Shaum sunnah yang dianjurkan oleh Rosul SAW itu apa saja, dan keutamaan dan pahalanya

Rabu, 29 Mei 2019 | 09:13:23

Shaum sunnah yang dianjurkan oleh Rosul SAW itu apa saja, dan keutamaan dan pahalanya

 

1. Puasa Daud

Bentuknya adalah puasa sehari dan berbuka

sehari. Puasa ini termasuk puasa sunnah yang paling afdhal (utama)

dibandingkan dengan puasa-puasa sunnah lainnya berdasarkan sabda nabi

SAW:

Shalat (sunnah) yang paling dicintai oleh Allah adalah

shalat (seperti) Nabi Daud as. Dan puasa (sunnah) yang paling dicintai

Allah adalah puasa (seperti) Nabi Daud as. Beliau tidur separuh malam,

lalu shalat 1/3-nya dan tidur 1/6-nya lagi. Beliau puasa sehari dan

berbuka sehari.

 

Dari Ibnu Umar ra berkata bahwa Rasulullah SAW

bersabda, "Puasalah sehari dan berbukalah sehari. Itu adalah puasanya

nabi Daud as dan itu adalah puasa yang paling utama. Aku menjawab,"Aku

mampu lebih dari itu." Nabi SAW bersabda, "Tidak ada lagi yang lebih

utama dari itu." (HR Bukhari - Shahih Bukhori Juz 2 halaman 697 hadits

nomor 1875)

 

2. Puasa Asyura dan Tasu’a.

 

Yaitu puasa pada hari kesepuluh dan kesembilan bulan Muharram, sesuai dengan hadits Rasulullah SAW berikut ini:

 

Dari

Humaid bin Abdir Rahman, ia mendengar Muawiyah bin Abi Sufyan RA

berkata, "Wahai penduduk Madinah, di mana ulama kalian? Aku mendengar

Rasulullah SAW bersabda, "Ini hari Assyura, dan Alloh tidak mewajibkan

shaum kepada kalian di hari itu, sedangkan saya shaum, maka siapa yang

mau shaum hendaklah ia shaum dan siapa yang mau berbuka hendaklah ia

berbuka." (HR Bukhori 2003)

 

Juga ada hadits lainnya berikut ini:

 

Dari

Ibnu Abbas r.a, ia berkata, "Ketika Rasulullah SAW tiba di kota Madinah

dan melihat orang-orang Yahudi sedang melaksanakan shaum assyuraa,

beliau pun bertanya? Mereka menjawab, "Ini hari baik, hari di mana

Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka lalu Musa shaum pada

hari itu. Maka Rasulullah SAW menjawab, "Aku lebih berhak terhadap Musa

dari kalian, maka beliau shaum pada hari itu dan memerintahkan untuk

melaksanakan shaum tersebut.""" (HR Bukhori 2004)

 

Dari Ibnu Abbas

RA, ia berkata, "Pada saat Rasulullah SAW melaksanakan shaum Assyura

dan memerintah para sahabat untuk melaksanakannnya, mereka berkata,

"Wahai Rasulullah hari tersebut (assyura) adalah hari yang

diagung-agungkan oleh kaum Yahudi dan Nashrani." Maka Rasulullah SAW

bersabda, "Insya Allah jika sampai tahun yang akan datang aku akan

shaum pada hari kesembilannya." Ibnu Abbas berkata, "Rasulullah SAW

meninggal sebelum sampai tahun berikutnya." (HR Muslim 1134)

 

Rasulullah

SAW bersabda, "Shaumlah kalian pada hari assyura dan berbedalah dengan

orang Yahudi. Shaumlah kalian sehari sebelumnya atau sehari

sesudahnya." (HR Thohawy dan Baihaqy serta Ibnu Huzaimah 2095)

 

Adapun

keutamaan shaum tersebut sebagaimana diriwayatkan dalam hadits dari Abu

Qatadah, bahwa shaum tersebut bisa menghapus dosa-dosa kita selama

setahun yang telah lalu. (HR Muslim 2/819)

 

Imam Nawawy ketika

menjelaskan hadits di atas beliau berkata, "Yang dimaksud dengan

kafarah dosa adalah penghapus dosa-dosa kecil, akan tetapi jika orang

tersebut tidak memiliki dosa-dosa kecil diharapkan dengan shaum

tersebut dosa-dosa besarnya diringankan, dan jika ia pun tidak memiliki

dosa-dosa besar, Allah akan mengangkat derajat orang tersebut di

sisi-Nya."

 

3. Puasa Hari Arafah dan Tarwiyah

 

Puasa

Arafah yaitu puasa pada tanggal 9 bulan Zul-Hijjah, sedangkan puasa

tarwiyah adalah puasa pada tanggal 8 bulan Zul-Hijjah. Puasa sunnah itu

berdasarkan dalil berikut:

 

Puasa hari Arafah itu -ahtasibu alallah- bahwa dia itu menggugurkan dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya. (HR Muslim)

 

Sedangkan dalil puasa 8 hari bulan Zulhijjah adalah sebagai berikut:

 

Empat

hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW: puasa hari

Asyura, puasa 1-8 Zulhijjah, 3 hari tiap bulan dan dua rakaat sebelum

fajar. (HR Ahmad, Abu Daud dan Nasai).

 

Dari Ibni Abbas ra bahwa

Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada amal yang lebih dicintai Allah dari

hari ini, (yaitu 10 hari bulan Zulhijjah)." Mereka bertanya, "Ya

Rasulullah SAW, dibandingkan dengan jihad fi sabilillah?" "Meskipun

dibandingkan dengan jihad fi sabililllah." (HR Jamaah keculai Muslim

dan Nasai Lihat Nailul Authar: 3/312).

 

Tidak ada hari dimana

Allah SWT membebaskan hamba-Nya dari api neraka dibandingkan hari lain

kecuali pada hari Arafah. (HR Muslim).

 

4. Puasa 6 Hari pada Bulan Syawwal

 

Ketentuan

tentang masyru’iyah puasa sebanyak 6 hari di bulan syawwal didasarkan

pada Rasulullah SAW yang shahih riwayat Imam Muslim.

 

Dari Abi

Ayyub Al-Anshari r.a. bahwa orang yang puasa Ramadhan lalu dilanjutkan

dengan puasa 6 hari Syawwal, maka seperti orang yang berpuasa setahun.

(HR Muslim).

 

Juga ada hadits lainnya yang juga menguatkan masyru’iyah puasa Syawwal, yaitu hadits Tsauban berikut ini:

 

Dari

Tsauban r.a., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Puasa Ramadhan pahalanya

seperti puasa 10 bulan. Dan puasa 6 hari setelahnya (Syawwal) pahalanya

sama dengan puasa 2 bulan. Dan keduanya itu genap setahun."

 

Sebagian

kalangan Al-Hanafiyah tidak menganggapnya sunnah dan merupakan pendapat

menyendiri dari kalangan mazhab Al-Hanafiyah. Diriwayatkan bahwa

Al-Imam Abu Hanifah menghukumi karahah puasa 6 hari Syawwal baik

berturut-turut maupun tidak berturutan. Sedangkan Abu Yusuf, salah

seorang ulama dari mazhab Al-Hanafiyah mengatakan bahwa karahahnya

hanyalah bila puasa 6 hari Syawwal itu dilakukan dengan cara

berturut-turut. Sedangkan bila dilakukan dengan tidak berturut-turut,

maka tidak makruh.

 

Namun para ulama Al-Hanafiyah dari kalangan

mutaakhirin tidak berpendapat sebagaimana pendapat Al-Imam Abu Hanifah.

Mereka sebagaimana pendapat dari mazhab lainnya menyatakan bahwa puasa

6 hari di bulan Syawwal itu memang hukumnya sunnah.

 

Sedangkan

jumhur fuqaha (mayoritas ulama fiqih) baik dari kalangan Al-Malikiyah,

Asy-Syafi’iyah mapun Al-Hanabilah semua sepakat mengatakan bahwa puasa

6 hari di bulan Sawwal itu hukumnya sunnah. Meskipun mereka berbeda

pendapat tentang cara melakukannya.

 

Haruskah dilakukan berturut-turut atau tidak?

 

a. Asy-Syafi’iyah dan sebagian Al-Hanabilah

 

Al-Imam

Asy-Syafi’i dan sebagian fuqaha Al-Hanabilah mengatakan bahwa afdhalnya

puasa 6 hari Syawwal itu dilakukan secara berturut-turut selepas hari

raya Iedul Fithri. Yaitu tanggal 2 hingga tanggal 7 Syawwal. Dengan

alasan agar jangan sampai timbul halangan bila ditunda-tunda.

 

b. Mazhab Al-Hanabilah

 

Tetapi

kalangan resmi mazhab Al-Hanabilah tidak membedakan apakah harus

berturut-turut atau tidak, sama sekali tidak berpengaruh dari segi

keutamaan. Dan mereka mengatakan bahwa puasa 6 hari Syawwal ini

hukumnya tidak mustahab bila yang melakukannya adalah orang yang tidak

puasa bulan Ramadhan.

 

c. Mazhab Al-Hanafiyah

 

Sedangkan

kalangan Al-Hanafiyah yang mendukung kesunnahan puasa 6 hari syawwal

mengatakan bahwa lebih utama bila dilakukan dengan tidak

berturut-turut. Mereka menyarankan agar dikerjakan 2 hari dalam satu

minggu.

 

d. Mazhab Al-Malikiyah

 

Adapun kalangan fuqaha

Al-Malikiyah justru mengatakan bahwa puasa itu menjadi makruh bila

dikerjakan bergandengan langsung dengan bulan ramadhan. Yaitu bila

langsung dikerjakan mulai pada tanggal 2 Syawwal selepas hari ‘Iedul

fithri. Bahkan mereka mengatakan bahwa puasa 6 hari itu juga

disunnahkan di luar bulan Syawwal, seperti 6 hari pada bulan Zulhijjah.

 

5. Puasa Ayyamul Biidh

 

Yaitu puasa pada tanggal 13, 14 dan 15 bulan-bulan hijriyah (qamariyah). Berdasarkan dalil berikut ini:

 

Dari

Abu Zar Al-Ghifari ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Wahai Aba

Zarr, bila kamu puasa tiga hari dalam sebulan, maka puasalah pada

tanggal 13, 14 dan 15."

 

Dari Qatadah bin Milhan bahwa Rasulullah

SAW memerintahkan kami untuk puasa pada hari-hari putih (ayyamul

biidh), yaitu tanggal 13, 14 dan 15. Puasa di hari-hari itu seperti

puasa selamanya.

 

6. Puasa Senin Kamis

 

Ketentuan tentang masyru‘iyah puasa Senin Kamis didasarkan pada hadits yang di dalamnya ada komentar Rasulullah SAW tentang munasabah-nya.

Yaitu pada hari Senin dan Kamis diserahkan amal manusia. "Sesungguhnya

amal manusia itu diperlihatkan/dilaporkan setiap hari Senin dan Kamis.

Lalu Allah mengampuni setiap muslim atau setiap mukimin, kecuali

mutahajirin. Beliau berkata, "Akhir dari keduanya." (HR Ahmad dengan

sanad shahih).

 

Rasulullah SAW juga ditanya tentang puasa hari

Senin. Beliau menjawab, "Itu hari kelahiranku dan diturunkan wahyu."

(HR Muslim dan Ahmad) .

 

7. Puasa bulan Sya’ban

 

Rasulullah

saw paling banyak puasa Sunnah di bulan Sya’ban, beliau mencontohkan

langsung kepada umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan Syaban,

sebagaimana yang diriwayatkan Aisyah r.a. berkata, "Saya tidak melihat

Rasulullah SAW menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan

saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali

pada bulan Sya’ban." (HR Muslim).

 

Bulan Sya’ban adalah bulan dimana amal shalih diangkat ke langit. Rasulullah SAW bersabda:

 

Dari

Usamah bin Zaid berkata: Saya bertanya, "Wahai Rasulullah saw, saya

tidak melihat engkau puasa di suatu bulan lebih banyak melebihi bulan

Sya’ban." Rasul saw bersabda, "Bulan tersebut banyak dilalaikan

manusia, antara Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan diangkat amal-amal

kepada Rabb alam semesta, maka saya suka amal saya diangkat sedang saya

dalam kondisi puasa." (Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Huzaimah)

 

Namun,

ada hadits lain yang melarang puasa Sya’ban jika sudah masuk setengah

bulan menuju Ramadhan. Kecuali yang biasa puasa Senin Kamis. Jadi pada

prinsipnya dianjurkan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban tapi jangan

disamakan dengan bulan Ramadhan.

 

Sumber : Eramuslim.com

http://iskandarhaniya.blogspot.com