Fakta Kebesaran Allah dalam Otak Manusia

Selasa, 19 Maret 2019 | 08:43:15

Fakta Kebesaran Allah dalam Otak Manusia

 

Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang sempurna dengan panca indra, hati, akal, sudah seharusnya dapat menggunakannya dengan baik untuk melihat dan meresapi berbagai ciptaan Allah yang menjadi tanda kebesaran-Nya. Juga menggunakannya untuk mensyukuri segala nikmat-Nya, juga untuk berfikir atau merenungi segala tanda kekuasaan-Nya. Sesungguhnya banyak hal dan benda di sekitar kita yang jika kita amati dan renungkan, terdapat tanda kebesaran Allah didalamnya. Allah pun telah menyeru kita agar memperhatikan dan merenungkan ciptaan-Nya. Allah berfirman di dalam Surat Al-Ankabut ayat 20,

“Katakanlah, “Berjalanlah di bumi, maka perhatikanlah bagaimana (Allah) memulai penciptaan (makhluk), kemudian Allah menjadikan kejadian yang akhir. Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Beruntunglah kita yang diberi kemauan juga kemampuan untuk menyadari tanda-tanda kebesaran-Nya. Pada mata kuliah Anatomi Fisiologi kita mempelajari tentang struktur bagian tubuh manusia dan fungsinya serta bagaimana setiap bagian tersebut bekerja. Dengan mempelajari ilmu tersebut kita dapat menyadari bahwa begitu sempurnanya Allah menciptakan manusia. Seperti yang disebutkan Allah dalam Al- Qur’an di Surah At-Tin ayat 4 yang berbunyi,

 “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.

Dimulai dari unit terkecil kehidupan yaitu sel, kemudian Allah ciptakan lagi jaringan yang terdiri dari sekumpulan sel, dan seterusnya sampai terbentuklah individu yang sempurna. Jika kita mau merenungi, di dalam tubuh manusia terdapat banyak sekali tanda kebesaran Allah. Bagaimana tidak, banyaknya benda atau organ di dalam tubuh kita memiliki fungsinya masing-masing yang sudah Allah atur dengan rapi. Seorang manusia hanya perlu menjalankan kehidupannya saja tanpa memikirkan lagi bagaimana cara membuat benda atau organ-organ di dalam tubuhnya dapat bekerja. Salah satu organ yang membuat saya begitu takjub akan kebesaran Allah adalah otak. Otak adalah salah satu organ yang penting dan paling kompleks dalam tubuh manusia. Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan otak dengan fungsi dan cara kerja yang luar biasa. Sebab otak menjadi pusat pengendali segala aktivitas yang dilakukan oleh setiap organ dalam tubuh manusia, juga mengendalikan sistem saraf pusat agar bisa bekerja secara normal. Hal ini menjadi bukti bahwa Allah membebaskan manusia untuk merancang sendiri kehidupannya, namun tetap dengan konsekuensi dan tanggung jawab.

Otak manusia normal mempunyai berat sekitar 1200-1400 gram atau  2% dari berat badan orang dewasa. Namun keunggulan manusia terletak pada perkembangan otaknya, bukan pada seberapa besar atau kecil ukuran otaknya. Sehingga tidak menutup kemungkinan untuk manusia yang kurang normal memiliki kemampuan berpikir yang lebih cerdas daripada manusia normal. Otak manusia menerima 20 % curah jantung, memerlukan 20% pemakaian oksigen tubuh dan sekitar 400 kilokalori energi setiap harinya. Otaklah yang paling banyak membutuhkan energi untuk dapat bekerja dengan baik terutama yang berasal dari proses metabolisme oksidasi glukosa. Jaringan otak sangat rentan terhadap perubahan oksigen dan glukosa darah, aliran darah berhenti 10 detik saja sudah dapat menghilangkan kesadaran manusia. Jika berhenti dalam beberapa menit dapat merusak permanen otak. Hipoglikemia yang berlangsung berkepanjangan juga akan merusak jaringan otak.

Ketika lahir, seorang bayi telah mempunyai 100 miliar sel otak yang aktif (neuron) dan 900 miliar sel otak pendukung (glia), setiap neuron mempunyai cabang hinggá 10.000 cabang dendrit yang dapat membangun sejumlah satu kuadrilion (angka 1 diikuti dengan 15 angka nol) koneksi. Maa syaa Allah, begitu Maha Besar-Nya Allah atas ciptaan-Nya. Perkembangan otak pada minggu-minggu pertama lahir diproduksi 250.000 neuroblast (sel saraf yang belum matang), kecerdasan mulai berkembang dengan terjadinya koneksi antar sel otak. Mereka berkomunikasi dengan neuron yang lain ke seluruh tubuh dengan mengirimkan berbagai macam bahan kimia yang bertugas memasukkan informasi ke dalam sel saraf. Bahan kimia ini disebut neurotransmitter. Neurotransmitter dikirimkan pada celah kecil yang di kenal sebagai sinaps. Setelah terjadi koneksi antar sel otak, muncul percabangan. Semakin banyak percabangan yang terbentuk, semakin berkembanglah kecerdasan dan daya ingat seseorang. Kecerdasan ini harus dilatih melalui stimulasi. Tanpa stimulasi yang baik, potensi ini akan tersia-siakan. Hal ini juga berarti kita tidak mensyukuri dan tidak memanfaatkan nikmat Allah dengan baik. Inilah jawaban mengapa jika kita ingin cerdas harus banyak belajar dan membaca. Sebab membaca dan belajar adalah salah satu cara untuk menstimulasi terkoneksinya saraf antar sel otak.

Otak berwujud jaringan lunak, 85% bagian otak yang paling luar adalah air. Begitu lunaknya otak, sehingga apabila dibiarkan begitu saja di atas permukaan yang keras, daya tarik gravitasi akan sanggup mengubah bentuknya. Namun Maha Sempurna Allah atas segala yang Dia ciptakan. Allah menciptakan otak yang berwujud jaringan lunak tersebut, namun Allah ciptakan juga pelindungnya, yaitu berupa cairan serebrospinal yang memberi kemampuan mengapung yang nyaris menetralkan daya tarik gavitasi di dalam tengkorak sepenuhnya. Cairan ini juga berfungsi sebagai bantalan pada otak yang melindunginya ketika terjadi benturan. Tidak dapat kita bayangkan bagaimana jika otak yang merupakan organ penting bagi manusia tidak memiliki pelindung.

Ada hal menarik yang membuat otak menjadi organ yang semakin menakjubkan bagi saya. Hal menakjubkan ini berawal ketika seorang ahli neurologi asal Amerika Serikat, yaitu Dr. Fidelma O’Leary yang mendapat hidayah saat ia sedang melakukan kajian mengenai saraf otak manusia. Dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia yang tidak teraliri darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan suplai darah yang cukup agar dapat berfungsi secara normal. Setelah diteliti lebih lanjut dengan memakan waktu yang cukup lama, ia menemukan fakta bahwa darah tidak dapat mengaliri beberapa urat saraf tersebut secara sempurna kecuali ketika manusia melakukan gerakan sujud dalam sholat. Dan beberapa urat saraf tersebut hanya butuh dialiri darah untuk beberapa saat tertentu saja. Yakni mengikut kadar waktu sholat yang diwajibkan oleh Islam. Untuk memperkuat kebenaran ini, Columbia University State juga pernah melakukan penelitian tentang otak. Hasil penelitian pun menunjukkan fakta yang sama, bahwa terdapat bagian pada otak manusia yang tidak teraliri darah. Bagian tersebut hanya dapat teraliri darah bila kita melakukan gerakan khusus seperti sujud yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Walaupun tidak menyebutkan secara gamblang tentang waktu-waktu tersebut, namun waktu-waktu tersebut berada pada sekitar lima waktu sholat yang kita (umat islam) lakukan setiap hari. Mungkin akan muncul pertanyaan, seberapa pentingkah bagian otak tersebut harus teraliri darah? Maka jawabannya adalah sangat penting. Sebab dengan teralirnya darah pada bagian otak tersebut, dapat membuat otak bekerja secara maksimal. Sehingga kemampuan otak dalam bekerja (seperti menghitung, menghafal, belajar, dan lain-lain) bisa lebih baik dan tentunya meningkatkan kecerdasan seseorang. Maa syaa Allah, Maha Besar Allah atas segala ciptaan-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar menciptakan manusia dengan sempurna, Allah selipkan tanda-tanda kebesaran-Nya disetiap apa yang Dia ciptakan.

Sebuah penemuan menarik pada tahun 1997 oleh seorang ahli ilmu saraf berdarah India dari Universitas California di San Diego, yaitu Profesor Vilayanur Ramachandran. Ia menemukan adanya God Spot atau Titik Tuhan dalam otak manusia. God Spot terletak di antara hubungan syaraf dalam cuping-cuping temporal otak, melalui pengamatan terhadap otak dengan topografi emisi, posisi pada daerah syaraf tersebut akan bersinar apabila subyek penelitian diarahkan untuk mendiskusikan spriritual atau agama. Namun adanya God Spot ini bukan berarti Tuhan berada di dalam otak manusia dan menyatu dengan makhluk-Nya. Karena Allah telah berfirman di dalam Surat Thoha ayat 5 yang berbunyi, “(Yaitu) Robb Yang Maha Pengasih, yang Bersemayam di atas Arsy”. Maka god spot disini merupakan saraf kecil di dalam otak manusia yang mampu merespon terhadap aspek agama dan ketuhanan. Allah meletakkan saraf god spot di dalam otak manusia sebagai salah satu cara un­tuk Dia berhubungan dengan hamba-Nya. Dan kita sebagai hamba harus mengembangkan lagi saraf ini jika kita mau lebih mengenal dan memahami tentang kebesaran Allah. Jangan sampai kita termasuk ke dalam orang-orang yang dikatakan “summun bukmun ‘umyun” (tuli, bisu dan buta) karena tidak mau mengenal dan memahami kebesaran Allah.

Kemampuan memori otak manusia sangat besar sekali. Menurut salah seorang penulis kelas dunia yang telah menulis banyak buku mengenai otak dan pembelajaran, yaitu Tony Buzan, kapasitas memori otak adalah 10 pangkat 800 (angka 10 diikuti 800 angka 0 dibelakangnya). Bila memori ini di gunakan untuk menghafal seluruh atom di alam semesta maka kapasitas memori masih bersisa banyak sekali. Maa syaa Allah. Tentu tidak akan ada komputer ciptaan manusia yang mampu mengalahkan kemampuan memori otak manusia ciptaan Allah ini. Begitu besar kapasitas tersebut, namun mengapa kita seringkali lupa dan sulit dalam menghafal sesuatu? Sebelumnya, kita harus mengetahui perbedaan menghafal dan daya ingat. Menghafal adalah proses menyimpan data ke memori otak. Kemampuan menghafal manusia sangat besar, yaitu seperti data yang telah dipaparkan di atas. Sedangkan daya ingat adalah kemampuan mengingat kembali data-data yang telah tersimpan di memori otak kita bila diperlukan. Menurut para ahli, kesulitan dalam mengingat dikarenakan informasi yang diterima tidak disimpan dalam otak. Memang tidak semua informasi dapat disimpan, hanya hal penting yang menarik perhatianlah yang tersimpan dengan baik dalam otak. Ingatan juga mudah menurun yang disebabkan oleh penurunan fungsi otak. Masalah ini tentunya merisaukan dan tentunya membuat prestasi menurun. Namun sebenarnya Islam telah memiliki solusi untuk masalah ini. Sebab Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata,

“Terdapat tiga perkara yang menguatkan ingatan dan menghilangkan lupa, yaitu bersiwak (menggosok gigi), berpuasa dan membaca Al-Qur’an”.

Sebagai contoh, seorang dokter cilik (dulu, sekarang tidak lagi cilik) dari iran, Husen namanya. Beliau mampu menghafal Al-Qur’an di usia 6 tahun. Menurut cerita orang tuanya, dia selalu diperdengarkan Al-Qur’an sejak masih dalam kandungan. Ayah dan ibunya selalu membaca Al-Qur’an sejak Husen berada dalam kandungan sampai setelah lahir. Hal ini menjadi bukti keterkaitan yang sangat erat antara otak dengan ibadah yang dianjurkan dalam Islam. Dimana anjuran-anjuran ibadah tersebut memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap otak.

Demikian beberapa fakta kebesaran Allah dalam otak manusia yang dapat saya paparkan. Sesungguhnya masih banyak sekali tanda-tanda kebesaran-Nya yang terdapat dalam tubuh kita. Di dalam Al-Qur’an juga Allah sudah berfirman,

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhan-mu menjadi saksi atas segala sesuatu?” [QS. Fushshilat(41):53].

Allah telah memberikan tanda-tanda-Nya kepada kita, kita hanya perlu mencari tahu, memahami dan merenungi-Nya sebagai bahan untuk kita bersyukur kepada Allah. Semoga dengan mengetahui beberapa fakta kebesaran Allah dalam otak manusia dapat menambah keimanan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

https://fakhriyahelita.wordpress.com