KEUTAMAAN DZIKIR HAUQALAH

Selasa, 18 September 2018 | 10:18:35

KEUTAMAAN DZIKIR HAUQALAH

 

 

Assalamu'alaikum..

Pagi akhi ukhti, kesempatan kali ini ane akan memberikan tauziah mengenai keutamaan dzikir Hauqalah, sebenernye dzikir Hauqalah itu yang seperti ape sich, dan ape aje keutamaan nye dari itu dzikir, berikut penjabaran nye'..

Alquran dan Hadits Nabi Muhammad SAW  telah memerintahkan orang-orang  beriman agar memperbanyak dzikir, yaitu mengingat Allah SWT. Hal ini menunjukkan, bahwa dzikir memiliki fungsi dan keutamaan yang sangat besar.

Dzikir kepada Allah merupakan bentuk ibadah yang paling agung (QS. Al-Ankabut [27]:45), mendatangkan manfaat (QS. Al-Dzariyat [51]:55), menenteramkan hati (QS. Al-Ra’du [13]:28), dan memperoleh kebahagiaan dan keselamatan (QS. Al-Jumu’ah [63]:10)..

Dengan kata lain, dzikir ialah amal ibadah yang dapat menjaga dan meningkatkan konektivitas antara hamba dan Sang Penciptanya dengan baik.  Hamba yang ingat kepada Allah, maka Allah pun pasti ingat kepadanya (QS. al-Baqarah [2]:152).

Terdapat berbagai bentuk dzikir yang telah disyariatkan dalam Islam. Oleh karena itu, dalam implementasinya, dzikir memiliki makna yang begitu luas. Di samping dalam bentuk lisan, seperti tahlil, tasbih, tahmid, takbir, tilawah qur’an, shalat, dan semisalnya, dikenal juga dzikir dalam bentuk tindakan atau sering disebut sebagai dzikir fi’li, seperti mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, menolong kaum tertindas, membantu mensejahterakan kaum dhu’afa dan amal kebajikan sosial lainnya.

Menurut riwayat dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah SAW menganjurkan umatnya supaya memperbanyak dzikir hauqalah, yaitu "Laa haula wa laa quwwata illaa billah (Tidak ada daya dan kekuatan melainkan kekuatan Allah).."

Riwayat tersebut berkenaan dengan asbabun nuzul (sebab-sebab turun ayat) ayat tiga daripada  surah At-Thalaq yang berbunyi: “Dan Allah memberinya rezeki dari arah yang tidak diduga-duga. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) hidupnya. Sesungguhnya Allah mengatur urusan yang dikehendaki-Nya. Sungguh Allah telah membuat ketentuan atas segela sesuatu.”

Wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Kepada Abu Dzar Al-Ghifari

 

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ قَالَ: أَوْصَانِيْ خَلِيْلِي بِسَبْعٍ : بِحُبِّ الْمَسَاكِيْنِ وَأَنْ أَدْنُوَ مِنْهُمْ، وَأَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنِّي وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوقِيْ، وَأَنْ أَصِلَ رَحِمِيْ وَإِنْ جَفَانِيْ، وَأَنْ أُكْثِرَ مِنْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، وَأَنْ أَتَكَلَّمَ بِمُرِّ الْحَقِّ، وَلاَ تَأْخُذْنِيْ فِي اللهِ لَوْمَةُ لاَئِمٍ، وَأَنْ لاَ أَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا.

 

Dari Abu Dzar Radhiyallahu 'anhu , ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu 'alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku, (4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan Laa haula wala quwwata illa billah (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), (5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, (6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan (7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kalimat Laa haula wa la quwwata illa billah agar kita melepaskan diri kita dari segala apa yang kita merasa tidak mampu untuk melakukannya, dan kita serahkan semua urusan kepada Allah. Sesungguhnya yang dapat menolong dalam semua aktivitas kita hanyalah Allah Ta’ala, dan ini adalah makna ucapan kita setiap kali melakukan shalat,

 

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

 

Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. [al-Fatihah/1:5].

Menurut Ibnul Qoyyim, kalimat  “Laa Haula wa Laa Quwwata illa Billaah” mempunyai pengaruh yang sangat menakjubkan saat menanggung beban pekerjaan yang sulit dan keras, atau saat menghadap kepada raja dan orang yang ditakutkan, selain pengaruhnya yang efektif untuk menolak kemiskinan.

Diriwayatkan, Hubaib bin Salamah sangat senang saat menghadapi musuh atau mengepung sebuah benteng memperbanyakkan ucapan “Laa Haula wa Laa Quwwata illa Billaah”. Diceritakan, suatu hari ia mengepung sebuah benteng milik bangsa Romawi sehingga ia putus asa, lalu tentara kaum mislimin membaca zikir tersebut sambil bertakbir, akhirnya benteng tersebut hancur.

Akhi Ukhti, kalimat Hauqalah ini juga dapat sebagai obat, perantara untuk menyembuhkan banyak penyakit..

Orang yang sedang sakit dianjurkan sering-sering mengucapkan hauqalah agar segera diberi kesembuhan oleh Allah SWT. Dokter, obat, atau siapa pun bukanlah penyembuh sakit. Allah-lah Yang Maha Memberi Kesembuhan.

Rasulullah SAW bersabda :

“Siapa yang mengucapkan La Haula Wala Quwwata illa billahi, maka ia akan menjadi obat kepada 99 penyakit. Yang paling ringan adalah kekalutan”. (Hadis Riwayat Tabrani)

 

بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ لَا يَسُوْقُ الْخَيْرَ إلَّا اللهِ بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ لَا يَصْرِفُ السُّوْءَ إلَّا اللهُ بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ مَا كَانَ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِا للهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

 

Dengan nama Allah yang segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya, tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali la. Dengan nama Allah yang segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya, tidak ada yang menyingkirkan keburukan kecuali la. Dengan nama Allah yang segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya, tidak ada kenikmatan melainkan dari Allah. Dengan nama Allah yang segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya, tiada daya untuk berbuat kebaikan kecuali dengan pertolongan Allah dan tiada kekuatan untuk menghindar dari perbuatan maksiat kecuali dengan perlindungan Allah yang maha Mulia dan maha agung..

Pada hakikatnya seorang hamba tidak memiliki daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Seorang penuntut ilmu tidak akan mungkin duduk di majlis ilmu, melainkan dengan pertolongan Allah. Seorang guru tidak akan mungkin dapat mengajarkan ilmu yang bermanfaat, melainkan dengan pertolongan Allah. Begitupun seorang pegawai, tidak mungkin dapat bekerja melainkan dengan pertolongan Allah.

Seorang hamba tidak boleh sombong dan merasa bahwa dirinya mampu untuk melakukan segala sesuatu. Seorang hamba seharusnya menyadari bahwa segala apa yang dilakukannya semata-mata karena pertolongan Allah.

Sebab, jika Allah tidak menolong maka tidak mungkin dia melakukan segala sesuatu..

Imam Ahmad dalam Musnadnya meriwayatkan hadits yang dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

 

أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ

 

"Perbanyaklah membaca Laa Haula Wa Laa Quwwata Illaa Billaah, karena sesungguhnya adalah salah satu harta simpanan di surga."

Kanzun min Kunuz al-jannah, maksudnya: pahalanya di simpan bagi yang mengucapkannya. Pahalanya atau balasan amal zikir terebut disimpan di surga sebagaimana dikumpulkan, disimpan, dan dijaganya harta kekayaan.

Dzikir Hauqalah juga merupakan tabungan/simpanan untuk surga..

Rasulullah Shallalahu ’alaihi Wasallam bersabda,

 

يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ أَلاَ أَدُلَُ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ ». فَقُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « قُلْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ »

 

“Wahai Abdullah bin Qais, maukah engkau kuberitahu tentang salah satu tabungan/simpanan dari simpanan-simpanan surgawi? Abdullah bin Qais menjawab: ‘Tentu, wahai Rasulullah’. Ia bersabda: ‘Ucapkanlah laa haula wa laa quwwata illa billah’”

Dzikir Hauqalah juga merupakan salah satu pintu surga..

Rasulullah Shallalahu ’alaihi  Wasallam berkata kepada Abu Musa radhiallahu ‘anhu,

 

ألا أدلك على باب من أبواب الجنة ؟ قلت بلى ، قال: لا حول ولا قوة إلا بالله )) ، رواه الترمذي وأحمد

 

“Maukah engkau aku tunjukkan salah satu dari pintu surga? Aku berkata, ‘tentu’. Beliau bersabda, ‘ Laa haula wala quwwata illa billah”

"Ucapan Laa Haula Wa Laa Quwwata Illaa Billaah, memberikan konsekuensi “i’anah” (bantuan). Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam  memberikan contoh jika muadzzin mengucapkan “Hayya ‘Alaa al-Shalaah”, maka dijawab, ‘Laa Haula Wa Laa Quwwata Illaa Billaah’, jika muadzzin mengucapkan, "Hayya ‘Alaa al-Falaah", dijawab’ Laa Haula Wa Laa Quwwata Illaa Billaah’ (minta bantuan kepada Allah Agar bisa melaksanakannya)."

Ringkasnya, siapa yang menginginkan punya pahala yang istimewa di surga dengan jumlah yang banyak hendaknya memperbanyak membaca dzikir yang agung ini, Laa Haula Wa Laa Quwwata Illaa Billaah. Khususnya pada moment tertentu seperti menjawab adzan saat mu'adzin mengucapkan Hayya ‘Alaa al-Shalaahdan Hayya ‘Alaa al-Falaa, dalam perjalanan, dibaca saat sakit, saat mengerjakan pekerjaan berat dan sulit sebagai sarana untuk meminta pertolongan kepada Allah Ta'ala..

"Semoga jadi ilmu yang manfaat"

http://annuraljilani.blogspot.com