Menguak Tabir Rezeki

Sabtu, 21 Oktober 2017 | 08:27:03

Menguak Tabir Rezeki
 

Pintu rezeki itu luas sekali. Allah Ta’ala memberikan rezeki kepada semua makhluknya tanpa kecuali. Hanya saja, sebagian dilapangkan, dan sebagian disempitkan. Sebagian sangat dimudahkankan, sebagian hanya bisa untuk sekedar makan, dan bahkan ada yang untuk makan pun merasa kesulitan.

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُۥ كَانَ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرًا بَصِيرًا
"Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya." -Q.S. Al-Isra’: 30-

Tentu saja perbedaan dalam memberikan karunia rezeki tersebut, sesuai dengan qudrah dan iradah-Nya (kekuasaan dan kehendak-Nya) dan banyak hikmah yang sering kali tidak diketahui oleh manusia. Karena ketidaktahuan itulah, sebagian besar manusia tidak mau bersyukur atas karunia rezeki dari Allah, dan bahkan - نعوذ بالله- ada yang berprasangka buruk kepada-Nya. Adanya golongan yang kaya dan lebih banyak yang miskin, merupakan sunnatullah sejak zaman dahulu. Maka jika kita benar-benar mengenal siapa Allah beserta seluruh asma’ dan sifat-Nya, niscaya kita tidak akan pernah menuduh Allah dengan tuduhan yang tidak sepatutnya. Namun sebagaimana firman-Nya, وقليل من عبادي الشكور “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” -Q.S. Saba’: 13-, memang banyak manusia yang gagal faham dengan pembagian rezeki ini. Selalu ada alasan bagi mereka yang tidak mau bersyukur untuk banyak mengeluh dan seakan menafikan kemurahan Allah atas mereka.

Manusia diperintahkan untuk berusaha. Maka selama kita sudah memaksimalkan diri dalam berusaha sesuai dengan kapasitas yang kita miliki, seberapa pun rezeki yang kita dapatkan dari usaha tersebut, sebaiknya kita terima dengan penuh husnuzhzhan dan ridha kepada Allah. Bukankah kita sering mengucapkan wirid رضيت بالله رباً “Aku telah ridha Allah Tuhanku”? Kata “rabb” yang dimaknai Tuhan, sesungguhnya bermakna juga Pemilik, Pemelihara, Pengatur. Maka ikrar “radhitu billahi rabba”, sebaiknya juga kita maknai salah satunya sebagai kerelaan kita diatur oleh-Nya dalam segala hal, termasuk jatah rezeki untuk kita masing-masing.

Dari uraian singkat di atas, semoga kita mampu untuk senantiasa menikmati segala hal yang menjadi milik kita dan berusaha untuk tidak menginginkan apa yang menjadi milik orang lain. Saya yang ditakdirkan oleh Allah menjadi guru di Madrasah Aliyah Ponpes Al Iman Muntilan -umpamanya-, tidak perlu berkhayal dan berandai-andai menjadi seorang pebisnis yang rezekinya berlimpah ruah, memiliki tempat tinggal megah, berkendaraan mewah, dan lain sebagainya. Juga, saya yang pada usia memasuki 49 th ini, baru berkesempatan untuk “mencicipi” pendidikan magister smester III, tidak perlu iri kepada junior-junior saya yang sudah mencapai doktoral, menjadi dosen di PT, atau pun karir-karir lainnya.

Menikmati suratan takdir setelah kita berupaya makisimal, adalah kunci kebahagiaan hidup sesaat di dunia ini. Inilah tabir rezeki yang dibukakan untuk kita masing-masing. Dan itulah rezeki yang dibukakan untuk orang lain. Semua ada ketentuannya, dan semua akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di hari pembalasan. Bukankah Allah telah mengingatkan kita, ثم لتسئلن يومئذ عن النعيم “kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan itu”. -QS. Al Ma’un: 8-. Maksudnya adalah bahwa semua nikmat yang kita rasakan di dunia ini, niscaya akan dimintai pertanggungjawabannya. Semakin banyak nikmat/rezeki yang kita gapai, semakin banyak pula beban pertanggungjawaban yang akan diminta.

Sungguh, bahagia itu bukan terletak pada banyaknya rezeki dan tingginya status kita di dunia ini, namun bahagia itu terletak pada keridhaan kita pada pembagian-Nya.

 

Oleh: Abdul Rosyid

Pengasuh Pondok Pesantren Al Iman Muntilan