Menabung Sedekah Atau Dosa?

Sabtu, 9 Februari 2019 | 08:48:05

Menabung Sedekah Atau Dosa?

 

Kalau kita mempelajari kandungan Al-Qur’an, maka akan jelas bahwa Islam diturunkan melalui Nabi Muhammad untuk merombak sistem sosial yang pro-penindasan. Akan tetapi, sampai saat ini, terutama di masyarakat kita, agama justru menjadi bahan tertawaan dan permainan yang menjauhkan manusia dari penyucian diri dari keseimbangan alamiah dan ilahiahnya.

Manusia telah membuat kemajuan besar dalam semua bidang kehidupan. Dibandingkan dengan masa lalu. Hari ini lebih beradab, lebih kaya dan lebih bahagia. Semua ini cukup meyakinkan. Tetapi, ketika kita melihat seorang pengemis berpakaian compang-camping, anak yatim piatu yang tidak berdaya atau janda yang tidak berdaya, kita mulai meragukannya, mengapa masih ada banyak orang yang hidup dalam keinginan dan kesengsaraan?

Kesulitan orang-orang miskin dan kesengsaraan ini hanya dapat dihapus jika amal menjadi hal utama. Ini adalah fakta pahit bahwa bahkan saat ini, sesama manusia dengan jumlah cukup besar tidak memiliki makanan, pakaian, dan tempat tinggal yang layak.

Agama telah mewajibkan untuk membantu saudara-saudara mereka yang miskin dan membutuhkan. Mereka yang kaya jelas diminta untuk berbagi dengan orang-orang yang tidak beruntung. Ini akan mengurangi kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin.

Dalam Islam, hukum sedekah adalah sunnah muakad.

Namun begitu, pada kondisi tertentu sedekah bisa menjadi wajib. Misalnya ada seorang yang sangat membutuhkan bantuan makanan datang kepada kita memohon sedekah. Keadaan orang tersebut sangat kritis, jika tidak diberi maka nyawanya menjadi terancam. Sementara pada waktu itu kita memiliki makanan yang dibutuhkan orang tersebut, sehingga kalau kita tidak memberinya kita menjadi berdosa.

Pada dasarnya sedekah dapat diberikan kepada dan dimana saja tanpa terikat oleh waktu dan tempat. Namun ada waktu dan tempat tertentu yang lebih diutamakan yaitu lebih dianjurkan pada bulan Ramadan.

Dijelaskan pula dalam kitab Kifayat al-Akhyar, sedekah sangat dianjurkan ketika sedang menghadapi perkara penting, sakit atau berpergian, berada dikota, saat peperangan, haji, dan pada waktu-waktu yang utama seperti sepuluh hari di bulan Dzulhijah, dan hari raya.

Hari ini, masih banyak orang yang begitu sayang merelakan harta terbaik mereka untuk disedekahkan. Jika mesti harus bersedekah, hanya sisa-sisa uang kecil mereka yang tak begitu bernilai untuk dibelanjakan. Padahal sedekah itulah tabungan yang akan setia mendampingi mereka.

Dalam Islam sangat memperhatikan aspek-aspek pribadi dan ritus-ritus sosial. Beberapa ritus seperti zakat, infaq, shadaqah dan haji, jelas sekali memiliki sifat dan efek social yang  tinggi.

Sebaliknya jika seorang muslim yang telah melaksanakan perintah  shalat dan haji tetapi tidak memberi manfaat social, maka tindakan tersebut tidaklah sempurna. Tata social adalah inti tauhid, dan lebih penting dibanding tata pribadi.

Orang yang bersedekah senantiasa didoakan oleh dua malaikat. Sebagaimana hadist yang artinya “Tidaklah seorang laki-laki berada dipagi hari kecuali dua malaikat berdoa, Ya Allah, berilah ganti orang yang menafkahkan (menyedekahkan) hartanya dan berikanlah kehancuran orang yang menahan hartanya”. (HR. Bukhari-Muslim).

Bukan seseorang yang membutuhkan agar kita mau bersedekah kepadanya, akan tetapi kita lah yang butuh orang agar kita bisa bersedekah karena sesungguhnya tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.

Ketahuilah bahwa Tuhan akan menggantinya dengan berlipat ganda. Sehingga tidak ada rasa khawatir bahwa harta akan berkurang dengan sedekah, zakat dan infaq.

https://geotimes.co.id