Muhasabah Amal Harian

Jumat, 20 Oktober 2017 | 08:59:56

Muhasabah Amal Harian
 

Sudah 30 hari kita melewati tahun baru hijrah. Mari kita renungkan, selama 30 malam di tahun 1439 H ini, berapa kali kita melewatkan malam-malam hanya dengan mata terpejam menikmati tiga lapis selimut setan, sehingga keutamaan tahajjud, wirid dan berdoa di sepertiga malam akhir terlewatkan? Andaikan kita tidak pernah melewatkannya, maka itu merupakan kesyukuran besar yang harus kita istiqamahkan. Namun, andaikan malam-malam akhir itu banyak kita lewatkan, atau bahkan selalu kita lewatkan, marilah bersegera memperbaiki diri untuk mendekat kepada-Nya, bermunajat kepada-Nya, dan bersujud menangis mengharap ampunan dan ridha-Nya.

Jika merenungkan keutamaan bangun pada sepertiga malam akhir masih terasa terlalu berat, mari kita beranjak untuk melihat shubuh kita. Ya, shubuh saja, belum tahajjud! Kapan dan di mana kita melaksanakan shalat shubuh selama 30 hari ini? Di awal waktu ataukah menundanya hingga menjelang matahari terbit? Kita laksanakan di masjid dengan berjamaah ataukah hanya di rumah? Sungguh, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menegaskan bahwa shalat terberat bagi kaum munafik adalah shubuh dan isya’. Maka jika kita masih merasa bermalas-malasan dalam hal pelaksanaan shalat shubuh dan isya’, itu merupakan tanda bahwa dalam diri kita masih bersemi benih-benih kemunafikan. Bukankah shalat shubuh berjamaah senilai shalat sepanjang malam, dan shalat isya’ berjamaah senilai shalat separo malam? Beruntunglah kita, jika kita senantiasa berjamaah dan sangat merugilah kita jika sering menyia-nyiakan fadhilahnya.

Setelah melihat kembali catatan amal harian kita dalam shalat shubuh, mari kita lihat pula 4 shalat lainnya dengan cara pandang yang sama. Berapa % dalam 30 hari di bulan Muharram ini kita laksanakan shalat-shalat tersebut di awal waktu dengan berjamaah? Prosentase tersebut menjadi barometer kecintaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, apakah kita benar-benar telah mencintai-Nya ataukah masih jauh dari kecintaan kepada-Nya.

Muharram juga memberi peluang bagi kita untuk melaksanakan puasa pada tanggal 9 (tasu’a) –ini merupakan hadits hammi, yaitu tekad dari Nabi yang tidak terlaksana karena wafat- dan 10 ( ‘asyura) -yang dahulu senantiasa dilaksanakan oleh Nabi-. Adakah kita kemarin melaksanakan keduanya atau ‘asyuranya saja? Kemudian tanggal 13, 14, 15 yang merupakan sunah puasa ayyam al biidh, apakah kita juga menyempatkan diri untuk menahan hasrat makan, minum dan syahwat kepada pasangan dengan berpuasa mencari ridha-Nya? Bagaimana pula dengan senin dan kamis? Sungguh, Rasululullah junjungan kita adalah pribadi yang sering melaksanakan puasa sunnah. Dan kita sebagai ummatnya, adakah tekad untuk beruswah dalam hal ini? Ataukah level kita masih pada tataran manusia yang setiap hari selalu berhasrat untuk memuaskan diri dengan makan dan minum dan belum ingin berniat untuk berpuasa sunnah?

Renungan di atas -tentang tahajjud, shalat berjamaah dan puasa sunah- adalah bagian dari muhasabah amal harian. Dan amal shalih bukan hanya itu. Kita bisa juga merenungkan sedekah kita, seberapa yang telah kita keluarkan? Kita renungkan pula omongan kita, masih banyakkah ghibah yang kita lakukan? Kita telisik pula mata kita, masih seringkah menatap yang diharamkan oleh Allah? Dan demikianlah, sebaiknya kita secara berkala melakukan muhasabah terhadap semua amal perbuatan kita, mumpung kehidupan masih setia bersama kita, mumpung tamu terakhir belum datang menghampiri kita. -Wallahu-l-musta’an-.

 

Ditulis Oleh: Abdul Rosyid

Pengasuh Pondek Pesantren Al Iman Muntilan