SEMBUH DARI PENYAKIT BERAT DENGAN ZIKIR SUBHANALLAH (Kisah Nyata)

Sabtu, 22 September 2018 | 09:25:22

SEMBUH DARI PENYAKIT BERAT DENGAN ZIKIR SUBHANALLAH (Kisah Nyata)

 

Menyebut dirinya sebagai si Raja Penyakit, H. Zaini Ma’ruf yang berdomisili di Jombang, tepatnya Ds. Segodorejo, Kec. Sumobito pernah mengalami berbagai penyakit dari yang ringan sampai yang berat, tapi itu dulu kini beliau menjadi pria yang sehat diusianya yang sudah diatas 60 tahun. Sebelum kisah ini kita simak, ada baiknya kita baca dulu hadits Rosulullah SAW:

Dari Abu Dzar rodhiallohu ‘anhu dia berkata: Ada sekelompok sahabat Rasulullah melapor, “Wahai Rasulullah orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka sholat sebagaimana kami sholat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya.” Beliau bersabda, “Bukankah Alloh telah menjadikan bagi kalian apa-apa yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya pada setiap tasbih ada sedekah, pada setiap tahmid ada sedekah dan pada setiap tahlil ada sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan mendatangi istrimu juga sedekah.” Mereka bertanya. “Wahai Rasulullah, apakah jika seseorang memenuhi kebutuhan syahwatnya itu pun mendatangkan pahala?” Beliau bersabda, “Apa pendapatmu, bila ia menempatkan pada tempat yang haram, bukankah ia berdosa? Demikian pula bila ia menempatkan pada tempat yang halal, ia akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)

Beliau mengisahkan ditahun 1977 mengalami sakit aneh, karena sakit ini jarang terjadi tapi nyatanya menimpa beliau yaitu sakit yang menyerang pencernaan, pencernaan yang tidak mau mencerna apapun, artinya bila H. Zaini memakan sebutir nasi tanpa dikunyah maka yang keluar besok pagi ya sebutir nasi utuh tanpa ada yang berubah sedikitpun, sudah berupaya diobatkan dari satu Rumah Sakit Ke Rumah Sakit lainnya tapi tak kunjung ada hasil, bahkan para dokter bingung karena obat tablet yang dimasukkan keluar utuh tanpa memberi efek apapun.

Orang kampung menyebut H. Zaini terkena santet, tenung, guna-guna dan sejenisnya sampai dibawa ke “orang pinter”, waktu berganti dan H. Zaini pun tak kunjung sembuh sampai hartanya yang selama ini dikumpulkan dari prosfesinya sebagai guru Pegawai Negeri habis dan hanya tinggal rumah yang ditempati, ya.. tak ada lagi biaya untuk berobat.

Orang tua beliau di Yogyakarta yang melihat kondisi anaknya benar-benar iba, tak tega rasanya melihat anaknya diterpa derita yang memilikan, bayangkan tubuhnya tinggal “longlit” balong sama kulit (tulang sama kulit) sangat kurus, tiada daya, sangat lemah bahkan sekedar untuk bisa bersuara.

Maka setelah berunding dengan keluarga di Jombang, disepakati H. Zaini dibawa ke Yogyakarta untuk diusahakan berobat dengan sedikit biaya yang dimiliki orang tuanya, karena diam-diam ibunya siap menjual sebidang tanah untuk anaknya berobat. Si ibu mengatakan kepada keluarga di Jombang, “mudah-mudahan Allah memeberi kesembuhan saat berobat di Yogya, andaikata dia dipanggil oleh Allah, biarlah asal saya bisa diberi kesempatan berada didekatnya”.

Berangkatlah H. Zaini ke Yogya dan seterusnya dibawa ke RS Umum (saya lupa namanya), langsung di rawat inap dan singkat cerita disinilah beliau bertemu dengan dr. A.H. Asdi yang dikemudian hari mengantar kesembuhannya. Dokter itu mengatakan:

“P Zaini, penyakit bapak ini namanya syndrom Sistolic (saya agak lupa nama penyakitnya) dan tidak mungkin bisa disembuhkan di RS ini, kalaupun saya habiskan seluruh obat yang ada disini bahkan saya tambah dengan seluruh obat yang ada di Apotek seluruh Yogya anda tidak mungkin sembuh,”

Seluruh keluarga tampak lemas mendengar penjelasan dokter tersebut, H. Zaini berkata:

“lalu bagaimana dokter, adakah jalan lain atau apakah saya pulang saja menunggu kematian.”

Dr. A.H. Asdi melanjutkan:

“antara sakit dengan kematian tidak ada hubungannya, orang mati karena jatah hidupnya habis, untuk bapak masih ada harapan, datanglah nanti malam dirumah saya, mudah-mudahan disana bapak menemukan obatnya”

Setelah meminta pulang paksa, datanglah H. Zaini yang makin lemah itu bersama keluarga ke rumah dokter A.H. Asdi sesuai alamat yang diberikan tadi siang. Tapi terkejut seluruh keluarga bahwa ternyata tempat praktek dokter terdapat tulisan TUTUP, lalu dimana mesti bertemu? Seluruh rombongan bertanya-tanya. Mendengar suara mobil diluar pekarangannya dokter segera keluar dan mempersilahkan masuk, bukan ketempat praktek tapi kerumah beliau. Ternyata dirumah itu telah ada beberapa orang yang lain yang kelihatannya bukan berobat tapi ngaji (Tadarus/membaca Al Qur’an bergantian). H. Zaini yang datang ditandu segera diberi tempat, dan dokter yang tampak penyabar dan faham agama tersebut mendekat.

“P. Zaini apakah bapak masih ingin sembuh?” tanya dokter,

“ya dokter,” jawab H. Zaini,

“pernakah bapak berzikir Subhanallah” tanya dokter lagi.

“sering dok,” jawab H. Zaini dengan bibir gemetar

“coba saya ingin tau” sambung dokter

“Subhanallah” H. Zaini mencoba

“belum-belum, itu belum zikir itu baru berkata” sela dokter.

“orang yang berzikir Subhanallah harus membersihkan segala prasangka buruknya kepada  Allah, memahami bahwa Allah itu suci dari kesalahan, ketidak tepatan, apalagi kezaliman, dan anda masih menyimpan perasaan itu, ceritakan kepada saya, apa yang membuat anda berfikir bahwa Allah tidak adil” desak dokter.

“begini dok, empat tahun yang lalu anak laki-laki saya meninggal tanpa sakit, dia ganteng, pinter dan meninggal mendadak tanpa tanda-tanda apapun, waktu itu seluruh keluarga sedih menangis dan berduka, adapun saya tidak menangis sedikitpun, tapi diam-diam saya berfikir bahwa Allah tidak adil, mengapa anak saya yang dipanggil padahal saya sudah berusaha taat kepada Nya.” Dengan meneteskan air mata H. Zaini menceritakan panasnya hati dengan taqdir yang menurutnya tidak adil.

“nah inilah sebab penyakit bapak, kini berfikirlah bahwa Allah hanya memberi rencana baik kepada orang-orang baik, dan bapak adalah orang baik, kini zikirkanlah subhanallah dengan bertaubat dan meyakini bahwa Allah pasti memberi kebaikan kepada bapak, bukan keburukan” nasehat dokter.

“subhanallah, subhanallah...” H. Zaini berzikir,

“belum” kata dokter,

“subhanallah, subhanallah, subhanallah... “ sampai sekitar zikir yang kesembilan dokter berkata “teruskan!”

Hingga kira kira zikir ke dua belas atau tiga belas H. Zaini tertidur.

              

Maka seluruh keluarga pun ikut menginap, dan ketika waktu subuh menjelang H. Zaini dibangunkan, sebelum itu dokter berpesan pada keluarga bahwa apapun yang terjadi semuanya hendaknya diam. “pak Zaini bangun ini sudah subuh,”

Setelah terbangun H. Zaini bertanya; “dimana tempat wudlu?”

“itu pak, anda lurus kemudian belok kiri,” jawab dokter. Anggota keluarga ingin membantu H. Zaini berdiri, tapi dokter memberi isyarat supaya diam saja, dan ajaib, H. Zaini berdiri sendiri. Kemudian setelah itu beliau berjama’ah dibelakang dokter. Setelah selesai sholat dokter A.H. Asdi menepuk lutut H. Zaini kemudian bertanya; “siapa yang mengantar bapak ketempat wudlu, siapa yang membantu bapak berdiri saat sholat subuh tadi”

“Berarti saya sembuh dok?” H. Zaini menyela,

“pulanglah pak Zaini dan teruslah berfikir bahwa Allah hanya memberi rencana baik pada hamba-hamba Nya yang baik”

Haji Zaini pun pulang dan berangsur pulih, kembali ke Jombang Sumobito dan kini beliau hidup lebih baik, hartanya yang hilang habis untuk berobat kini telah kembali, beliau punya mobil dan berani menyopir sendiri. Inilah kisah si Raja penyakit yang sembuh dengan ZIKIR “SUBHANALLAH”.  Marilah menjadi hamba yang senantiasa berdzikir:

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka (QS. Ali Imran: 191)

Semoga kita juga diajari oleh Allah untuk menjadi hamba yang senantiasa Husnudzon kepada Allah SWT. Amin ya Rabb.

http://wwwnasehat-agama.blogspot.com