Generasi Qurani yang Unik

Kamis, 16 November 2017 | 08:34:07

Generasi Qurani yang Unik

 

Allah sudah menetapkan dalam kitab suci Al Qur'an bahwa jama'ah ini akan selalu mengalami proses pembaharuan melalui kaidah sunnatullah yaitu andaikata ada orang didalam jama'ah ini yang irtidad atau berbalik kembali kebelakang, atau dalam bahasa hadits keluar dari jama'ah, Allah akan menggantikan dengan generasi yang lebih baik. Didalam Qs. 5:54-56, generasi tersebut memiliki ciri bahwa Allah mencintai mereka danmerekapun mencintai Allah, mereka memiliki sikap yang tegas terhadap orang kafir, lemah lembut kepada orang mukmin, tidak takut kepada intimidasi, profokasi dan teror orang kafir, dan mereka selalu berwala' kepada Allah, Rasul dan mukminin serta berkumpul dalam jama'ah yang bercirikan Hizbullah. Mereka inilah yang merupakan 'Abdurrahman, Abdullah, Khalifatullah, Ulul Albab yang dalam tulisan ini disebutkan dengan Jaylul Qur'anil Farid.

1. Generasi Qur'ani Pada Masa Rasululah

Sayid Qutb menyebutkan masyarakat Islam yang terbangun pada masa Rasulullah dengan generasi qur'ani yang unik (jaylul qur'anil farid). Al Our'an benar-benar menjadi suluh penerang bagi kehidupan masyarakat yang sebelumnya diselimuti oleh kabut-kabut jahiliyyah yang bertumpu pada kepercayaan, keyakinan dan ajaran nenek moyang Penegakan disiplin sangat keras dilakukan Rasulullah kepada sahabat untuk hanya menjadikan Al Qur'an sebagai satu-satunya hudan dan furqon bagi jalan kehidupan. HR Abu Ya'la menyebutkan hal ini ketika Rasulullah menegur Umar bin Khattab dengan keras ketika ia terlihat membaca Taurat. Rasulullah mengatakan bahwa andaikata Musa AS hidup pada masa ini tentu ia akan mengikuti aku, sejak saat itu Umar tidak lagi memegang kitab-kitab lain selain Al Qur'an yang dijadikanya sebagai bacaan mulia.

Rasulullah SAW sendiri menjadi figur dan uswah yang sangat konsisten menjadikan ALQur'an sebagai pedoman hidup keseharian, sampai-sampai Nasa'i meriwayatkan jawaban Aisyah ketika ditanya tentang akhlaq Rasulullah. Aisyah menjawab bahwa akhlaq Rasulullah adalah Al Our'an, ia laksana qur'an yang berjalan (the walking qur'an). Seluruh kehidupan Rasululah dan shahabat dibimbing langsung oleh wahyu, baik kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat maupun negara. Tidak ada satupun kejadian dan peristiwa kecuali disitu ada campur tangan Allah melalui wahyu-Nya. (Qs 17:73-77)

2.    Ciri-Ciri Generasi Qur'ani Yang Unik

Sayid Qutb menyebutkan bahwa kemunculan generasi qur'ani tidak hanya bisa terjadi pada masa Rasulullah, namun juga bisa muncul dalam era dan zaman setelannya. Sebab menurut Qutb, andaikata sebab kemajuan umat Islam semata karena ada Rasulullah disamping sahabat, maka umat Islam tidak akan mungkin mendapatkan kejayaan lagi pada masa depan karena Rasulullah telah wafat. Jadi, ada sebab lain yang menjadikan umat Islam jaya yaitu Al Our'an. Dengan kitab inilah bisa lahir sekumpulan manusia, sebaris generasi yang bercirikan Al Qur'an sebagai satu-satunya pedoman hidup (way of live) dari nash-nash kitab suci tersebut Dengan kata lain akan lahir kembali generasi terbaik umat Islam dari celah-celah kitab suci ! Dan ini menjadi suatu keniscayaan sejarah, sebab generasi inilah yang akan mempelopori kembali bangkitnya Umat Islam memimpin dunia sesuai janji Allah SWT dan Rasulullah SAW (Qs. 24:55).

Ada 3 (tiga) ciri generasi qur'ani, dimana dengan ciri-ciri tersebut jika sekumpulan manusia mengikutinya satu persatu maka mereka akan menjelma menjadi generasi terbaik zaman ini, yaitu :

a)    Sumber pengambilan ide/nilai generasi qur'ani adalah alqur'an, hanya Al Qur'an tidak ada yang lainnya (5:105)

b)    Generasi qur'ani mempelajari alqur'an untuk menerima perintah Allah, sebagaimana seorang prajurit menerima perintah harian komandannya (24:51-52), bukan semata menjadikannya sebagai bahan kajian akademis yang tidak menemui implementasi.

c)    Generasi qur'ani melakukan pemisahan secara total antara kehidupannya semasa Jahiliyyah dengan kehidupan Islami (58:22). Dengan Al Qur'an akan terbangun benteng dan pembeda (furqon) yang membedakan antara golongan al Haq dengan al Bathil Sayid Outb menyebutnya dengan 'Uzlah Syu 'uriyah.

3,    Generasi Wahyu Dalam Al Our'an

Sejarah para Nabi dan Rasul adalah sejarah penegakan misi risalah yang secara konseptual dan normatif di tuangkan kedalam wahyu dan secara tekstual termuat dalam kitab suci dan shuhuf yang dicatatkan. Perjuangan anbiyaullah wa rasulullah ini dilakukan secara berjama'ah atau berkelompok menghimpunkan diri dalam sebuah wadah perjuangan yang diproklamirkan oleh para Nabi. Dalam wadah inilah pembinaan dan pembentukan generasi wahyu dilakukan berdasar petunjuk Allah SWT.

Al Our'an mencatat prototype generasi wahyu dalam sejarah penegakan risalah pada beberapa imtitsal dan contoh kelompok-kelompok tersebut tersebut, seperti:

Rasulullah SAW sendiri menjadi figur dan uswah yang sangat konsisten menjadikan ALQur'an sebagai pedoman hidup keseharian, sampai-sampai Masa'i meriwayatkan jawaban Aisyah ketika ditanya tentang akhlaq Rasulullah, Aisyah menjawab bahwa akhlaq Rasulullah adalah Al Qur'an, ia laksana qur'an yang berjalan (the walking qur'an) Seluruh kehidupan Rasululah dan shahabat dibimbing langsung oleh wahyu, baik kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat maupun negara. Tidak ada satupun kejadian dan peristiwa kecuali disitu ada campur tangan Allah melalui wahyu-Nya. (Qs. 17:73-77)

2.    Ciri-Ciri Generasi Qur'ani Yang Unik

Sayid Qutb menyebutkan bahwa kemunculan generasi qur'ani tidak hanya bisa terjadi pada masa Rasulullah, namun juga bisa muncul dalam era dan zaman setelannya. Sebab menurut Qutb, andaikata sebab kemajuan umat Islam semata karena ada Rasulullah disamping sahabat, maka umat Islam tidak akan mungkin mendapatkan kejayaan lagi pada masa depan karena Rasulullah telah wafat. Jadi. ada sebab lain yang menjadikan umat Islam jaya yaitu Al Qur'an. Dengan kitab inilah bisa lahir sekumpulan manusia, sebaris generasi yang bercirikan Al Our'an sebagai satu-satunya pedoman hidup (way of live) dari nash-nash kitab suci tersebut. Dengan kata lain akan lahir kembali generasi terbaik umat Islam dari celah-celah kitab suci ! Dan ini menjadi suatu keniscayaan sejarah, sebab generasi inilah yang akan mempelopori kembali bangkitnya Umat Islam memimpin dunia sesuai janji Allah SWT dan Rasulullah SAW (Qs. 24:55).

Ada 3 (tiga) ciri generasi qur'ani, dimana dengan ciri-ciri tersebut jika sekumpulan manusia mengikutinya satu persatu maka mereka akan menjelma menjadi generasi terbaik zaman ini, yaitu:

a)    Sumber pengambilan ide/nilai generasi qur'ani adalah alqur'an, hanya Al Qur'an tidak ada yang lainnya (5:105)

b)    Generasi qur'ani mempelajari alqur'an untuk menerima perintah Allah, sebagaimana seorang prajurit menerima perintah harian komandannya (24:51-52), bukan semata menjadikannya sebagai bahan kajian akademis yang tidak menemui implementasi.

c)    Generasi qur'ani melakukan pemisahan secara total antara kehidupannya semasa Jahiliyyah dengan kehidupan Islami (58:22). Dengan Al Qur'an akan terbangun benteng dan pembeda (furqon) yang membedakan antara golongan al Haq dengan al Bathil. Sayid Outb menyebutnya dengan Uzlah Syu'uriyah.

3.    Generasi Wahyu Dalam Al Our'an

Sejarah para Nabi dan Rasul adalah sejarah penegakan misi risalah yang secara konseptual dan normatif di tuangkan kedalam wahyu dan secara tekstual termuat dalam kitab suci dan shuhuf yang dicatatkan. Perjuangan anbiyaullah wa rasulullah ini dilakukan secara berjama'ah atau berkelompok menghimpunkan diri dalam sebuah wadah perjuangan yang diproklamirkan oleh para Nabi. Dalam wadah inilah pembinaan dan pembentukan generasi wahyu dilakukan berdasar petunjuk Allah SWT.

Al Our'an mencatat prototype generasi wahyu dalam sejarah penegakan risalah pada beberapa imtitsal dan contoh kelompok-kelompok tersebut tersebut, seperti:

a)    Hawariyyun dalam jama'ah Isa AS (Qs. 61:10)

b)    Fi'ah Qolilah dalam jama'ah Tentara Thalut (Qs 2:249)

c)    Pimpinan Jama'ah (Nubaqa) dalam Harakah Musa AS (Qs. 5:12)

d)    Ashabul Kahfi (Qs 18:22)

e)    Pengikut Nuh yang masuk dalam bahtera (Qs. 11:37-40)

f)    Assabiqunal Awwalun pada jama'ah Rasulullah SAW (Qs. 9:100)

g)    Nuqaba sebagai pimpinan kaum anshor Madinah pada masa Rasulullah, Menariknya, mereka-mereka yang disebutkan diatas berjumlah 12 orang, yang secara sosiologis merupakan ukuran bagi sebuah kelompok yang dinamis dan efektif

4.    Pewarisan Al Ojur'an.

Generasi qur'ani adalah generasi yang menjadikan alqur'an sebagai manhaj kehidupan (minhajul hayah). Generasi ini adalah hamba-hamba yang telah dipilih Allah untuk mewarisi alqur'an. Pesan-pesan langit, rahasia-rahasia ghaib dan petunjuk-petunjuk Al Our'an hanya bisa diwariskan kepada mereka yang dalam Qs 35:29-31 disebutkan sebagai : Selalu membaca alqur'an, Menegakkan shalat. Menginfakkan rizkinya, Mengharapkan perniagaan yang tiada pernah merugi (48:10-12), Mereka inilah yang memiliki sikap proaktif dalam menegakkan alqur'an dalam kehidupannya (35:32).

Al-Hajj menyebutkan sebuah hakikat penting dalam masalah ini, yaitu bahwa pada hakikatnya generasi Al Our'an itu adalah orang-orang yang telah dipilih oleh Allah untuk berjuang menegakkan Dinullah (Qs. 22:78). Agar seorang muslim bisa memperolehmaqom yang sangat mulia ini, memang harus melalui ujian yang sangat berat (Qs. 2:214), ujianlah yang akan dapat membedakan mukmin dan sekedar mengaku mukmin (Qs. 29:1-2 49:14-15). Kuncilah adalah melakukan jihad dengan sebenar-benarnya (haqqa jihadih Qs. 22:78), sebab dengan cara berjihad inilah Allah akan menunjuki jalan-Mya kepada mukmin (Qs. 29:69). Dengan demikian, jalan jihadlah yang membedakan seseorang dimana ia berpijak, apakah pada jalan Allah (sabilillah) atau pada jalan Thugyan, jalannya orang-orang yang melampauai batas. (Qs 4:76 16:36)

At-Taubah dan Al-Baqarah dalam salah satu ayatnya menyebutkan tahapan prosedural dan methodologi s dalam usaha penggapaian maqom terbaik disisi Allah, yang menempati derajat tertinggi dalam setelah maqom Anbiyaullah dan Rasulullah, yaitu proses mencapai keimanan yang sejati, kemudian pindah secara ruhaniyah dan tanzhimiyah serta pada akhirnya berjuang dalam tanzhim harakah yang bersendikan Al Our'an dan Hadist Shohih sebagai basis tatanan siyasah dan hukumnya (Qs. 2:218 9:20).

 5.    Proses Penerimaan Wahyu

Agar dapat memasuki dunia Al Qur'an yang seakan-akan Allah berbicara kepada kita melalui kitab-Nya, maka ada beberapa persyaratan yang perlu kita persiapkan,

a) Kriteria Qur'ani tentang keterlibatan hati. Katakanlah kepada diri sendiri, "Bacaan Our'an saya tidak akan menjadi tilawah yang benar jika tidak melibatkan diri kedalamnya seperti yang dikehendaki Allah". Seperti apa yang dikehendaki Allah, yaitu seperti yang disebutkan didalam Qs. 8:2 39:23 17:107-109 19:58 5:83

b)    Allah adalah dekat. Katakan pada diri bahwa Allah adalah dekat, dimana saja kita berada, saat kapan kita membaca. Yakini dan sadari bahwa Allah mendengar, melihat, mengetahui dan mencatat apa yang sedang kita lakukan. Qs. 57:4 50:16 58:7 20:46 52:48 36:12 10:61. Inilah sikap ihsan sebagaimana hadits Nabi.

 c)    Mendengar dari Allah Katakan pada diri sendiri bahwa saat membaca AlQur'an kita mendengar Allah berfirman melalui bacaan kita, usahakan seakan-akan kita mendengar langsung firman Allah, huruf-huruf yang kita baca, kalimat demi kalimat yang kita baca adalah kita mendengar pada saat itu juga dari Allah SWT. Dalam buku ihya, Al Ghazali bercerita tentang seseorang yang berkata, "Saya telah membaca Al Our'an, tetapi tidak pernah merasakan manisnya perasaan setelah membacanya, kemudian saya membacanya dengan perasaan seakan-akan saya sedang mendengarnya dari majlis Rasulullah yang sedang membacakannya didepan shahabat. Kemudian saya membacanya dengan perasaan seakan-akan Al Qur'an itu saya dengar dari Jibril saat menyampaikanya kepada Rasulullah. Kemudian Allah meningkatkan saya ketingkat yang lebih tinggi, yaitu saya mulai membaca Al Qur'an dengan perasan seakan-akan saya mendengarnya dari Sang Pemberi Kalam".

 d)    Setiap kata untuk kita. Katakan pada diri bahwa setiap kata dalam Al Qur'an ditujukan kepada kita sendiri. Jika berbicara larangan, seakan-akan larangan itu untuk diri kita sendiri, jika berbicara tentang perintah, seakan-akan Allah secara langsung memberikan kita perintah untuk melakukan sesuatu. Sayid Qutb, menyebutnya laksana seorang prajurit yang bersiap menerima Perintah Harian dari komandannya, maka seorang muslim ketika pagi hari membaca Al Qur'an ia bersiap untuk menerima perintah apa yang akan dikerjakan pada hari itu dari Allah SWT.

 e)    Percaya dan yakin akan setiap janji Allah SWT. Janji-janji Allah meliputi janji kebaikan dan keburukan, bagi mukmin yang melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya maka kebaikan untuknya kelak di akhirat, demikian sebabnya bagi kafirin. Bukan saja kebahagiaan dan keburukan dihari akhir, Allah juga memberikan nilai lebih dan kebaikan kepada mukmin ketika mereka masih di dunia. Janji Allah untuk melepaskan muttaqin dari setiap masalah yang dihadapinya, janji Allah untuk menjadikan mukmin yang beramal sholeh dengan Khilafah Islamiyah di dunia, sebelum datang hari Kiamat.

Jika syarat-syarat itu dipenuhi Insya Allah, wahyu akan diterima oleh orang-orang mukmin untuk menjadi bekal dan petunjuk dalam menjalani kehidupan dunia yang teramat fana ini.

 

http://taklimquran.blogspot.co.id