Mengantar anak menuju Dewasa

Jumat, 8 Desember 2017 | 09:49:54

Mengantar anak menuju Dewasa

Pemateri: Ustadz Fauzil Adhim

Tempat: aula Rumah Sajada

Orang belajar dikampus, sering mengalami mental terombang ambing, mengalami gejolak. orang-orang kalau melihat remaja, pasti pemikirannya negatif, geng motor, klitih, nakal, seks bebas. Pasti penanganannya berupa penyuluhan tentang seks bebas, narkoba, dll. Itu terjadi karena remaja tidak mempunyai arah hidup.

Perlunya Peran orang tua dalam mendampingi anak-anak, agar arahnya jelas.

Kalau anak dituntut pintar, misal ia lulusan IPA, lulusan Matematika, lulusan Agama sekali pun, tidak menjadikan hidupnya terarah, kalau ia tidak tahu arahnya. Walaupun ia belajar agama atau lulusan agama, tapi tidak menjadikan hidupnya terarah, berarti dia tidak tahu arahnya, karena yang menjadi patokan, bukan dia yang belajar agama atau lulusan agama, tetapi dia yang paling bertaqwa.

Jundub bin Abdillah mengatakan kepada tabi'in, (sebagian yang ditegur) karena ada dari kalangan tabi'in itu yang mengajari anaknya Al-qur'an, sebelum mengajari iman.

Diwaktu anak-anak, waktunya mereka senang-senangnya bermain, tapi tak hanya saja bermain tapi juga bermain sambil belajar.

Anak-anak perlu ditata keyakinannya, prinsip-prinsip hidupnya, pegangan pokok hidupnya, orientasi hidupnya.

Orientasi hidup berkenaan dengannya tiga kelompok hidup yakni:

1. Nduwe

2. Dadi

3. Apa yang paling berharga dicari, yang paling diwujudkan yaitu berbuat (ngelakoni amal shalih).

Orang tua menerapkan kepada anak-anak, kompetensi dengan arah hidup. orientasi ndak jelas maka akan terombang ambing, begitu menginjak usia remaja, wes ora karu-karuan, waktu kecil cerdas, remaja mengurung diri di kamar.

Ada yang kecanduan game, sampai menikah, sampai usia 4 tahun dari pernikahannya masih kecanduan dengan gadget, karena dia tidak tahu orientasinya. Dia menikah hanya sebagai penyenang sementara, dia kerja lalu pulang kerumah, makan, lalu menemui istrinya sebentar, lalu melanjutkan kesukaannya bermain game. Kenapa dia bisa menikah muda? Karena dilingkungannya menyuarakan untuk menikah di usia muda. Walaupun dia menikah, tapi dia tidak tahu tujuan dari pernikahannya tersebut. Dia menikah, hanya sebagai pemuas saja, karena di game, ada bonus di dalamnya, yaitu porno.

Yang membedakan orang tua dalam mendidik anak-anak

كلّ مولود يولد علي الفطرة، و انّما أبواه يهوّدانه او يمجّسانه او ينصرانه

kalau diidik dengan baik maka ia akan menjadikan anak yang baik, orang tua yang menentukan. Kuncinya adalah انّما أبواه

Orang tua bukan hanya akrab, tapi juga menginspirasi, buat anak tergugah, sampai apapun yang orang tua lakukan, anak akan mengikuti, walau itu hal-hal yang kecil.

Orang tua memiliki emosi, hubungan batin dengan keluarga, bukan hanya dekat dengan kedua orang tua.

Orang tua harus memiliki: حلم (kelembutan), عنح (tidak tergesa-gesa mengambil keputusan)

Jangan jatuhkan harga dirinya ketika menasihati, menanyakan suatu problemnya dengan baik-baik, berkala dan sabar, karena apa yang dilakukan oleh anak-anak itu dari orang tuanya.

Rasa takut terhadap orang tua itu ada dua macam:

1. Takut karena bapaknya keren,

2. Takut karena tresno, cinta, hormat, takut kalau membuat marah.

Anak bisa hormat kepada orang tua, karena anak mencintai, karena الرّفق (kelembutan) yakni kita berhubungan atau bergaul dengan anak ada keramahan didalamnya.

Anak enak diomongi karena ada فرقه, percaya, dan hormat.

Hormat akan menumbuhkan atau lebih mudah anak mengarahkan secara sadar mengenai prinsip, orientasi hidup, dan keyakinan, maka anak tidak akan terombang ambing, semoto, dan krisis.

Ada anak yang pernah mengalami krisis, tapi dia lebih tenang, mudah mengatasinya, bahkan bisa mendampingi teman-temannya yang bermasalah, karena orang tuanya yang mengasuhnya, dia diajari untuk bisa mengambil keputusan dengan mandiri.

Tetapi, orang tua tetap memberi arahan.

Wallahua'lam.

Ahad, 3 Desember 2017/ 14 Rabi'ul Awwal 1439 H