Kerokan dengan Bawang Merah, Sensasi Kehangatan Cinta Simbah

Sabtu, 8 Desember 2018 | 08:50:06

Kerokan dengan Bawang Merah, Sensasi Kehangatan Cinta Simbah

 

 

Pengalaman guru paling berharga. Kerokan atau kerikan buah pengalaman turun-temurun dari nenek moyang. Merupakan wujud sikap arif bagaimana nenek moyang menjaga badan tetap sehat tetapi tanpa menjadikan tubuhnya resisten atau melawan terhadap obat yang dikonsumsi.

Manakala gejala peyakit seperti masuk angin, pusing atau badan pegal menyerang. Mereka tidak terburu-buru untuk minum obat. Cukup dengan uang koin dan  minyak klenthik atau minyak goreng, bahkan ada yang memakai minyak rambut untuk kerokan.

Waktu itu usia saya belum mencapai angka dua digit, wajar jika rasa ingin tahu sangat besar. "Ini apa Mbah..?, tanya saya waktu itu.

"Itu buat kerikan atau kerokan kalau badan simbah pegel atau masuk angin. Dikeriki pakai itu" jelasnya. Saya sering melihat mata uang jaman Belanda. Ada di tatakan gelas, dengan minyak klenthik atau minyak goreng.

Pernah saat di rumah simbah, saya merasa tidak enak badan. Dengan kesabarannya membujuk saya untuk dikerok. Walau sudah pelan, saya tetap protes merasa sakit. Kemudian simbah ngeroki saya dengan bawang merah sebagai gantinya.

Awalnya merasa aneh, kayak diri ini siap dimasak. Bau bawang merah mulai menyebar apalagi simbah meletakkan tepat di dekat kepala saya yang tidur telungkup.

Geli saat pertama kali dikerok ditambah dengan bau yang menyengat. Ingin rasanya hidung ini dibenamkan ke dalam bantal menghindari aroma bau bawang merah.

Kerokan demi kerokan terus berlanjut, rasa geli dikerok dengan brambang atau bawang merah membuat posisi tidur saya menjauhinya. Simbah tidak kalah cekatan untuk mengerok punggung walau kata geli berkali-kali keluar dari mulut saya.

Aroma bawang memenuhi kamar, serasa seperti di dapur manakala simbah masak. Ketika selesai, saya melihat punggung dari kaca lemari. Terlihat penuh dengan garis-garis tipis yang berbentuk seperti duri ikan.

Sambil meyelimuti badan saya dengan selimut, simbah berkata lirih dan menepuk pelan kaki saya."Wis, bobok....Engko nak tangi khan seger."

Simbah sudah pulang ke rumah yang abadi.  Saya tahu dia sudah tiada namun saya tetap melakukan kebiasaan waktu kecil. Menyapa, "Simbah......"Membuka pintu kamarnya. Rindu akan senyum, sapaan, serta lembut tangannya saat menggosok punggung dan dada saya. Juga aroma bawang merah yang seolah tidak pernah hilang dari tangannya. Kehangatan cintanya selalu di hati.

Balsem waktu itu belum populer seperti sekarang. Pertengahan tahun 70an nampakya simbah baru mengenal balsem. Waktu itu saya menanyakan "Ini apa...?" saat menemukan ada botol balsem tergeletak di kasur, di samping bantalnya. Sayang saya tidak ingat merek balsem yang selalu tersedia di samping bantalnya.

Saat masih kuliah, saya kerap  kerumah simbah dengan naik bus. Diperjalanan kadang kepala pusing karena asap rokok atau penuhnya penumpang. Sampai di rumahnya saya memanggil "Simbah....!!!," yang disambut dengan senyuman.

"Kok mukamu pucet. Dikeriiki yo....." katanya sambil membuatkan teh panas. Simbah sudah hafal kalau saya bersedia dikeroki jika hanya dengan bawang merah.

Usai dikerok saya tidur pulas di kamarnya dengan parfum aroma bawang merah. Saat bangun, badan terasa ringan. Sementara bau badan, jangan ditanya. Kamar simbah serasa pindah ke dapur yang menyebarkan bau bumbu masak.

Kini tidak ada lagi yang ngerok saya dengan bawang merah kemudian di balur dengan minyak kayu putih atau balsem.Tradisi kerokan simbah menurun ke ibu juga adik. Saat mengunjungi rumahnya, langsung disambut cerita keponakan.

"Lagi ganti baju, habis kerokan pak dhe.....Biasa lagi pegel-pegel. Bentar lagi selesai kok."katanya. "Ibu,  kalau dikeroki itu lucu. Kayak anak kecil.Bilang sakit tapi minta diteruskan." jelasnya.

Pengalaman membuktikan. Tidak hanya simbah, saya dan adik yang merasakan manfaat kerokan . Riset Prof . Dr. Didik Gunawan menunjukkan beberapa kelebihan kerokan.  Diantaranya membuat kadar endorfin naik secara bertahap.

Endorfin menurut mediskus.com  ialah hormon seperti morfin yang diproduksi  tubuh. Efeknya mengurangi rasa sakit dan memicu perasaan tenang. Fungsinya meningkatkan imunitas, mood dan sebagai zat anti penuaan.

Sementara kehadiran Balsem Lang membantu menjaga suhu tubuh tetap hangat selama dikerok. Selain memberi beberapa manfaat :

Pertama, sebagai media melicinkan aktivitas kerokan. Kedua, aroma terapi dengan rasa mint atau menthol merupakan aroma khas yang mampu menciptakan suasana rileks dan menenangkan.

Saat melakukan kerokan aroma Balsem Lang membantu menciptakan suasana nyaman. Tidak heran jika ada istilah kapok lombok. Pedas atau sakit tetapi masih menginginkan lagi untuk dikerok.

Ketiga,  Balsem Lang tidak meninggalkan  kesan lengket dibadan. Sehingga balsem ini membuat pemakainya merasa lebih nyaman Rasa lengket kadang  membuat orang lupa membasuh dengan air atau mandi. Sangat tidak diajurkan usai kerokan langsung mandi karena adanya perbedaan suhu badan dan air

Keempat, Balsem Lang berfungsi meringankan rasa sakit seperti pusing, masuk angin, pegal-pegal dan nyeri  sendi. Membantu mengurangi rasa mual atau mabuk perjalanan. Juga menghilangkan gatal karena gigitan serangga.

Dengan kata lain tradisi kerokan dan Balsem Lang  mengajak masyarakat untuk tidak mudah mengonsumsi obat atau latah dikit-dikit minum obat tanpa rujukan dari dokter. Manakala mengalami pusing, kembung, mual dan pegal-pegal cukup kerokan dengan Balsem Lang. Sebab terlalu sering minum obat tanpa ukuran tepat akan membuat tubuh resisten atau berusaha melawan akan segala jenis obat yang masuk ke tubuh. Kerokan tidak kuno tetapi merupakan bentuk melestarikan tradisi yag arif.

https://www.kompasiana.com