Otak Manusia dalam Presfektif Al Quran

Kamis, 21 Maret 2019 | 09:39:44

Otak Manusia dalam Presfektif Al Qur'an

 

 

Dalam psikologi kogntif, terdapat pembahasan yang membahas tentang neorosains kognitif, pembahasan yang lebih spesifiknya mengarah ke pembahasan tentang otak manusia, dalam hal ini, tentu keilmuan yang digunakan dalam membahas pelajaran yang seperti ini adalah keilmuan sains, lebih kearah faal dan kognitif, namun tahukah anda ?? bahwa jauh sebelum berkembang keilmuan sains dan sebagainya, Allah SWT sudah jauh terlebih dahulu menyinggung hal tersebut di dalam Al-Qur’an.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwa yang cocok dalam mempelajari desain dan struktur otak adalah keilmuan faal dan kognitif, namun Al-Qur’an sudah menyinggung secara global struktur dan fungsi otak. Dalam Al-Qur’an surah al alaq ayat 16 Allah SWT menyebutkan bahwa gambaran otak manusia adalah “naqshiyah” atau yang disebut dengan ubun-ubun, didalam ayat tersebut (Al Alaq 16) Allah menyifati naqshiyah “ubun-ubun/otak” dengan kata “kadzibatin khati’ah” yaitu yang mendustakan dan durhaka. Yang menjadi pertanyaannya adalah mengapa Allah mensifati “naqsiyah” tersebut dengan mendustakan dan durhaka ??

Ubun-ubun atau otak manusia adalah yang mengarahkan seluruh tindakan yang dilakukan oleh manusia, jika otak berkehendak, maka segalanya dapat dikerjakan, terlebih lagi jika otak menginginkan perbuatan-perbuatan yang tidak baik, hanya menuruti kehendak ID nya saja tanpa mempertimbangkan baik dan buruknya, maka bisa jadi seseorang tersebut melakukan semua hal yang diingankannya, semua itu kembali kepada otaknya. Ubun-ubun /otak merupakan bagian penganggung jawab atas segala tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu, sedangkan anggota tubuh yang lain hanya mengikuti apa yang dikehendaki dan diputuskan oleh ubun-ubun atau otak. Karena sebagian besar manusia hanya mementingkan kehendak hawa nafsunya saja tanpa mempertimbangakan baik dan buruknya, oleh sebab itu ubun-ubun yang merupakan pangkal dari semua aktivitas (terlebih lagi aktivitas yang melanggar dengan agama) yang dilakukan oleh manusia disifati oleh Allah dengan “kadzibatin khati’ah” yaitu pendusta dan durhaka.

Di era modern seperti di masa sekarang ini, segala macam ilmu pengetahuan berkembang dengan sangat pesatnya, terlebih lagi dalam keilmuan sains dan kedokteran. Di era modern sekarang, telah diketahui bahwa bagian depan otak atau yang disebut dengan frontal lobes yang ada di otak berfungsi untuk mengatur perilaku diri (self control), mengatur emosi seseorang, mengatur pengambilan keputusan dan pemecahan masalah (decition making, problem solving) terhadapat individu, hal ini mengindikasikan bahwa bagian otak inilah yang menjadikan individu berbuat dan berperilaku.

Secara tersirat Al-Quran memaknai otak/ubun-ubun dengan makna pendusta dan durhaka, hal ini ditujukan kepada orang-orang yang mengikuti segala macam keinginan hawa nafsunya tanpa mempertimbangkan apa saja yang ingin dikerjakannya. Segala macam keinginan yang diputuskan oleh otaknya dituruti begitu saja, maka kategori otak manusia yang semacam inilah yang masuk dalam golongan “kadzibatin khati’ah”, yaitu pendusta dan durhaka.

Tak salah memang bahwa Al-Quran adalah pangkal dari segala ilmu pengetahuan, Al-Quran yang diturunkan kepa Nabi Muhammad SAW 14 abad yang lalu sudah menyebutkan fungsi dan struktur otak secara global, jauh sebelum istilah flontal lobe ditemukan, Al-Qur’an sudah menyinggungnya dengan kata “nashiyah” yang berarti ubun-ubun, dan dalam bahasa modernnya di zaman sekarang adalah flontal lobe. Jika Al-Quran menyebutkannya dengan istilah flontal lobe, tentu orang-orang pada zaman dahulu tidak akan dapat memahaminya, dan setelah ilmu pengetahuan semakin berkembang dan muncul istilah flontal lobe, Al-Qur’an jauh-jauh hari telah menyinggung hal tersebut. Demikianlah Al-Quran telah menjelaskan dengan bahasa yang dapat dimengerti pada masa diturunkannya, dan sesuai dengan ilmu pengetahuan yang ditemukan pada zaman sekarang.

 

Wallahu A’lam

https://www.kompasiana.com