Keutamaan Menjaga Lisan dan Bahaya Tidak menjaganya

Rabu, 9 Januari 2019 | 14:51:07

Keutamaan Menjaga Lisan dan Bahaya Tidak menjaganya

 

Diantara nikmat Allah Ta’ala yang paling besar manfaatnya kepada manusia adalah lisan (lidah) dan dua bibir. Allah Ta’ala mengingatkan kedua nikmat tersebut dalam firmanNya:

 

أَلَمْ نَجْعَل لَّهُ عَيْنَيْنِ – وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ – وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ

 

“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan”. (QS. Al-Balad: 8-10).

Syekh Abdurrahman As-Sa’dy dalam tafsirnya Jilid 5 halaman 418 menjelaskan, bahwa: tiga ayat ini menyebutkan tentang dua kelompok nikmat Allah Ta’ala pada manusia. Yaitu nikmat duniawi dan nikmat diniyah. Perkataaan ‘aynayn (dua mata), lisan (lidah) dan syafatayn (dua bibir) merupakan nikmat-nikmat duniawi yang sangat penting, yang berfungsi untuk keindahan, penglihatan dan komunikasi, sedangkan nikmat diniyah disebutkan dalam redaksi ayat: “wahadaynahun najdayn (dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan; Yang dimaksud dengan dua jalan ialah jalan kebajikan dan jalan kejahatan).

Dari penjelasan Syekh di atas, menunjukkan bahwa lidah pada manusia memiliki berbagai fungsi, dan diantara fungsinya yang paling spesifik dan paling penting adalah sebagai alat komunikasi. Hewan juga memiliki lidah tetapi tidak berfungsi sebagai alat komunikasi. Dengan alat yang kecil ini sebagian besar kebutuhan manusia dapat terpenuhi, sebab hal-hal yang terpendam dalam hati dapat diungkapkan dengan jelas.

Syekh DR. Nashir Al ‘Umar memberikan penjelasan dalam Kitabnya Suurah al-Hujuraat, Dirasah Tahliliyyah Wa Mawdhu’iyyah halaman 143, bahwa diantara bukti visual yang menunjukkan pentingnya nikmat Allah ini, adalah ketika kita merenungkan keadaan orang-orang yang bisu. Ketika orang bisu hendak mengungkapkan sesuatu, maka ia harus menggunakan beberapa anggota tubuhnya, diantaranya kedua tangannya, mulut, dua bibir serta kepalanya bahkan kadang-kadang harus menggerakan tubuhnya, namun walau demikian ia tetap tidak dapat mengungkapkan secara pasti apa yang diinginkannya. Kadang-kadang ia terduduk lama untuk mengungkapkan sebuah makna yang kalau diungkapkan oleh orang yang normal cukup hanya dengan satu atau dua patah kata.

Dengan demikian jelaslah, bahwa nikmat lisan dan kedua bibir, merupakan anugerah Allah Ta’ala yang sangat agung dan diberikan secara gratis kepada setiap manusia, tanpa memandang status dan agamanya, bayangkan jika nikmat ini harus kita bayar.

Keutamaan Menjaga Lisan dan Bahaya Tidak menjaganya

Jika Allah Subhanahu Wata’ala memberikan nikmat lisan secara gratis, itu tidak bermakna kita boleh berbicara menurut kehendak hawa nafsu. Yang dikehendaki oleh Sang Pemberi nikmat adalah bersyukur kepadaNya dengan cara memanfaatkan lisan sesuai dengan tuntunan dan syari’atNya. Anggota tubuh yang satu ini memang tidak tersusun atas tulang-belulang seperti anggota tubuh lainnya, akan tetapi jika digunakan tidak sesuai dengan aturan Pemberinya, maka lisan seperti ini bisa lebih tajam dari pedang terhunus. Karena itu ada sebuah pepatah dalam bahasa Indonesia menyebutkan: “Mulutmu adalah harimaumu” dan sebuah pepatah Arab menyatakan: “Salamatul insan fi hifzhil lisan” (Keselamatan manusia sangat tergantung pada penjagaan lisannya).

Di antara ancaman kepada orang yang tidak bisa menjaga lisannya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam : “Sesungguhnya jika seorang hamba berbicara dengan kalimat yang tidak jelas baginya (apakah kalimatnya itu benar atau salah), maka ia akan tergelincir ke dalam neraka sejauh jarak antara timur dan barat ” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam mengalami proses isra’, beliau melewati suatu kaum yang mencakar-cakar wajahnya dengan kuku-kuku mereka dari tembaga. Nabi pun bertanya kepada malaikat jibril tentang siapa mereka itu, maka Jibril menjawab “mereka adalah orang-orang yang suka memakan daging manusia serta menodai kehormotan mereka” (dikutip dari hadits riwayat Abu Dawud dan Ahmad yang disahihkan olen oleh Syekh Al-Bani dalam Shahih Al-Jaami’).

Dalam kitab Jaami’ul ‘Ulum Wal Hikam disebutkan satu nasihat dari Ibnu Mas’ud RA yang diawali dengan sumpah: “Dengan nama Allah yang tiada Ilah selainNya, tidak ada sesuatu di atas muka bumi ini yang lebih butuh untuk dipenjarakan dalam waktu yang lama daripada lisan”

Sementara Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata seperti yang dikutip dalam Kitab Al-Jawab Al-Kaafi: “Betapa banyak orang yang hati-hati dari perbuatan keji dan dzalim, tetapi lidahnya mencaci maki kehormatan orang yang masih hidup dan yang sudah wafat, sementara ia tidak menyadari akan apa yang diucapkannya”.

Sebaliknya, jika lisan digunakan sesuai tuntunan syari’atNya, maka lisan akan memproduksi berbagai kebaikan, seperti mengucapkan kalimat yang paling agung dan paling berat timbangannya di hari akhirat, yaitu kalimat tauhid: Laa Ilaaha Illallah Muhammadur-Rasulullah, kalimat-kalimat dzikir, dakwah di jalan Allah, perkataan-perkataan santun dan lemah lembut yang menjadi perhiasan terbaik bagi seseorang. Akumulasi dari berbagai kebaikan adalah ketenangan jiwa dan mengundang simpati dari orang lain, bahkan tidak tanggung-tanggung Rasululullah shallallahu alaihi wasallam menjajikan syurga sebagaimana yang tersebut dalam sabdanya: “Barangsiapa yang menjamin bagiku apa yang ada di antara kumis dan jenggotnya (lisan dan dua bibir) dan apa yang ada di antara dua pahanya (kemaluan), maka aku jamin baginya syurga” (HR. Bukhari, At-Tirmidzi dan Ahmad).

http://wahdah.or.id

Sumber dari: http://wahdah.or.id/keutamaan-menjaga-lisan-dan-bahaya-tidak-menjaganya/