Takut tentang Kefakiran

Jumat, 3 November 2017 | 08:44:30

Takut tentang Kefakiran

 

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى بْنِ سُمَيْعٍ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْأَفْطَسُ عَنْ الْوَلِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْجُرَشِيِّ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ

 

خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَذْكُرُ الْفَقْرَ وَنَتَخَوَّفُهُ فَقَالَ أَالْفَقْرَ تَخَافُونَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتُصَبَّنَّ عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا صَبًّا حَتَّى لَا يُزِيغَ قَلْبَ أَحَدِكُمْ إِزَاغَةً إِلَّا هِيهْ وَايْمُ اللَّهِ لَقَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى مِثْلِ الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا وَنَهَارُهَا سَوَاءٌ

 

قَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ صَدَقَ وَاللَّهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَرَكَنَا وَاللَّهِ عَلَى مِثْلِ الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا وَنَهَارُهَا سَوَاءٌ

 

Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin ‘Ammar Ad Dimasyqi berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isa bin Sumai’ berkata, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sulaiman Al Afthas dari Al Walid bin Abdurrahman Al Jurasyi dari Jubair bin Nufair dari Abu Darda` ia berkata;

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui kami, sementara kami sedang memperbincangkan masalah kefaqiran dan kami merasa takut darinya. Lalu beliau bersabda:

” Apakah kalian takut kepada kemiskinan? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh akan diberikan kepada kalian dunia, hingga hati salah seorang dari kalian tidak bisa berpaling kecuali akan menemuinya. Sungguh, telah aku tinggalkan untuk kalian perkara terang benderang, malam dan siangnya sama.“

Abu Darda` berkata; “Demi Allah benar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggalkan bagi kita perkara yang terang benderang, malam dan siangnya sama.”

Sanad hadits:

Hisyam bin ‘Ammaar bin Nushair Ad Dimasyqi, shaduq dan haditsnya terdahulu lebih shahih, ia menjadi tua renta sehingga menerima talqin, 245H.

Muhamad bin Isa bin Al Qasim bin Sumai’ ad dimasyqi, shaduq yukhthi dan mudallis, 206H.

Ibrahim bin Sulaiman Al Afthas Ad dimasyqi, tsiqah tsabt namun suka memursalkan.

Al Waliid bin Abdurrahman Al Jurasyi Al Himshi, tsiqah.

Jubair bin Nufair bin Malik bin Amir Al Hadlrami Al Himshi, tsiqah jaliil mukhadlram, wafat 80H.

Abu Darda Uwaimir bin Zaid bin Zaid Al Anshari, shahabat mulia, wafat di akhir khilafah utsman.

Derajat hadits:

Sanad hadits ini hasan, Hisyam bin Ammar dan gurunya shaduuq yukhthi’. Dan imam Ahmad meriwayatkan dari hadits ‘Auf bin Malik tanpa lafadz: wa aimullah..dst.

Di dalam sanadnya ada Baqiyyah, ia dikatakan mudallis tadlis taswiyah.. Namun syaikh Al-Albani memandang bahwa tuduhan ini tidak benar. Dan beliau memandang sanad hadits ahmad hasan, sehingga menjadikan hadits Abu Darda shahih.

Faedah Hadits :

Nabi tidak khawatir kefaqiran menimpa umat islam, yg beliau khawatirkan adalah dibukanya pintu kesenangan dunia yg membuat umat islam tertipu lalu belomba-lomba mencarinya dan enggan utk memperjuangkan agama Allah.

Adapun hadits: kaadal faqru an yakuuna kufran (Hampir-hampir kefaqiran membuat pelakunya kafir) adalah hadits maudlu’.

Nabi meninggal dalam keadaan islam telah sempurna, malamnya seperti siangnya artinya semua telah dijelaskan.

Tercelanya bid’ah, karena bid’ah tuduhan terhadap Rasulullah dan tikaman thd kesempurnaan islam.

Imam Malik berkata: “Siapa yang berbuat sebuah bid’ah, maka ia telah menuduh Nabi berkhianat…”.

Setiap manusia takut faqir, sebagaimana para shahabat takut faqir.

Kewajiban berhati-hati dari dunia, karena banyak melalaikan manusia.

Tercelanya berlomba-lomba mencari kekayaan dunia, selayaknya umat islam berlomba-lomba dalam kebaikan dan amal shalih.

Oleh : Ustadz Badru Salam, Lc.

http://syarah-hadits.blogspot.co.id