya kepada Rasulullah S.a.w, “Wahai Rasulullah, berapa banyak saya harus mengucapkan shalawat untukmu?” Rasulullah menjawab, “Sesukamu.”. Pada akhirnya Ubay berkata: "Wahai Rasulullah, saya akan menjadikan seluruh waktuku untuk bershalawat kepadamu", maka Rasulullah S.a.w bersabda: "Karena itu, seluruh dosa-dosamu akan diampuni dan semua kesedihanmu akan dihilangkan (yakni tercukupi semua kebutuhan, dan diberi jalan keluar atas segala masalah). (HR Tirmidzi 2457. Hasan Shahih).

Jadi, makin banyak kita bershalawat kepada Nabi, maka akan semakin bagus. Ini adalah jaminan dari Rasulullah S.a.w. Dan terlebih utama lagi bila memperbanyak bershalawat di hari Jum’at. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 

أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً

 

“Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.”. (HR Baihaqi).

Siti Aisyah R.a pernah bertanya kepada Rasulullah S.a.w, “Siapakah yang tidak akan melihatmu pada hari kiamat?” Jawab Rasulullah S.a.w: “Orang yang bakhil (kikir)”. Siti Aisyah bertanya lagi: “Siapakah orang yang bakhil itu?” Jawab Baginda S.a.w: “Orang yang ketika disebut namaku di depannya, dia tidak mengucap shalawat ke atasku.”.

Shalawat kepada Nabi Muhammad S.a.w menjanjikan pahala yang sangat besar. Rasulullah S.a.w bersabda, "Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat (melimpahkan rahmat) kepadanya sepuluh kali". (HR. Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Nasa'i dan Ahmad).

Satu shalawat-Nya Allah untuk hamba sudah pasti jauh lebih baik dari pada dunia beserta isinya..!!. Siapa yang bershalawat kepada Nabi sewaktu duduk, ia akan diampuni sebelum berdiri dan siapa yang bershalawat kepada Beliau S.a.w sewaktu hendak tidur, ia akan diampuni sebelum bangun. Shalawat merupakan guru bagi mereka yang tak memiliki guru, karenanya shalawat tidak butuh guru maupun khusyu dalam membacanya, tetapi akan lebih sempurna jika diucapkan dengan hati yang khusyu.

"Bahkan Riya' (mengharapkan pujian manusia) pun tidak dapat menghapuskan pahala shalawat"

Wal Akhir, perlu kita ingat dalam menjalankan sunnah terdapat perbedaan antara i'tiba (mengikuti) dan mahabbah (mencintai), bahwa menjalankan sunnah Nabi S.a.w janganlah hanya pada dhohirnya (gerak-gerik) saja yaitu mengikuti Nabi Muhammad S.a.w yang tanpa dibarengi 'ruh mengikuti', dan ruh mengikuti itu adalah cinta (mahabbah) kepada Nabi Muhammad S.a.w. Alangkah banyaknya kelalaian kita akan ruh mengikuti ini. Mengikuti Nabi Muhammad S.a.w belum tentu cinta akan tetapi yang mencintai Nabi Muhammad S.a.w pasti akan patuh dan mengikuti (i'tiba) Rasulullah Nabi Muhammad S.a.w.

Jagalah selalu sunnah-sunnah baginda Nabi besar Muhammad S.a.w

 

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ

 

Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

http://nurulmakrifat.blogspot.co.id