SEHAT DENGAN TAHAJUD

Senin, 19 November 2018 | 09:43:29

SEHAT DENGAN TAHAJUD

 

biarlah jenggot mu tumbuh

Segala puji bagi Allah saja, shalawat dan salam tetap tercurah pada Nabi Muhammad

yang tidak ada Nabi lagi setelahnya.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam shahih keduanya dan juga selain mereka :

 

عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ قَالَ : خَالِفُوا الْمُشْرِكِيْنَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا

الشَّوَارِبَ. ﴿ البخاري

 

Dari Nafi’ dan Ibnu Umar radliyallahu 'anhuma berkata : Telah bersabda Rasulullah bersabda :

“Bedakanlah kalian dengan orang-orang musyrik, yaitu banyakkanlah jenggotmu dan

pangkaslah kumismu.

وَلَهُمَا عَنْهُ أَيْضًا : أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَوْفُوْا اللِّحَى. وَفِيْ رِوَايَةٍ : انْهَكُوا الشَّوَارِبَ

وَأَعْفُوا اللِّحَى.

 

Diriwayatkan juga oleh keduanya dari Abdullah bin Umar radliyallahu 'anhuma :

“Pangkaslah kumis kalian dan biarkan jenggot kalian tumbuh.” Dalam suatu riwayat lain :

“Cukurlah kumis kalian dan biarkan tumbuh jenggot kalian.”

adalah nama rambut yang tumbuh pada kedua pipi dan dagu.

Berkata Ibnu Hajar :

وفروا  dengan tasydid di fak-nya :  وَفِّرُوْا

Berasal dari ﴾ التّوْفِيْرُ ﴿ : Yaitu membiarkan, maksudnya biarkanlah banyak.

Dan ﴾ إِعْفَاءُ اللِّحَى ﴿ : Yaitu biarkanlah sebagaimana adanya.

Adapun perintah untuk menyelisihi orang-orang musyrik sebagaimana dijelaskan oleh hadits

dari Abi Hurairah radliyallahu 'anhu :

“Sesungguhnya orang musyrik itu, mereka membiarkan kumis mereka tumbuh dan

mencukur jenggot mereka. Maka bedakanlah dengan mereka yaitu biarkanlah jenggot

kalian tumbuh dan cukurlah kumis kalian.” (Diriwayatkan oleh Al Bazzar dengan sanad

yang hasan)

Dari Abu Hurairah juga diriwayatkan oleh Muslim :

Rasulullah  bersabda : “Bedakanlah kalian dengan orang-orang Majusi, karena

sesungguhnya mereka (orang-orang Majusi) memendekkan jenggot dan memanjangkan

kumisnya.”

Ibnu Hibban meriwayatkan dari Ibnu Umar radliyallahu 'anhu, dia berkata :

Rasulullah  telah menyebutkan tentang orang-orang Majusi. Beliau bersabda :

“Sesungguhnya mereka memanjangkan kumis dan mencukur jenggot maka bedakanlah

kalian dengan mereka.” Lalu beliau (Rasulullah ) menampakkan pemotongan kumisnya

kepadaku (Ibnu Umar).

Dari Abi Hurairah radliyallahu 'anhu berkata : Telah bersabda Rasulullah  : “Termasuk

fitrah Islam, memotong kumis dan membiarkan jenggot tumbuh. Sesungguhnya orang-orang

Majusi membiarkan kumisnya dan mencukur jenggotnya. Maka bedakanlah dengan

mereka, yaitu pangkaslah kumis kalian dan biarkanlah tumbuh jenggot kalian.”

Di dalam Shahih Muslim dari Ibnu Umar radliyallahu 'anhuma dari Nabi sesungguhnya

beliau bersabda :

 

أُمِرْنَا بِإِحْفَاءِ الشّوَارِبِ وَإِعْفَاءِ اللِّحْيَةِ.

 

“Kami diperintah untuk memangkas kumis dan membiarkan tumbuh jenggot.”

Diriwayatkan pula oleh Muslim dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu, bersabda Rasulullah

:

جَزُّوْا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى.

 

“Potonglah kumis kalian dan panjangkanlah/biarkanlah jenggot kalian.”

Makna ﴾ جَزُّوْا ﴿ dan ﴾ قَصُّوْا ﴿ adalah potonglah.

Dan makna ﴾ أَرْخُوا ﴿ dan ﴾ طَيّلُوْا ﴿ adalah panjangkanlah atau diartikan juga,

biarkanlah.

Hadits-hadits yang diriwayatkan dengan lafadh ﴾ قَصُّوْا = pangkaslah ﴿, maka :

Tidak meniadakan ﴾ اْلإِحْفَاءُ = mencukur ﴿.

Karena sesungguhnya riwayat ﴾ اْلإِحْفَاءُ ﴿ ada di dalam Bukhari-Muslim dan sama

maksudnya.

Dalam suatu riwayat :

أَوْفُوْا اللِّحَى

“Biarkanlah/banyakkanlah jenggot kalian.”

Maksudnya : “Biarkanlah jenggot kalian penuh.”

 

Hukum Memotong, Mencabut, Atau Mencukur Jengot

 

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah : “Diharamkan mencukur jenggot.”

Berkata Al Qurthubi rahimahullah : “Tidak boleh memotong, mencabut, dan mencukurnya.”

Abu Muhammad Ibnu Hazm menceritakan bahwa menurut ijma’, menggunting kumis dan

membiarkan jenggot tumbuh adalah fardlu dengan dalil hadits Ibnu Umar radliyallahu 'anhu

:

“Bedakanlah kalian dengan orang-orang musyrik, cukurlah kumis dan biarkanlah jenggot

kalian tumbuh.”

Dan dengan hadits Zaid bin Arqam secara marfu’ (sampai kepada Rasulullah ) :

“Barangsiapa yang tidak memotong kumisnya maka bukan termasuk golongan kami.”

(Dishahihkan oleh At Tirmidzi)

Dengan dalil yang lain, Tirmidzi berkata di dalam Al Furu’ : “Bentuk kalimat ini menurut

shahabat kami (yang sepakat dengan Tirmidzi) menunjukkan keharaman.” Dan berkata

pula dalam Al Iqna’ : “Haram mencukur jenggot.”

Diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma, Nabi b bersabda :

“Barangsiapa membikin seperti rambut maka tidak ada baginya di sisi Allah bagian.”

Berkata Zamakhsyari : “Maknanya membikin rambut seperti yang asli (rambut palsu),

yaitu dengan mencabutnya atau mencukurnya dari kedua pipi atau merubahnya dengan

menghitamkan.”

Berkata pula Zamakhsyari dalam An Nihayah :

مَثّلَ بِالشّعْرِ ﴾﴿ : Yaitu mencukurnya dari kedua pipi dan dikatakan mencabutnya atau

merubahnya dengan hitam.

 

Larangan Dan Bahaya Menyerupai Orang Kafir

 

Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Abi Hurairah radliyallahu 'anhu, dia berkata :

Telah bersabda Rasulullah bersabda : “Biarkanlah jenggot kalian tumbuh dan cukurlah kumis

kalian dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yahudi dan nashara.”

Al Bazzar telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma secara marfu' :

“Janganlah kalian menyerupai orang-orang Ajam, biarkanlah tumbuh jenggot kalian.”

Abu Daud meriwayatkan dari Ibnu Umar radliyallahu 'anhu dia berkata :

Telah bersabda Rasulullah bersabda : “Barangsiapa menyerupai dengan suatu kaum maka dia

termasuk golongan mereka.”

Dan riwayat Abu Daud dari Amr bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya dari Rasulullah bersabda,

Nabi bersabda :

“Bukanlah termasuk golongan kami barangsiapa yang menyerupai selain kami, janganlah

kalian menyerupai orang-orang yahudi dan nashara.”

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah : “Maka bedakanlah diri dengan

mereka (yahudi dan nashara) Adalah perintah yang dikehendaki oleh pembuat syariat

(Allah).”

Penyerupaan pada dhahir akan berpengaruh/menimbulkan kasih, cinta, dan kesetiaan

dalam batin sebagaimana kecintaan dalam batin akan berpengaruh/menimbulkan

penyerupaan dalam dhahir dan ini adalah masalah yang nyata, baik secara perasaan atau

dalam praktik nyata.

Penyerupaan dengan mereka pada perkara yang tidak disyariatkan bisa jadi sampai pada

pengharaman atau termasuk dosa dari dosa-dosa besar (Al Kabair) dan terjadinya kekafiran

sesuai dengan dalil syar'iyyah.

Sungguh Al Qur'an dan As Sunnah serta ijma' telah menunjukkan perintah untuk

menyelisihi orang-orang kafir dan melarang menyerupai mereka secara keseluruhan.

Suatu perkara yang diduga sebagai tempat terjadinya kerusakan yang terselubung (dimana

hal tersebut) tidak ditegaskan (oleh syar'i) berarti ketetapan hukumnya dikaitkan pada

perkara di atas dan dalil tentang pengharamannya telah mengena (tidak terlepas) dari

masalah tersebut. Maka menyerupai mereka dalam bentuk dhahir merupakan penyebab

penyerupaan dalam akhlak, perbuatan-perbuatan yang tercela, bahkan sampai pada i'tiqad

 

(keyakinan). Sedang pengaruh dari yang demikian itu tidak ditegaskan (oleh syar'i). Dan

kerusakan itu sendiri --yang dihasilkan dari sikap penyerupaan-- terkadang hal tersebut

tidak nampak dan terkadang sulit (untuk dihindari) atau tidak mudah untuk dihilangkan.

Maka segala sesuatu yang menyebabkan pada kerusakan (fasaad), pembuat syariat (Allah

‘Azza wa Jalla) mengharamkannya.

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Umar radliyallahu 'anhu :

“Barangsiapa yang menyerupai mereka sampai meninggal (mati) dia akan dibangkitkan

bersama mereka.”

Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah  bersabda :

“Bukanlah termasuk golongan kami barang siapa yang menyerupai selain kami, janganlah

kalian menyerupai orang-orang yahudi dan nashrani. Sesungguhnya cara salamnya orang-orang

yahudi dengan isyarat jari-jemari dan cara salamnya orang-orang nashrani dengan

telapak tangan.”

Ada tambahan dari sisi Thabrani :

“Janganlah kalian mencukur jambul (rambut yang tumbuh di kepala bagian depan),

pangkaslah kumis kalian, dan biarkanlah jenggot kalian tumbuh.”

Umar radliyallahu 'anhu memberi syarat (tanda) atas orang-orang kafir dzimmah supaya

mencukur rambut yang tumbuh di kepala bagian depan untuk membedakan mereka dengan

orang-orang Muslim. Maka barangsiapa mengerjakan yang demikian itu, sungguh telah

menyerupai mereka.

Di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan :

“Sesungguhnya Rasulullah b melarang dari Al Qazu', yaitu mencukur rambut di kepala

sebagian dan meninggalkannya sebagian.”

Dari Ibnu Umar radliyallahu 'anhu :

“Tentang (mencukur rambut) kepala, cukurlah keseluruhan atau tinggalkanlah.”

(Diriwayatkan oleh Abu Daud)

Mencukur rambut pada bagian belakang dari kepala (tengkuk) tidak boleh bagi orang yang

tidak mencukur rambutnya keseluruhan dan tidak ada suatu kepentingan dengan

mencukurnya itu. Karena yang demikian itu termasuk perbuatan orang-orang majusi. Dan

barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.

Telah meriwayatkan Ibnu ‘Assakir dari Umar radliyallahu 'anhu :

 

“Mencukur rambut pada bagian belakang kepala (tengkuk) bukan karena berbekam adalah

perbuatan majusi.”

Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencegah untuk mengikuti hawa nafsu mereka. Maka Allah

Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya

(sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia)

dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al Maidah : 77)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman kepada Nabi b :

“Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu,

sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang dhalim.” (QS. Al

Baqarah : 145)

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah : “Mengikuti mereka pada perkara

yang mereka khususkan dari agama mereka. Dan mengikuti agama mereka berarti

mengikuti hawa nasfu mereka.”

Ibnu Abi Syaibah telah meriwayatkan bahwasanya salah seorang dari majusi datang kepada

Rasulullah , dia sungguh telah mencukur jenggotnya dan memanjangkan kumisnya. Maka

bertanya Rasulullah  pada orang tersebut, apa yang menyebabkan berbuat demikian, dia

menjawab : “Ini agama kami.” Bersabda Rasulullah  (adalah jenggot beliau penuh dari

sini sampai sini dan menunjuk tangannya pada Rasulullah ) : “Akan tetapi pada agama

kami, yaitu memangkas kumis dan membiarkan jenggot tumbuh.”

Harits bin Abi Usamah telah mengeluarkan dari Yahya bin Katsir, dia berkata : Telah datang

seorang laki-laki 'ajam ke masjid dan sungguh dia telah memanjangkan kumisnya dan

menggunting jenggotnya. Maka bersabda (bertanya) Rasulullah  pada orang tersebut :

“Apa yang membawa kamu (menyuruh kamu) atas ini?” Maka orang tersebut menjawab :

“Sesungguhnya rab (raja) saya yang memerintah saya dengan ini.” Maka Rasulullah

bersabda : “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan agar memanjangkan jenggot dan

memangkas kumis saya.”

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Zaid bin Habib kisahnya dua utusan kisra (kaisar), berkata

Zaid bin Habib : Telah masuk dua utusan tersebut kepada Rasulullah b dan sungguh

keduanya telah mencukur jenggot dan memelihara kumisnya, maka Rasulullah

memandang dengan benci kepada keduanya dan bersabda : “Celakalah kalian berdua.

Siapakah yang menyuruh kalian dengan ini.” Kedua orang tersebut menjawab : “Yang

memerintahkan kami adalah rab kami (yaitu kaisar).”

Maka bersabdalah Rasulullah

 :

“Akan tetapi Rabbku memerintahkan untuk memelihara jenggotku dan memotong

kumisku.”

Muslim meriwayatkan dari Jarir radliyallahu 'anhu, ia berkata :

“Adalah Rasulullah  banyak rambut jenggotnya.”

Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Umar radliyallahu 'anhu : “(Rasulullah ) itu tebal

jenggotnya.” Dan dalam suatu riwayat : “Banyak jenggotnya.” Dan dalam riwayat lain :

“Lebat jenggotnya.”

Dari Anas radliyallahu 'anhu : “Adalah Rasulullah , jenggotnya penuh dari sini sampai sini

--menunjuk dengan tangannya pada lebarnya--.”

Sebagian ahli ilmu membolehkan (memberikan keringanan) dalam masalah mengambil

(memotong) jenggot yang lebih dari genggaman dengan dasar yang dilakukan oleh Ibnu

Umar radliyallahu 'anhu1. Namun kebanyakan ulama membencinya (mengambil yang lebih

dari genggaman). Dan ini sudah jelas dengan (keterangan) yang terdahulu.

Berkata Imam Nawawi rahimahullah : “Yang terpilih yaitu membiarkan atas keadaannya,

yakni tidak memendekkan sesuatu dari jenggot secara asal.”

Al Khatib telah mengeluarkan dari Abi Said radliyallahu 'anhu bahwa : Bersabda Rasulullah

“Janganlah salah satu di antara kalian memotong dari panjang jenggotnya.”

Dalam kitab Ad Darul Mukhtar disebutkan : “Adapun memotong dari jenggot itu bukan

menggenggam sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Maghrib dan para banci dari

kaum laki-laki, maka tidak seorang pun yang membolehkannya.”

1 Hujjah ada dalam riwayat, bukan pada pendapatnya. Tidak ragu lagi bahwa sabda Rasulullah Shallallahu

‘Alaihi Wa Sallam dan perbuatannya lebih benar dan lebih utama untuk diikuti daripada perkataan dan

perbuatan selain beliau dari manusia yang ada ini. Dengarkanlah salah satu dari kasetnya Al Allamah Al

Muhaddits Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani tentang bahasan ini.

 

Pada Diri Rasulullah Adalah Suri Tauladan Yang Baik

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu)

bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak

menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab : 21)

Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia dan apa yang dilarangnya

bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al Hasyr : 7)

Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu

berpaling daripada-Nya sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya). Dan janganlah

kamu menjadi orang-orang (munafik) yang berkata : “Kami mendengarkan.” Padahal

mereka tidak mendengarkan.” (QS. Al Anfal : 20-21)

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan

atau ditimpa adzab yang pedih.” (QS. An Nur : 63)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti

jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan

yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan dia ke dalam jahanam dan jahanam itu

seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa' : 115)

Allah ‘Azza wa Jalla memperindah para laki-laki dengan jenggot. Dan diriwayatkan termasuk

tasbihnya para Malaikat :

“Maha Suci (Allah) yang telah menghiasi orang laki-laki dengan jenggot.”

Dikatakan di dalam At Tamhid :

“Haram mencukur jenggot, tidaklah ada yang berbuat demikian (mencukur jenggot) kecuali

banci dari (kalangan) laki-laki.”

Imam Nawawi rahimahullah dan yang lain berkata :

 

· Jenggot adalah perhiasan laki-laki dan merupakan kesempurnaan ciptaan.

· Dengan jenggot, Allah membedakan antara laki-laki dan perempuan dan termasuk

tanda-tanda kesempurnaan, maka mencabut pada awal tumbuhnya adalah

menyerupai anak laki-laki yang belum tumbuh jenggotnya dan merupakan

kemungkaran yang besar.

Demikian juga mencukur, menggunting, atau menghilangkan dengan obat penghilang

rambut termasuk kemungkaran yang paling jelas dan kemaksiatan yang tampak

nyata, menyelisihi perintah Rasulullah serta terjerumus kepada perkara yang

Rasulullah  melarangnya.

Telah berkata dan bersaksi bahwa seorang laki-laki yang mencabut rambut di bawah

bibirnya di sisi Umar bin Abdul Aziz maka beliau menolak persaksiannya. Umar bin

Khaththab radliyallahu 'anhu dan Ibnu Abi Layla (seorang qadli di Madinah) menolak

persaksian semua orang yang mencabut jenggotnya. Berkata Abu Syamah : “Sungguh telah

terjadi pada suatu kaum yang mereka itu mencukur jenggotnya dan kejadian ini lebih parah

dari apa-apa yang terdapat pada Majusi (yang mereka itu memendekkan jenggot dan

memanjangkan kumisnya) disebabkan mereka mencukur jenggotnya.”

Ini pada jaman Abu Syamah rahimahullah, bagaimana seandainya jika beliau melihat masa

sekarang (dimana) lebih banyak orang yang melakukannya.

Apa yang menimpa mereka? Dilaknati Allah-lah mereka. Maka bagaimana mereka

berpaling?

Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan mereka mencontoh Rasul-Nya sementara mereka

menyelisihinya dan mereka bermaksiat kepadanya. Mereka mencontoh orang-orang Majusi

dan orang-orang kafir. Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan mereka agar taat kepada Rasul-

Nya dan sungguh telah bersabda Rasulullah  :

أعْفُو اللِّحَى

“Peliharalah jenggot.”

Sementara mereka bermaksiat kepada Rasulullah b dan mereka bermaksud dengan

sengaja mencukur jenggotnya.

Rasulullah  memerintahkan untuk mencukur kumis, mereka memanjangkannya, mereka

melakukan yang sebaliknya. Mereka bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla secara terangterangan

dengan melakukan apa yang tidak tepat pada tempatnya.

Dan yang Allah ‘Azza wa Jalla memperindah dengannya adalah paling mulia dan indahnya

sesuatu dari manusia.

“Maka apakah orang yang dijadikan (syaithan) menganggap pekerjaannya yang buruk itu

baik (sama dengan orang yang tidak ditipu syaithan)? Maka sesungguhnya Allah

 

menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.”

(QS. Faathir : 8)

Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada Engkau dari butanya hati, kotornya dosadosa,

kehinaan dunia, dan siksa akhirat.

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orangorang

pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa pun. Kalau kiranya Allah mengetahui

kebaikan ada pada mereka tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan

jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar niscaya mereka pasti berpaling juga

sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu).” (QS. Al Anfal : 22-

23)

Dan dalam hal ini cukuplah bagi orang yang mempunyai hati dan mendengarkan serta dia

dalam keadaan menyaksikan.

Firman Allah ‘Azza wa Jalla :

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka dialah yang mendapat petunjuk dan

barangsiapa yang disesatkan-Nya maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin

pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al Kahfi : 17)

وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

http://islamananindah.blogspot.com