Mencengangkan Hasil Penelitian Darah Terapi Bekam

Senin, 11 Februari 2019 | 09:44:03

Mencengangkan Hasil Penelitian Darah Terapi Bekam

 

Di Inggris, Darah Terapi Bekam Telah diteliti Secara Mikroskopis

Bekam atau Al-Hijamah sebagai pengobatan wahyu yang memiliki banyak manfaat bagi manusia. Tentang pengobatan ini Rasululloh shallallohu ’alaihi wasallam pernah bersabda,

“Sesungguhnya pengobatan bagi kalian yang paling ideal adalah hijamah dan menggunakan Al-Qistul Bahry (air rebusan gandum).” (Bukhari, 2280 & Muslim, 2214)

Pernahkah terbayang di benak Anda, apa perbedaan antara darah yang keluar karena luka dan bekam? Ini adalah pertanyaan yang sangat umum, dan paling banyak muncul di benak setiap orang yang melihat proses bekam. Ada pula yang beranggapan bahwa, manfaat bekam itu tidak jauh berbeda dengan donor darah.

Perlu kiranya informasi yang penting untuk menjelaskan atau paling tidak memberikan bukti sederhana kepada mereka yang masih mempertanyakan manfaat bekam. Sebenarnya, memang ada perbedaan antara darah yang keluar karena bekam dan luka biasa. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Kathur Suhardi dalam pengantar buku terjemahannya, “Asy-Syifa min wahyil Anbiya”. Diterbikan oleh Pustaka As-Sabil, Jakarta (2004).

Beliau merasa heran, setelah melihat perbedaan darah yang keluar melalui jarum lancet darah, dengan darah yang keluar pada torehan bekam. Dalam hal ini alat toreh yang digunakan adalah pisau bedah. Saat itu, beliau menyaksikan perbedaan itu bersama temannya seorang dokter di Mesir. Dari peristiwa itu pula beliau menekankan bahwa praktek bekam itu sesungguhnya menggunakan torehan, bukan melalui tusukan. Sebagaimana hadits Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam.

“Kesembuhan itu terdapat pada tiga hal, yakni meminum madu, sayatan alat bekam dan kay dengan api. Sesungguhnya aku melarang umatku melakukan ’kay’.” (Shahih Bukhari, Ath-Thibb 1/5680)

Sedangkan di Inggris, sebuah asosiasi bekam internasional pernah mempublikasikan sebuah dokumentasi darah bekam dalam tinjauan mikroskopis. Secara umum digolongkan menjadi tiga bagian, yaitu sampel darah normal, sampel darah dengan polusi dan sampel darah yang sudah mengalami degeneratif (penuaan)

Perlu diketahui, bahwa setiap darah memiliki umur selama 120 hari. Dan akan mengalami regenerasi setelahnya. Darah memiliki sifat mengikat, misalnya terhadap gas karbon dioksida (CO2) dan oksigen (O2). Melalui fungsi inilah tubuh manusia mengalami proses metabolisme pertukaran gas karbon dioksida (CO2) dan oksigen (O2) agar mereka tetap bertahan hidup.

Namun, sifat mengikat darah ini tak hanya berfungsi untuk karbon dioksida (CO2) dan oksigen (O2) saja, melainkan juga terhadap senyawa asing atau polutan yang kita hirup di tempat terbuka.

Mengapa demikian? Karena ini adalah sifat metabolisme tubuh manusia. Ada manfaat penting disana, diantaranya senyawa asing yang menempel pada darah akan dibawa keliling setiap organ-organ, sampai menuju pada hepar yang akan berfungsi untuk menetralisir semua racun-racun.

Akan tetapi, walau bagaimanapun hepar merupakan organ yang rentan terhadap kerusakan. Belum lagi kini polusi udara yang semakin buruk serta penggunaan obat-obatan dapat mempercepat kerusakan organ penting itu.

Inilah diantara hikmah mengapa bekam sebagai pengobatan yang terbaik menurut Rasululloh shallallohu ’alaihi wasallam. Dan sangat dianjurkan untuk dilakukan secara rutin. Dalam rangka meningkatkan kualitas metabolisme pembuangan zat-zat yang merugikan tubuh.

Berikut ini adalah lampiran dokumentasi perbedaan sampel darah pada tiga kondisi yang berturut-turut dari sampel darah normal, darah dengan polutan, dan darah yang mengalami degeneratif:

sampel darah bekam

1. Sampel darah normal. Bentuknya seperti danau, warna putih pada potongan sisi tepi, tampak bersih, halus dan tidak menunjukkan logam beracun. Semua garis hitam menyatu seperti sebuah matriks.

2.Pada sisi tepi sampel darah kering, semakin tebal dan padat area abu-abu, kadar logam semakin banyak dalam darah.

3.Proses degeneratif ditampilkan pada bidang cahaya, warna putih (pecah-pecah), hal ini terlihat bahwa jaringan tersebut sedang mengalami peradangan dan menyimpan plak aterosklerotik, logam beracun & kolesterol.

Umur sel darah merah memiliki jangka waktu 120 hari, namun kemungkinan untuk mengalami kerusakan dapat terjadi sebelum masa itu. Faktor kebiasaan kerja keras, polusi udara, begadang atau bahkan kadar kolesterol tinggi dapat menurunkan fungsi sel darah itu.

Logikanya, bila sebuah mobil dengan seluruh bagiannya dalam kondisi 100% mampu melaju dengan kecepatan 240 km/jam, maka akan berbeda kemampuannya bila sebagaian komponennya sudah mengalami kerusakan-kerusakan. Hal itu menunjukkan waktu penggantian onderdil sudah tiba. Demikian pula halnya dengan sel darah merah manusia.

Melalui patokan ini, dapat dijadikan dasar kapan seseorang melakukan bekam secara rutin. Dengan disesuaikan pada sejauh mana aktifitas kerja pasien yang bersangkutan. Sehingga, dapat diambil perkiraan antara 1 bulan atau maksimal 4 bulan, manusia disarankan untuk berbekam.

Inggris sebagai sebuah Negara yang memiliki prinsip kedokteran Barat, secara diam-diam mereka mempraktekkan pengobatan Thibbun Nabawi umat Islam ini. Lalu, bagaimana dengan mereka yang mayoritas muslim, apakah masih ragu dengan manfaatnya? Wallohu a’lam. [Abu Ibrahim]

 

Sumber : http://bekamdankesehatan.blogspot.co.id

International Cupping Society (ICS), Cupping/Hijama Times. 1St Issue, January 2010. Issn: 2041-9899, New Malden-Surrey, United Kingdom: KT3 9AF.

http://malangbekam.blogspot.com