Karena Apa Cintamu?

Sabtu, 1 September 2018 | 09:45:55

Karena Apa Cintamu?
 

عن أبي هريرة قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إن اللَّه تعالى يقولُ يَوْمَ الْقِيَامةِ : أَيْنَ المُتَحَابُّونَ بِجَلالِي ؟ الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ في ظِلِّي يَومَ لا ظِلَّ إِلاَّ ظِلِّي » رواه مسلم .

Dari Sayyidina Abu Hurairah رضيَ اللَّه عنهُ berkata : Rasulullah صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم bersabda yang maksudnya "Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman pada hari kiamat: "Manakah orang-orang yang saling cinta-mencintai kerana keagungan-Ku? Pada hari ini mereka itu akan saya beri naungan pada hari tiada naungan melainkan naunganKu sendiri." 
(HR. Imam Muslim)

Mari sejenak merenungkan mutiara hikmah yang terdapat dalam hadits di atas. Apakah kita mempunyai seseorang yang kita cintai karena semata-mata mengharapkan ridha-Nya? Jangan-jangan semua orang yang kita cintai di dunia ini karena ada pamrihnya. Pamrih keuntungan pribadi; finansial, numpang ketenaran, kedudukan atau pun lainnya. Jika ini yang terjadi, maka sungguh kecintaan semacam ini adalah kecintaan yang tidak tulus, kecintaan yang tidak ikhlas karena keagungan-Nya. Kecintaan yang tidak menghadirkan ridha-Nya dan hanya merupakan kecintaan munafik.

Kecintaan sejati justru tampak saat yang kita cintai membutuhkan kita, membutuhkan kehadiran kita, membutuhkan belai sayang kita, membutuhkan motivasi dari kita, mungkin juga membutuhkan bantuan finansial kita. Jika kita mampu memberikan apa yang dibutuhkan pada saat seperti itu tanpa pamrih, maka itulah cinta sejati seorang muslim kepada saudaranya karena Allah semata. Sungguh, kecintaan seorang teman akan tampak saat teman yang dicintainya dalam keadaan sempit, dalam keadaan jatuh, dalam keadaan membutuhkan uluran tangan kasih. Sebaliknya, jika kita mencintainya di saat kita yang membutuhkannya dan kita menjauh darinya saat kita sudah mampu mandiri dan tidak membutuhkan bantuannya, maka itulah kemunafikan dalam persahabatan.

Alangkah mulianya persahabatan dan persaudaraan yang didasari ketulusan, apalagi jika persahabatan dan persaudaraan tersebut karena kesamaan dalam visi perjuangan meninggikan kalimah-kalimah Allah. Mereka yang berjuang menciptakan suasana relijius di tengah masyarakat yang kering akan siraman ruhani, mereka yang merintis atau mempertahankan keberlangsungan berdirinya madrdasah atau pun pesantren di lingkungan yang berhati tandus, mereka yang mengupayakan keberlangsungan hidup janda-janda miskin dan anak-anak terlantar, sungguh mereka telah bahu membahu dan tolong menolong dalam menggapai ridha Ilahi. Mereka yang terlibat dalam perjuangan semacam ini, nyaris senantiasa merasakan kebahagiaan individu adalah kebahagiaan bersama dan demikian pula sebaliknya.

Mengevaluasi kecintaan kita kepada orang-orang terdekat kita dan mereka yang berada di sekeliling kita dalam lingkungan kerja atau pun lainnya, sangatlah penting. Ini kita lakukan agar kita bisa merenungkan apakah kita saat ini memiliki sosok yang kita cintai karena Allah semata, yang dengan kecintaan itu kita berkesempatan mendapatkan naungan-Nya kelak sebagaimana termaktub dalam hadits di atas. Ataukah jangan-jangan saat ini kita tidak memiliki seorang pun yang kita cintai karena-Nya. Yang demikian ini adalah jika cinta kita kepada orang di sekeliling kita masih sebatas karena kemanfaatan profan yang ingin kita raih atau pun ingin kita pertahankan darinya dalam kehidupan sesaat ini.

Semoga kita mampu memiliki sahabat atau pun saudara yang kita saling cinta karena ketulusan lillah, yang dengan saling cinta tersebut, Allah berkenan memberikan naungan yang tentu sangat kita perlukan pada hari yang tiada naungan kecuali hanya naungan-Nya.

 

Oleh: Abdul Rosyid

Pengasuh pondok Pesantren Al Iman Muntilan