Perjalanan Menghafal Al Quran Seorang Akhwat Yang Divonis Tumor Otak

Rabu, 15 Mei 2019 | 09:12:04

Perjalanan Menghafal Al Quran Seorang Akhwat Yang Divonis Tumor Otak

 

Kisah ini bertutur tantang bukti nyata mukjizat Al-Qur’an sebagai penyembuh segala penyakit. Menceritakan pengalaman seorang gadis yang menderita tumor otak, namun ia mampu meluangkan waktu dan bertekad kuat mengkhatamkan hafalannya sebelum ajal menjemput. Subhanallah

Aminah nama gadis itu, dia menuturkan, ” Aku adalah wanita yang dulu kuduga bahwa diriku sudah meninggal sebelum lahir. Karena saya menghadapi beberapa musibah yang beragam dalam hidupku. Sesuatu yang tidak terbayangkan dalam benak.

Namun Alhamdulillah, keyakinanku pada Allah semakin kuat. saat saya bingung memaknai kehidupan sekelilingku, saya berserah diri kepada-Nya. Saya mengidap penyakit tumor otak, tidak terlalu buruk , tapi penyakit itu mengerikan. Penanganan terus dilakukan, namun tidak ada tanda tanda baik selama 4 tahun.

Terakhir kali saya mengunjungi dokter, mataku merasakan dunia tampak gelap disebabkan akhir pemvonisan. Kabar yang selamanya tidak menyenangkan. Lalu, saya putuskan untuk menghafal Al-Qur’an. Berniat menghafalnya sebelum saya mati, karena saya merasa ajalku telah dekat.

Aku memulai hafalan sendiri. Kadang semangatku melemah, karena saya yakin memaksakan otak dengan hafalan bisa menambah ganas nya penyakit. Namun saya tetap memuji Allah siang malam karenanya. Saya terus menyelesaikan setiap juz, ada kebahagiaan terbesar saat menyelesaikannya. Perasaan senang melupakan penyakitku sekalipun saya juga sibuk membantu Ayah-ibu.

Keinginan untuk tidur selalu menyerangku namun saya khawatir waktuku akan habis percuma. Maka saya berserah diri pada Allah. segenap diriku yakin akan terjauh dari setan. Dan saya mengalahkannya dengan memperbanyak wudhu, banyak bergerak dan pantang mundur, saya tetap menghafal  dan tetap meminta bantuan Allah dengan shalat dan istighfar.

Tangisku tiba-tiba mengucur deras, merasa dalam waktu dekat saya akan mati. Karena itu, saya harus menghafal Al-Qur’an sampai bertemu  Allah dengan kitab-Nya, mudah-mudahan Dia mengampuniku. Aku sempurnakan perjalanan hafalan. Saya berpindah dari halaman ke halaman dan dari baris ke baris. Pada saat bersamaan saya melawan sakit, melawan bisikan setan dan nafsuku sendiri.

Tapi, dengan apa saya menghadap Allah rabbil ‘alamin ? saya mengharap penolong .. saya ingin penghibur dalam kuburku. Kubur itu sunyi. Jika semangatmu melemah, dengan cara apa saya berbakti kepada kedua orang tuaku, saya berharap memuliakan mereka di Hari Kiamat dengan mahkota. Bukankah mereka begitu memperhatikan sakit yang saya derita? Begitulah, saya juga selalu teringat perkataan malaikat nanti “Bacalah dan naiklah,” Maka tinggi dan luhur lah niatku.

Saya sempurnakan pelajaran hafalan … hari-hari berlalu, sedang saya bersungguh-sungguh, sampai akhirnya datang suatu malam. Saya putuskan untuk tidak tidur sebelum menghafal. Saya berwudhu, lalu shalat 2 rakaat, dan mulai menghafal. Dan pada malam itu dengan karunia-Nya, Allah membuka pintu hatiku lebar-lebar. Saya menghafal dengan puncak konsentrasi dan kebahagiaan, dan akhirnya tampak olehku surat An-Nas, Ya Allah … Akhirnya saya sampai .. di sini saya mengucurkan air mata yang belum pernah terasa manis sebelumnya. Lalu saya menangis dari relung hati terdalam. Saya telah menghafal  sebagaimana orang yang diajukan untuk mendengar di depan para malaikat dan pemimpin orang-orang syahid. Kematian terbayang olehku terasa dekat. Tapi perasaanku tidak seperti dulu lagi, sekarang saya merasa senang, karena akan bertemu dengan-Nya sedang saya telah menghafal kitab-Nya.

Selang beberapa hari, saya pergi mengobservasi analisa tumor. Dan saya sudah dalam keadaan bersiap-siap menerima musibah, penyakit saya semakin parah. Namun saya ditimpa shock yang tidak pernah saya beyangkan sebelumnya. Dokter keluar mengabari analisis. Dokter tampak tercengang. Mereka berkumpul untuk menguatkan apa yang dilihat pada sinar-X . Saya duduk sambil berdoa, “Ya Allah, selamatkanlah musibahku. dan gantilah dengan yang lebih baik.”

Menit berlalu bagaikan tahun. Saya merasa down saat dokter mulai mengabari hasilnya. Dan, saya terperanjat shock saat dokter bilang, ” SubhanaAllah …, engkau sudah sembuh sempurna dengan proporsi tujuh puluh persen! ”

Allahu Akbar … Allahu Akbar

Ya Allah, alangkah Agungnya berita ini , saya mengharap kemajuan satu persen saja, namun Engkau ganti lebih. Seketika itu saya menangis dengan tangisan yang belum pernah kulakukan dalam hidupku. Maha benar firman-Nya, “Dalam Al-Qur’an ada penyembuh bagi manusia.”

SubhanaAllah …. Allah Maha Segalanya yang bahkan manusia pun tidak bisa memutuskan akan hidup seseorang jika Allah berkehendak ia belum saatnya bertemu dengan Rabb-nya! Ini nyata dialami oleh Aminah Al-Mi’thowi

_____________________________________________

Disalin dari buku yang berjudul ” Kisahku dalam menghafal Al-Qur’an. Penulis Muna Said Ulaiwa

https://nasywabalqees.wordpress.com