KEUTAMAAN AL QURAN

Kamis, 18 Januari 2018 | 08:59:49

KEUTAMAAN  AL QURAN

 

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumulah..

Al-Qur'an diturunkan oleh ALLAH Subhanahu Wata'ala melalui Wahyu yang diterima oleh Rasululllahh Saww dalam bahasa Arab yang mengandung minimal 3 fungsi:

Bukti kebenaran Risalah (Kerasulan) Nabi Muhammad Saww. atas apa yang disampaikan oleh Muhammad Saww dari ALLAH, yang dengan Al-Qur'an ini Nabi dapat mengalahkan musuh-musuhnya yaitu para kaum yang mengingkari kerasulannya dan berniat memadamkan api Islam dengan kekerasan senjata atau fitnah. Hal ini ditegaskan bahwa al-Qur'an adalah MUKJIZAT Nabi yang paling besar.

Al-Qur'an adalah al-Hudaa (Pedoman Hidup) bagi manusia yang menjamin tentang keselamatan manusia dunia akhirat, lahir bathin, materil spiritual. =>  Lebih-lebih apabila dipahami 55 nama-nama al-Qur'an yang sekaligus menjelaskan fungsinya, sebagai penjelasan dari inti al-Hudaa (Petunjuk al-Qu'an)

Al-Qur'an sebagai wasilah (perantara) ibadah ritual yang mendekatkan dan menghubungkan antara seseorang hamba dengan Khaliqnya. Dengan membaca al-Qur'an, kita dapat "berdialog" dengan Allah SWT. secara langsung tanpa perantara, dan dengan bahasa Tuhan sendiri.

Firman Allah SWT dalam surah al-Qashash [28]:85;

 

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ قُل رَّبِّي أَعْلَمُ مَن جَاء بِالْهُدَى وَمَنْ هُوَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

 

" Sesungguhnya Allah yang telah mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Qur'an, pasti akan mengembalikan kamu ke kota Mekkah. Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui siapa yang datang membawa pedoman hidup dan siapa yang datang membawa kesesatan yang nyata".

Dengan tiga fungsi ini setiap muslim fardhu 'ain mempelajari al-Qur'an baik pada aspek qira'ah, tahsin al-khaith / tulsan, tarjamah, tafsir, dan tahfidz atau hafalan al-Qur'an.Perintah itu dipahami berdasarkan istidlal (penetapan dalil) al-Qur'an surah al-Qashash [28]:85 diatas.

Keutamaan Al-Qur'an yang terbesar bahwa ia merupakan Qalam Allah SWT.

Al-Qur'an adalah kitab yang diturunkan dengan penuh berkah. Al-Qur'an memberikan petunjuk manusia kepada jalan yang lurus. Tidak ada keburukan di dalamnya, oleh karena itu sebaik-baik manusia adalah mereka yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya. Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik orang diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Bukhori).

Rasulullah SAW selalu membaca Al-Qur'an. Beliau juga suka mendengarkan bacaan dari sahabatnya, khususnya sahabat Ibnu Mas'ud. Beliau berlinang air matanya bila membaca dan mendengarkan bacaan Al-Qur'an, seperti yang dikisahkan dalam sebuah hadist dari Ibnu Mas'ud:

"Suatu ketika Rasulullah SAW meminta Ibnu Mas'ud untuk membacakan Al-Qur'an. Ibnu Mas'ud berkata: "Ya Rasulullah, bagaimanakah saya membacakan untukmu, padahal Al-Qur'an diturunkan kepadamu?". Dijawab nabi SAW: "Saya ingin mendengar dari orang lain". Ibnu Mas'ud berkata, "Maka saya bacakan surat An Nisa hingga sampai pada ayat "Fa kaifa idzaa ji'na min kulli ummatin bisyahidin waji'na bika 'ala ha'ula'i syahiida" (Bagaimanakah jika Kami telah mendatangkan untuk setiap ummat saksinya dan Kami jadikan engkau sebagai saksi atas semua ummat itu). Nabi bersabda, "Cukuplah sampai di sini". Saya menoleh melihat nabi SAW sedang bercucuran air mata." {HR. Bukhori dan Muslim}.

Sahabat Rasulullah SAW juga selalu membaca Al-Qur'an.

Ketika mereka menemukan ayat yang berkaitan dengan azab Allah, mereka membacanya berulang-ulang hingga berlinang air mata.

Abu Bakar RA, jika beliau menjadi imam ketika sholat, maka akan terdengar isakan tangis beliau.

Suatu ketika seorang sahabat ingin ke pasar mendapati Asma binti Abu Bakar membaca salah satu ayat diulang-ulang sambil menangis. Ketika sahabat tersebut kembali dari pasar, ia masih membaca ayat yang sama sambil menangis.

Itulah sikap Rasulullah SAW dan para sahabatnya ketika membaca Al-Qur'an. Kita sebagai ummat dan sebagai generasi penerusnya berusaha untuk bersikap seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya ketika membaca Al-Qur'an.

Banyak keutamaan yang telah diraih oleh Rasulullah SAW dan sahabatnya disebabkan mereka banyak membaca dan merenungkan isi kandungan Al-Qur'an. Bahkan diantara sahabat Rasulullah SAW ada yang menyaksikan dan merasakannya secara langsung.

Diantara keutamaan membaca Al-Qur'an, yaitu:

1. Akan mendapat RAHMAT dan KASIH SAYANG dari Allah SWT

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah mempunyai 2 ahli diantara manusia".

Sahabat bertanya, "Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?".

Beliau menjawab, "Ahli Al-Qur'an adalah ahli Allah, dan orang-Nya khusus." (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

Dalam hadist yang lain, Rasulullah SAW bersabda:

"Dikatakan kepada orang yang berteman dengan Al-Qur'an, "Bacalah dan bacalah sekali lagi serta bacalah dengan tartil, seperti yang dilakukan di dunia, karena manzilah-mu terletak di akhir ayat yang engkau baca. " (HR Tirmidzi)

2. Al-Qur'an akan menjadi PENOLONG di hari kiamat

Rasulullah SAW bersabda,"Sesungguhnya Al-Qur'an bertemu pembacanya pada hari kiamat saat kuburannya dikuak, dalam rupa seorang laki-laki yang pucat.

Dia (Al-Qur'a) bertanya, "apakah engkau mengenalku? Dia menjawab, "aku tidak mengenalmu!".

Al-Qur'an berkata, "Aku adalah temanmu, Al-Qur'an, yang membuatmu kehausan pada siang hari yang panas dan membuatmu terjaga pada malam hari. Sesungguhnya pedagang itu mengharapkan hasil dagangannya, dan sesungguhnya pada hari ini aku adalah milikmu dari hasil seluruh perdaganganmu, lalu dia memberikan hak milik orang itu Al-Qur'an dengan tangan kanan dan memberikan keabadian dengan tangan kirinya, lalu di atas kepalanya disematkan mahkota yang berwibawa, sedangkan Al-Qur'an mengenakan 2 pakaian yang tidak kuat disangga oleh dunia.

Kedua pakaian ini bertanya, "Karena apa kami engkau kenakan?". Ada yang menjawab: "Karena peranan Al-Qur'an. Kemudian dikatakan kepada orang itu,"Bacalah sambil naik ketingkatan-tingkatan syurga dan biliknya, maka dia naik sesuai dengan apa yang dibacanya, baik baca dengan cepat, maupun dengan tartil." (HR Ahmad).

Dari Abu Umamah ra, Rasulullah SAW bersabda,

"Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang pada hari kiamat, sebagai pembela pada orang yang mempelajari dan mentaatinya." (HR Muslim).

Dari An Nawas bin Sam'an, Rasulullah SAW bersabda,

"Pada hari kiamat akan didatangkan Al-Qur'an dan orang-orang yang mempraktekan di dunia, didahului oleh surah Al Baqarah dan Ali Imran yg akan membela dan mempertahankan orang-orang yang mentaatinya." (HR. Muslim)

3. Setiap huruf akan mendapat 10 ~ 700 PAHALA

Dari Ibnu Mas'ud ra, Rasulullah bersabda,

" Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka akan mendapat hasanat dan tiap hasanat mempunyai pahala berlipat 10 kali. Saya tidak berkata Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dn Mim satu huruf." (HR Tirmidzi)

4. Akan mendapat doa dari para malaikat

Dari Aisyah ra, Raslullah SAW bersabda,

"Orang yang mahir dalam membaca Al-Qur'an akan berkumpul para malaikat yang mulia-mulia lagi taat.

Sedang siapa orang yang megap-megap (terbata-bata) dan berat jika membaca Al-Qur'an, mendapat pahala 2 kali lipat." (HR Bukhori, Muslim)

5. Akan MENDAPAT KETENANGAN..

Dari Al Barra bin Azib RA, " Ada seorang membaca surat Al Kahfi sedang tidak jauh dari tempatnya, ada kuda yang terikat dengan tali kanan kiri, tiba-tiba orang itu diliputi oleh cahaya yang selalu mendekat kepadanya, sedang kuda itu lari ketakutan. Dan pada pagi hari ia datang memberi tahu kejadian itu kepada nabi SAW, maka bersabda nabi SAW, "Itulah ketenangan (rahmat) yang telah turun untuk bacaan Al-Qur'an itu." (HR Bukhori dan Muslim).

Wallahu'alam

KEUTAMAAN KALAM ALLAH:

Firman Allah SWT:(QS Al-Baqarah [2]:2)

 

ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

 

dzaalika alkitaabu laa rayba fiihi hudan lilmuttaqiina

"Kitab [11] (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa [12],

[11]. Tuhan menamakan Al Quran dengan Al Kitab yang di sini berarti yang ditulis, sebagai isyarat bahwa Al Quran diperintahkan untuk ditulis.

[12]. Takwa yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-perintah-Nya; dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja.

Ayat di atas menerangkan bahwa Alquran ini tidak ada keraguan padanya karena ia adalah benar-benar wahyu Allah swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw Nabi yang terakhir dengan perantaraan Jibril a.s.

Hal ini tegaskan oleh Allah swt. dalam firman-Nya:

 

الم تَنْزِيلُ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 

Artinya:

Alif lam mim. Turunnya Alquran yang tidak ada keraguan padanya (adalah) dari Tuhan semesta alam. (Q.S As Sajadah: 1 dan 2)

Yang dimaksud "Al Kitab" di sini ialah Alquran . Disebut "Al Kitab." sebagai isyarat bahwa Alquran harus ditulis, karena itu Nabi Muhammad saw. memerintahkan para sahabat menulis ayat-ayat Alquran.

Alquran ini bimbingan bagi orang-orang bertakwa, sehingga ia berbahagia hidup di dunia dan di akhirat nanti.

Orang-orang yang bertakwa ialah orang-orang yang memelihara dan menjaga dirinya dari azab Allah dengan selalu melaksanakan perintah-perintah Allah swt. dan menghentikan larangan-larangan-Nya.

Di antara tanda-tanda orang yang bertakwa ialah sebagaimana yang tersebut pada ayat-ayat berikut:

"Allah--tidak ada Tuhan melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi senantiasa berdiri sendiri.(QS.3:2)

نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنزَلَ التَّوْرَاةَ وَالإِنجِيلَ

 

nazzala 'alayka alkitaaba bialhaqqi mushaddiqan limaa bayna yadayhi wa-anzala alttawraata waal-injiila

"Dia menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, (QS Ali Imran [3]:3)

Ayat yang lalu telah menerangkan bahwa Dialah Allah yang hidup kekal, terus menerus mengatur dan menjaga makhluk-Nya, Dialah Tuhan yang berhak disembah.

Ayat ini menerangkan bahwa Tuhan yang berhak disembah itu benar-benar telah menurunkan Alquran kepada Nabi Muhammad saw dengan perantaraan Jibril, dan menegaskan bahwa sebelum menurunkan Alquran,

Allah SWT telah menurunkan pula kitab-kitab kepada para Nabi yang terdahulu, yang diutus sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw, misalnya kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa as., kitab Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa as. dsb.

AL-QUR'AN mengakui kebenaran isi kitab-kitab yang telah lalu sebagaimana kitab-kitab yang telah lalu itu membenarkan isi Alquran sesuai dengan yang diisyaratkan kitab-kitab itu.

Penegasan dan pengakuan ini hanyalah secara garis besarnya saja, tidak secara terperinci, yaitu Allah SWT telah mengutus rasul-rasul kepada umat-umat dahulu, dan Allah SWT telah menurunkan wahyu kepada mereka, seperti Taurat, Injil dan sebagainya.

Mengenai isi dari kitab-kitab itu tidak dijelaskan Alquran.

Beriman kepada penegasan dan pengakuan ayat itu termasuk iman kepada Allah SWT.

Sebagaimana halnya dengan Alquran yang mengakui bahwa telah diutus para nabi dan rasul kepada umat-umat yang terdahulu dan telah diturunkan kepada mereka kitab-kitab, maka kitab-kitab yang dahulupun mengisyaratkan dan mengakui bahwa pada akhir zaman nanti Allah SWT akan mengutus seorang Nabi terakhir, Nabi penutup dan kepada Nabi itu akan diturunkan Allah pula sebuah kitab; yang berisi pokok-pokok dari risalah yang di bawa Nabi-nabi yang terdahulu.

Kitab Taurat adalah Kitab suci Agama Yahudi, agama yang dianut oleh orang-orang yang mengakui sebagai pengikut Nabi Musa as.

Orang Nasrani menjadikan Taurat salah satu bahagian dari isi Al-Kitab yang diberi judul: "Wasiat / Perjanjian Lama".

Kitab Taurat adalah Kitab suci Agama Yahudi, agama yang dianut orang Yahudi maupun yang disebut oleh orang Nasrani "Wasiat Lama", maka ada suatu pikiran dan perasaan yang timbul, yaitu bahwa Kitab Taurat atau Wasiat Lama yang ada sekarang tidak semata-mata berisi wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Musa as, sebagai mana yang ditegaskan oleh ayat ini, tetapi telah ada campur tangan manusia di dalamnya. Hal ini diakui kebenarannya oleh Perjanjian Lama.

Di dalam Wasiat / Perjanjian Lama di terangkan bahwa Kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as, telah pernah hilang, kemudian diketemukan oleh Imam Hilkija sewaktu orang membongkar timbunan uang di rumah Tuhan.

Kitab itu dibawa dan dibacakan oleh Sufyan di hadapan raja Yahudi. Maka rajapun marah dan dikoyak-koyak-nyalah Kitab itu karena isi Al-Kitab itu bertentangan dengan keinginan beliau.Dalam pada itu tidak didapat keterangan tentang asal usul Wasiat Lama yang ada sekarang.

Kitab Injil adalah kitab suci agama Nasrani. Di dalam "Al Kitab", Injil termasuk bahagian yang diberi judul "Perjanjian Baru".

Sebagaimana Taurat, maka di dalam lnjilpun banyak didapati yang bukan wahyu dari Tuhan, seperti sabda atau ucapan pengikut-pengikut setia Nabi Isa as, yang hidup setelah beliau meninggal dunia.

Dalam pada itu bahasa Injil yang terkenal pada saat ini bukanlah bahasa yang dipahami oleh Nabi Isa as.

Menurut ayat ini dan ayat-ayat Alquran yang lain seluruh isi Taurat dan Injil adalah wahyu dari Allah SWT, yang disampaikan kepada Nabi Musa as dan Nabi Isa as yang berisi pokok-pokok risalah yang dibawanya, tidak ada sedikitpun terdapat di dalamnya yang berupa perkataan karangan manusia dan sebagainya.

Mengenai Taurat yang ada sekarang BUKANlah Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as,

demikian pula Injil BUKANlah Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa as karena di dalam kedua kitab-kitab itu terdapat karangan-karangan pengikut kedua Nabi itu yang datang kemudian.

Fakta ini ditegaskan ALLAH SWT dalam firman-Nya

 

يحرفون الكلم عن مواضعه ونسوا حظا مما ذكروا به ولا تزال تطلع على خائنة منهم إلا قليلا منهم

 

Artinya:

".....Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) SUKA MERUBAH perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya semula, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu, (Muhammad) akan selalu melihat kekhianatan dari mereka, kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat)........". (Q.S Al Maidah [5]:13)

Lihat juga (Q.S An Nisa' [4]: 46)

 

مِّنَ الَّذِينَ هَادُواْ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيّاً بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْناً فِي الدِّينِ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانظُرْنَا لَكَانَ خَيْراً لَّهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَكِن لَّعَنَهُمُ اللّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلاَ يُؤْمِنُونَ إِلاَّ قَلِيلاً

 

Artinya:

"Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya^302. Mereka berkata : "Kami mendengar", tetapi kami tidak mau menurutinya^303. Dan (mereka mengatakan pula) : "Dengarlah" sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa^304. Dan (mereka mengatakan) : "Raa'ina"^305, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan : "Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami", tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.

[302]:Maksudnya : mengubah arti kata-kata, tempat atau menambah dan mengurangi; [303]:Maksudnya mereka mengatakan : "Kami mendengar", sedang hati mereka mengatakan : "Kami tidak mau menuruti".[304]:Maksudnya mereka mengatakan : "Dengarlah", tetapi hati mereka mengatakan : "Mudah-mudahan kamu tidak dapat mendengarkan (tuli)".; [305]:"Raa 'ina" berarti: sudilah kiranya kamu memperhatikan kami. Di kala para sahabat menghadapkan kata ini kepada Rasulullah, orang Yahudipun memakai kata ini dengan digumam seakan-akan menyebut "Raa'ina" padahal yang mereka katakan ialah 'Ru'uunah" yang berarti kebodohan yang sangat, sebagai ejekan kepada Rasulullah. Itulah sebabnya Tuhan menyuruh supaya sahabat-sahabat menukar perkataan "Raa'ina' dengan "Unzhurna" yang juga sama artinya dengan "Raa'ina'.]

AL-QUR'AN adalah PENERANGAN bagi seluruh umat manusia seluruhnya.. (UNIVERSAL)

 

هَـذَا بَيَانٌ لِّلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِّلْمُتَّقِينَ

 

haadzaa bayaanun lilnnaasi wahudan wamaw'izhatun lilmuttaqiina

[3:138] (Al Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

 

[yaa ayyuhaa alladziina aamanuu athii'uu allaaha wa-athii'uu alrrasuula waulii al-amri minkum fa-in tanaaza'tum fii syay-in farudduuhu ilaa allaahi waalrrasuuli in kuntum tu/minuuna biallaahi waalyawmi al-aakhiri dzaalika khayrun wa-ahsanu ta'wiilaan]

[4:59] Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Pada ayat ini Allah memerintahkan supaya kaum muslimin taat dan patuh kepada Nya, kepada rasul Nya dan kepada orang yang memegang kekuasaan di antara mereka untuk dapat terciptanya kemaslahatan umum. Untuk kesempurnaan pelaksanaan amanat dan hukum sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, hendaklah kaum muslimin:

a]. Taat dan patuh kepada perintah Allah dengan mengamalkan isi Kitab suci Alquran, melaksanakan hukum-hukum yang telah ditetapkan Nya, sekalipun dirasa berat, tidak sesuai dengan keinginan dan kehendak pribadi. karena apa yang diperintahkan Allah itu mengandung maslahat dan apa yang di larang Nya mengandung mudarat.

b]. Melaksanakan ajaran-ajaran yang dibawa Rasulullah saw pembawa amanat dari Allah SWT untuk dilaksanakan oleh segenap hamba Nya. Beliau ditugaskan untuk menjelaskan kepada manusia isi Alquran.

Allah SWT berfirman:

 

وأنزلناإليك الذكر لتبين للناس ما أنزل إليهم

 

Artinya: ,

"Dan Kami turunkan kepadamu Alquran agar kamu MENERANGKAN kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka"  (Q.S. An Nahl: 44)

c]. Patuh kepada ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan ulil `amri yaitu orang-orang yang memegang kekuasaan di antara mereka. Orang-orang yang memegang kekuasaan itu meliputi: pemerintah, penguasa, alim ulama dan pemimpin-pemimpin. Apabila mereka telah sepakat dalam suatu hal, maka kaum muslimin berkewajiban melaksanakannya dengan syarat bahwa keputusan mereka tidak bertentangan dengan isi Kitab Alquran. Kalau tidak demikian halnya, maka kita tidak wajib melaksanakannya, bahkan wajib menentangnya, karena tidak dibenarkan seseorang itu taat dan patuh kepada sesuatu yang merupakan dosa dan maksiat pada Allah SWT.

Nabi Muhammad saw bersabda:

 

لا طاعة لمخلوق في معصية الله

 

Artinya:

"Tidak (dibenarkan) taat kepada makhluk di dalam hal-hal yang merupakan maksiat kepada Khalik (Allah SWT)"

d. Kalau ada sesuatu yang diperselisihkan dan tidak tercapai kata sepakat atasnya, maka wajib dikembalikan kepada Quran dan hadis. Kalau tidak terdapat di dalamnya haruslah disesuaikan dengan (dikiaskan kepada) hal-hal yang ada persamaan dan persesuaiannya di dalam Alquran dan Sunah Rasulullah saw. Tentunya yang dapat melakukan qias seperti yang dimaksud di atas ialah orang-orang yang berilmu pengetahuan, mengetahui dan memahami isi Alquran dan Sunah Rasul.

Demikianlah hendaknya dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat.

Wassalam,

https://id-id.facebook.com