TAFSIR QS: AT-TAUBAH 111-112

Senin, 23 Oktober 2017 | 08:32:42

TAFSIR QS: AT-TAUBAH 111-112

JUAL BELI (BAI’AT) DAN BEBERAPA POIN PENTING YANG MENDASARINYA

(QS. 9 At-Taubah 111-112)

111. Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar.

112. Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat [*], yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat Munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.

[*] Maksudnya: melawat untuk mencari ilmu pengetahuan atau berjihad atau mempersiapkan jihad. ada pula yang menafsirkan dengan orang yang berpuasa.

Sesungguhnya Allah memberitahukan kepada orang yang beriman dari hamba-hambanya bahwa jika mereka bersedia menjual diri dan harta mereka dengan berjihad dijalan Allah maka Allah akan membelinya dengan syurga. Hal ini menunjukkan betapa besar karunia Allah serta kemurahanNya kepada hamba.

Berkata Hasan Al-Basri dan Qotadah: “Jika mereka bersedia menjual (berbai’at) demi Allah, maka tinggilah harga mereka”.

Berkata Syamir bin Athiyah: “Tidak seorangpun mengaku muslim melainkan dia pasti bersedia untuk meletakkan bai’at di lehernya. Dia menepatinya dan bersedia mati karnanya”. Kemudian Beliau membaca ayat ini (Qs. 9 : 111).

Abdullah bin Rawahah berkata kepada Rasulullah , pada malam Perjanjian Aqobah (Bai’at Aqobah), “Tentukanlah syarat sesukamu yang harus kami penuhi untuk Robbmu dan untuk dirimu yaa Rasulullah”. Maka Beliau Saw bersabda: “Aku menentukan syarat untuk Robbku agar kalian menyembahnya dan agar kalian tidak menyekutukan sesuatu apapun dengannya dan aku menentukan syarat untuk diriku agar kalian melindungiku sebagaimana kalian melindungi jiwa dan harta kalian”. Para sahabat bertanya: “apa imbalannya jika kami menepatinya ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab “SYURGA”. Merekapun berseru: “Betapa menguntungkan jual beli ini, kami tidak mau mengganti dan tidak ingin diganti”. Maka turunlah ayat ini (QS. 9 :111) artinya mereka sudah puas dengan harga syurga yang Allah tawarkan untuk membeli diri dan harta mereka sehingga tidak akan pernah menerima tawaran lain sebagai penggantinya bahkan mereka tidak pernah mau mendengar tawaran lain berupa apapun yang ditawarkan kepada mereka untuk memalingkan mereka dari Jihad Fiesabilillah. Yang dapat membatalkan syurga yang dijanjikan Allah itu, meskipun dengan seluruh isi dunia. Selama hayat dikandung badan, mereka bersungguh sungguh menjaga perjanjian mereka itu, bersiap siaga kapan saja untuk menepatinya, untuk mendapatkan keuntungan yang tiada tara, yang mereka yakin sekali akan kebenarannya, bahwa Allah pasti menepati janjinya.

Diriwayat dalam kitab Shohihain Rasulullah bersabda, “Allah menjamin dan menanggung bagi siapa saja yang keluar ke jalan Allah untuk semata-mata berjihad di jalanKu dan membenarkan RasulKu jika dia wafatkan, maka dimasukkan ke dalam surga atau dipulangkan ke rumahnya dengan memperoleh pahala atau membawa ghonimah”. Inilah maksud firman Allah Wa’dan ‘alaihi haqqan …( Janji Allah yang Haq dalam Injil, Taurat dan Qur’an).

Allah telah mencatat janji itu didalam kitab-kitabnya yang agung, yaitu Taurat yang diturunkan kepada Musa, Injil yang diturunkan kepada Isa dan Al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad Rasulullah Saw.. maka bergembiralah orang-orang yang sudah menyatakan dan menepati bai’at (jual beli) dengan Allah itu dengan kemenangan yang besar dan kenikmatan yang abadi.

Ayat ini juga menerangkan betapa tinggi nilai seorang hamba ketika dia mengikat perjanjian jual beli kepada Allah, meskipun dia tadinya adalah orang yang penuh dosa dan noda. Kita umpamakan seseorang yang memiliki sebuah guci tua yang terbiar dihalaman rumahnya, yang setiap hari terkena hujan dan panas, yang berlumur debu dan lumpur, tidak ada seorangpun yang menghiraukannya. Tiba tiba datang seorang ahli arkiologi, ketika melihat guci tua itu dia menawar dengan harga seratus juta, dia benar benar akan membayarnya seratus juta, transaksi untuk itu akan dilaksanakan beberapa hari lagi, dan sekarang diadakan perjanjian yang disaksikan oleh beberapa orang tokoh pemerintah dan pemuka adat, dicatat diatas kertas segel dengan cap dan tanda tangan notaris yang sah…..pertanyaannya, apakah setelah perjanjian itu, guci tua tadi akan tetap terbiar dan tergeletak dihalaman rumah? Tetap berlumur debu dan lumpur? Tetap terkena panas dan hujan? Jawabannya tentu tidak, sekali-kali tidak!!. Pemilik guci yang pandai, tentu serta merta membawa masuk guci tua itu ketempat yang aman, membersihkannya dengan teliti dan hati hati hingga benar benar mengkilat, membungkusnya dengan kain yang lembut berlapis lapis, hingga tidak ada debu yang dapat menempel dengan mudah. Sementara menunggu saat transaksi itu tentu, dia akan merawat dan menjaganyaa dengan extra ketat dan extra hati hati hingga tidak mengecewakan paembelinya.

Maka bagaimana dengan jiwa raga yang kotor dan berlumur noda dan dosa ini, ketika Allah menawar dengan harga yang sangat tinggi, bukan sekedar seratus atau dua ratus juta, melainkan dengan syurga seluas langit dan bumi yang mengalir sungai-sungai dibawahnya, kekal abadi selamanya. Masih adakah yang diragukan, padahal Allah telah mencatat perjanjian itu dalam tiga kitab suci yang mulia, dipersaksikan oleh rasul yang mulia dan oleh hamba-hamba Allah yang sholih?. Orang yang beriman pastilah serta merta menerina tawaran itu, memenuhi perjanjiannya, dan menjaga diri, jiwa dan raganya. Membersihkannya, mensucikannya, dan melindunginya dari noda dan dosa dengan cara-cara yang diperintahkan Allah sebagaimana Allah firmankan dalam ayat berikutnya (112)

Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat Munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.

At-Taaibuun artinya senantiasa bertaubat atas semua dosa yang telah lalu, dan kedepannya menghindarkan diri dari kenistaan.

Al-Aabiduun artinya tekun beribadah serta senantiasa menjaga diri, menjaga lisan dan perbuatan serta menjaga hati untuk tetap khusyu’ dan tawaddhu’.

Al-Haamiduun artinya memuji Allah dengan senantiasa melakukan perbuatan-perbuatan terpuji dan menghindarkan diri dari perbuatan tercela .

As-Saa’ihuun artinya senantiasa menahan diri dari kenikmatan bahkan mempuasakan diri dari berbagai kelezatan dengan bersusah payah untuk melaksanakan jihad di jalan Allah.

Ar-Raaki’uun as-Saajiduun adalah perlambang dari penekanan akan pentingnya menjaga sholat, untuk menperbanyak dan pemberpanjang ruku’ dan sujud. Juga merupakan perlambang dari keadaan tunduk, patuh dan taat.

Amar ma’ruf nahi munkar artinya mereka itu senantiasa berada dalam kebaikan dan memerintahkan kepadanya dan menjauhkan diri dari kemungkaran dan melarang darinya

Wal-Haafidzuuna li huduudillah adalah perlambang dari keteguhan mereka dalam menjaga dan melaksanakan hukum-hukum dan syariat Allah.

Wa Basysyiris Shoobirin maka sampaikanlah berita gembira kepada orang arang yang sabar.

Demikianlah sifat arang beriman yang yakin akan perjanjiannya dengan Allah, semoga kita termasuk didalamnya.

Semoga Allah Ta’ala berkenan menerina bai’at yang kita ucapkan dan kita peresaksikan, dan memandaikan kita dalam melaksanakan tugas suci dalam rangka membersihkan diri dan meninggikan kalimat Allah, dan semoga berkenan kiranya Allah mengampuni dosa dan kesalahan kita dan meridhoi kita dunia dan akhirat. Amin.

 

https://khilafatulmusliminksb.wordpress.com