Tujuh Amal Jariyah Yang Pahalanya Mengalir Sampai Hari Kiamat

Selasa, 27 Februari 2018 | 09:10:15

Tujuh Amal Jariyah Yang Pahalanya Mengalir Sampai Hari Kiamat

 

Segala pujian hanya kepada Allah, Tuhan sekalian alam. Sholawat serta salam teriring kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, para sahabat dan pengikutnya yang senantiasa  istiqamah menjalani sunnah-sunnah Nabi Muhammad SAW hingga ke hari kiamat.

Sahabat yang dirahmati Allah,

Amal Jariyah adalah sebuah amalan yang pahalanya akan terus menerus mengalir hingga hari kiamat, walau pun orang yang melakukan amalan tersebut sudah meninggal dunia.

Hadis tentang amal jariyah yang popular dari Abu Hurairah menerangkan bahawa Rasulullah SAW bersabda, "Apabila anak Adam (manusia) meninggal dunia, maka terputuslah semua (pahala) amal perbuatannya kecuali tiga macam perbuatan, yaitu amal jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakannya" (Hadis Riwayat Muslim).

Selain dari ketiga jenis perbuatan di atas, ada lagi beberapa macam perbuatan yang tergolong dalam amal jariyah.

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda maksudnya, "Sesungguhnya diantara amal kebaikan yang mendatangkan pahala setelah orang yang melakukannya meninggal dunia ialah ilmu yang disebarluaskannya, anak soleh yang ditinggalkannya, mushaf (kitab-kitab keagamaan) yang diwariskannya, masjid yang dibina, rumah yang dibina untuk penginapan orang yang sedang dalam perjalanan. sungai yang dialirkannya untuk kepentingan orang ramai, dan harta yang disedekahkannya "(Hadis Riwaya Ibnu Majah).

Berikut Penjelasannya :

Di dalam hadits diatas disebutkan tujuh macam amal yang tergolong amal jariah, ke tujuh amalan tersebut adalah :

1. Ilmu yang di sebarluaskan :

Menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang bermanfaat, baik melalui pendidikan formal (seperti sekolah, universitas , lembaga kursusj dan institusi) dan pendidikan tidak formal seperti perbincangan ilmiah, tazkirah di masjid-masjid, ceramah umum, kursus motivasi, program dakwah dan tarbiah dan sebagainya. Termasuk dalam kategori ini adalah menulis buku-buku yang berguna , menulis kitab-kitab agama dan menyebarkan bahan-bahan pendidikan Islam melalui artikel-artikel tazkira facebook atau blog.

2. Anak soleh yang ditinggalkan :

Didiklah anak mu menjadi anak yang soleh, karena Anak yang soleh akan selalu berbuat kebaikan di dunia dan selalu mendo'akan orangtuanya. Menurut keterangan hadis ini, kebaikan yang diperbuat oleh anak soleh pahalanya sampai kepada orang tua yang mendidiknya yang telah meninggal dunia tanpa mengurangkan nilai atau pahala yang diterima oleh anak-anak tadi. Doa anak yang soleh kepada orang tuanya mustajab di sisi Allah SWT.

3. Mushaf (kitab-kitab agama) yang diwariskannya :

Mewariskan kitab suci al-Quran, kitab tafsir al-Quran, mushaf (buku agama) kepada orang-orang yang dapat memanfaatkannya untuk kebaikan diri dan masyarakatnya. Untuk sekolah-sekolah agama dan maahad tahfiz dan untuk perpustakaan awam. Selagi kitab-kitab tersebut digunakan sebagai bahan bacaan dan rujukan maka orang yang mewakafkan akan mendapat pahala yang terus-menerus mengalir.

4. Masjid yang dibina :

Membangun masjid. Perkara ini selaras dengan sabda Nabi SAW yang bermaksud, "Barangsiapa yang membangunkan sebuah masjid kerana Allah walau sekecil apa pun, maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di syurga" (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim).

Orang yang membina masjid tersebut akan menerima pahala seperti pahala orang yang mengerjakan amal ibadah di masjid tersebut. Termasuk juga mewakafkan tanah untuk pembinaan masjid.

5. Rumah yang dibina untuk penginapan orang yang sedang dalam perjalanan :

Membangun rumah musafir atau pondok bagi orang-orang yang bermusafir untuk kebaikan adalah suatu amalan sangat di anjurkan. Setiap orang yang memanfaatkannya, baik untuk beristirahat sebentar maupun untuk bermalam dan keperluan lain yang bukan untuk maksiat, akan mengalirkan pahala kepada orang yang menyediakannya. Termasuk juga kita membina pondok peristirahatan ditepi-tepi jalan yang tidak di kelola oleh pemerintah.

6. Sungai yang dialirkannya untuk kepentingan orang ramai,

Mengalirkan air secara baik dan bersih ke tempat-tempat orang yang memerlukannya atau menggali sumur di tempat yang sering dilalui atau didiami orang ramai. Setelah orang yang mengalirkan air itu meninggal dunia dan air itu tetap mengalir serta terjaga dari pencemaran dan dimanfaatkan orang yang hidup maka ia mendapat pahala yang terus mengalir.

Semakin ramai orang yang memanfaatkannya semakin banyak ia menerima pahala di akhirat. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang membuat sebuah telaga / danau lalu airnya diminum oleh jin atau burung yang kehausan, maka Allah akan memberinya pahala kelak di hari kiamat." (Hadis Riwaya Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Majah).

7. Harta yang disedekahkannya :

Menyedekahkan sebahagian harta. Sedekah yang diberikan secara ikhlas akan mendatangkan pahala yang berlipat ganda. Selain daripada harta yang diberikan sebagai sedekah, termasuk juga mewakafkan tanah untuk pembangunan pendidikan Islam, rumah anak yatim, maahad tahfiz, tanah perkuburan dan rumah oarng-orang jompo. Selagi tanah tersebut digunakan untuk kebaikan maka pahalanya akan terus-menerus mengalir kepada pemberi tanah wakaf tersebut.

Nabi SAW bersabda "Sesungguhnya sedekah itu benar-benar dapat memadamkan panasnya siksa kubur bagi pelakunya, sesungguhnya orang mukmin kelak di hari kiamat hanyalah bernaung dibawah naungan sedekahnya. (Hadis Riwayat Al-Tabrani)

Sedekah dapat di jadikan sebagai pemberi syafaat bagi pelakunya . Di dalam kubur ia mendapatkan kesejukan berkat sedekahnya dan terhindar dari panasnya kubur. Demikian pula di hari kiamat, ia akan mendapatkan naungan dari amal sedekahnya, padahal ketika itu kebanyakan manusia berada di dalam kepanasan yang tiada taranya. Dalam hadis lain di sebutkan bahawa sedekah itu dapat menolak kemurkaan Allah.

Sahabat yang dimuliakan,

Sifat yang perlu dihindari atau di cegah adalah sifat bakhil, kecintaan yang berlebihan terhadap nikmat dunia dan kurang peka terhadap keperluan orang lain. Sikap mementingkan diri sendiri sebenarnya tidak ada dalam ajaran Islam.

Lihatlah bagaimana mereka yang orang-orang mukmin yang kaya raya seperti Usman bin Affan, Abdul Rahman bin Auf. Mereka tidak bahil dengan harta yang mereka miliki, sebaliknya merekalah yang muncul sebagai penyumbang utama kepada usaha meningkatkan syiar agama termasuk dalam aspek menyalurkan aneka bantuan kepada masyarakat.

Sejarah dengan jelas mencatatnya dalam tinta emas kedudukan mereka itu yang begitu berkepribadian luhur dalam usaha membantu golongan miskin. Inilah sebenarnya yang Islam kehendaki, yaitu yang kaya membantu mereka yang miskin. Barulah bermakna dan bermanfaat segala harta dunia yang dimiliki.

Firman Allah SWT berikut ini wajar kita ingat selalu : "Dan tuntutlah dengan harta kekayaan yang telah dikurniakan Allah kepadamu akan pahala dan kebahagiaan hari akhirat dan janganlah engkau melupakan bahagianmu (keperluan dan bekalanmu) dari dunia dan berbuat baiklah (kepada hamba-hamba Allah) sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu (dengan pemberian rahmat-Nya yang melimpah-limpah) dan janganlah engkau melakukan kerusakan di muka bumi, sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang berbuat kerusakan." (Surah al-Qasas ayat 77)

Justru, daripada apa yang dinyatakan Allah SWT itu jelaslah bahwa kita diwajibkan berusaha menggandakan usaha mencari kekayaan dunia tetapi dalam kerangka kehidupan yang seimbang untuk dunia dan akhirat. Dengan demikian kita sebenarnya dianjurkan berusaha dengan keras memperoleh kekayaan dunia agar dapat meningkatkan kualitas ibadah yang berhubungan secara langsung dengan Allah SWT dan sesama manusia. Inilah yang diajarkan kepada kita semua.

Allah SWT berfirman "Orang yang membelanjakan (mendermakan) hartanya pada waktu malam dan siang, dengan cara tersembunyi atau berterang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhan mereka dan tiada kebimbangan (daripada berlakunya kejadian yang tidak baik) kepada mereka, dan mereka pula tidak akan bersedih" (Surah al-Baqarah ayat 274).

Berkaitan dengan firman Allah ini, Imam al-Khazin dalam tafsirnya memberitahu kita bahwa: "Dikatakan bahwa ayat ini berlaku umum untuk setiap orang yang membelanjakan harta mereka pada setiap waktu dan merata untuk semua kalangan, baik yang berada dalam kesulitan memenuhi keperluan, dan mereka yang meminta-minta serta hidup dalam kemelaratan."

Sahabat yang dikasihi,

Rasulullah SAW sepanjang hayat baginda sangat memandang tinggi sikap dermawan yang tidak bakhil dengan menyumbangkan hartanya ke jalan kebaikan. Dengan kenyataan yang juga berbentuk satu motivasi buat umatnya, baginda berpesan kepada kita: "Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah, dan tangan yang di atas suka memberi dan tangan yang di bawah suka meminta." (Hadis riwayat Bukhari, Muslim dan Abu Daud)

Teruskan beramal jariah kerana inilah jenis amalan yang terus menerus mengalir umpama air sungai yang mengalir kepada mukmin yang melakukannya samasa ketika mereka masih hidup di dunia ataupun ketika telah meninggal dunia.

http://kumpulantausiah.blogspot.co.id