CARA RASULULLAH SAW MENGKONSUMSI MAKANAN

Sabtu, 28 Juli 2018 | 09:18:22

CARA RASULULLAH SAW MENGKONSUMSI MAKANAN

 

 

 Saat seorang muslim mengakui kerasulan Muhammad SAW, setiap perilaku Rasulullah SAW menjadi acuan dalam berpikir, bersikap dan berbuat, termasuk cara Beliau menjaga kesehatan.  Rasulullah SAW makan dengan aturan-aturan yang luar biasa sehat, terbukti dari berbagai riset yang dilakukan ilmuwan, dari zaman dahulu hingga kini.  Setiap bahan makanan yang Beliau makan– seperti madu, cuka, kurma ajwah, air dan lain-lain– dipilih dengan baik atas pertimbangan ”Halalan Thayyiban”, yakni halal dan baik.  Bukan cuma bahan makanannya, tapi cara mengkonsumsinya pun dicontohkan dengan jelas dalam hadits-hadits Beliau.  Tulisan ini mengkaji berbagai bahan makanan pilihan Rasulullah SAW dan khasiatnya sesuai literatur medis kedokteran dan ilmu gizi.

Kata Kunci: Cara makan Rasulullah, Halalan Thayyiban.

PENDAHULUAN

Kehidupan Rasulullah SAW telah banyak menarik perhatian ilmuwan muslim maupun non muslim.  Setiap sisi kehidupan Beliau digali dan dikaji dengan sungguh-sungguh untuk menyingkap alasan ilmiah di balik hadits-hadits Beliau, baik perkataan, perbuatan maupun diamnya Beliau.

Sisi kesehatan Rasulullah SAW mulai sering dikaji setelah penelitian-penelitian di bidang kesehatan berkembang dengan pesat, karena tingginya angka gangguan kesehatan di kalangan muslim.  Hal ini diinspirasikan oleh kenyataan bahwa Rasulullah SAW dan para sahabat Beliau jarang sekali sakit.  Namun, mengapa muslim saat ini sulit mencapai tingkat kesehatan seperti mereka?

Alasan yang paling mudah adalah karena muslimin kini telah meninggalkan kebiasaan yang disarankan oleh idola dan pimpinan mereka, Nabi Muhammad SAW.  Kajian-kajian tentang kehidupan Rasulullah SAW dititik beratkan pada aspek ibadah ritual saja, meninggalkan aspek-aspek lainnya, termasuk aspek kesehatan.  Salah satu fokus pengkajian bidang kesehatan adalah tentang nutrisi dan gizi atau asupan makanan yang dicontohkan Rasulullah SAW.  Singkatnya, bagaimana cara Rasulullah SAW makan?  Apakah Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk memakan jenis-jenis makanan tertentu? Adakah waktu-waktu tertentu untuk memakan makanan tertentu, misalkan saat berbuka puasa? Di samping bahan makanan, adakah anjuran untuk mengkombinasi makanan? Bagaimana aturan makan ala Rasulullah SAW? Semua pertanyaan itu mengajak para ilmuwan berfikir keras.

BAHAN MAKANAN RASULULLAH SAW  MENURUT LITERATUR ISLAM.

Dalam setiap aktifitas dan pola hidupnya, Rasulullah SAW memang sudah disiapkan untuk menjadi contoh teladan bagi semua manusia, termasuk dalam hal pola makan.   Salah satu faktor penting penunjang fisik prima Rasulullah adalah kecerdasan beliau dalam memilih menu makanan dan mengatur pola konsumsinya.

dengan mencontoh pola makan Rasulullah, kita sebenarnya sedang menjalani terapi pencegahan penyakit dengan makanan (attadawi bil ghidza`). Ini tentu jauh lebih baik daripada kita harus bergantung dengan obat-obatan.

Hal-hal yang menjadi menu keseharian Rasulullah antara lain adalah:

Madu.  Lepas dari subuh, Rasulullah membuka menu sarapannya dengan segelas air yang dicampur dengan sesendok madu asli (Bajri, 2008).

Masuk waktu dluha, Rasulullah selalu makan tujuh butir kurma ajwa`/matang. Sabda beliau, barang siapa yang makan tujuh butir korma, maka akan terlindungi dari racun.

Menjelang sore hari, menu Rasulullah selanjutnya adalah cuka dan minyak zaitun. Tentu saja bukan cuma cuka dan minyak zaitunnya saja, tetapi di konsumsi dengan makanan pokok, seperti roti misalnya.

Rasulullah selalu berbuka puasa dengan segelas susu dan korma, kemudian sholat maghrib.

Beliau makan buah tin dan zaitun.  Ada kisah menarik sehubungan dengan buah tin dan zaitun, yang Allah bersumpah dengan keduanya. Dalam al Quran, kata “at tin” hanya ada satu kali, sedangkan kata “zaytun” di ulang sampai tujuh kali.

Di malam hari, menu utama Rasulullah adalah sayur-sayuran. Beberapa riwayat mengatakan, beliau selalu mengkonsumsi sana al makki dan sanut. Keduanya adalah jenis sayur-sayuran.

Disamping menu wajib di atas, ada beberapa jenis makanan yang disukai Rasulullah tetapi beliau tidak rutin mengkonsumsinya. Diantaranya tsarid, yaitu campuran antara roti dan daging dengan kuah susu masak. Terkadang Beliau makan yaqthin atau labu manis. Kemudian beliau juga senang makan anggur dan hilbah.

 PENJELASAN ILMIAH DI BALIK BAHAN MAKANAN PILIHAN RASULULLAH SAW.

KHASIAT AIR PUTIH.

Air merupakan komponen pokok dari darah yang menjadi alat transportasi dalam tubuh manusia.  Mengingat pentingnya fungsi air dalam tubuh, kecukupan air dalam tubuh harus tetap dijaga agar tidak berkurang.

Bila aliran air kurang lancar dalam tubuh, salah satunya disebabkan karena kurangnya masukan cairan ke tubuh.  Akibatnya keseimbangan kerja organ-organ tubuh akan terganggu dan penumpukan toksin akan meningkat dan menimbulkan berbagai penyakit.  Air bagi tubuh ibarat oli bagi mesin.

Bajri (2008) menerangkan bahwa cara minum yang baik dan benar adalah dengan menyesuaikan dengan karakter tubuh dan karakter air itu sendiri.  Tubuh kita membutuhkan air minimal 2 liter atau 8 gelas ukuran 250 cc.

Menurut Bajri, kita sebaiknya minum 2 jam sebelum atau 2 jam setelah makan.  Kebiasaan minum saat makan atau langsung setelah makan tidaklah baik, karena mengganggu pengolahan makanan, karena makanan telah dicampur dengan air liur yang mengndung enzim amylase dan gastric juice.  Air akan memisahkan makanan dari enzim-enzim dari air liur dan gastric juice.

Saat minum terbaik adalah langsung saat bangun tidur 2 gelas, setiap 2 jam sesudahnya atau 2 jam sebelum makan, dan 2 jam sebelum tidur.

Jika kita membiasakan minum sebelum tidur akan membuat istirahat ginjal terganggu.  Banyaknya cairan yang masuk pada malam hari akan memaksa ginjal bekerja keras, padahal ginjal telah bekerja keras di siang hari.  Di samping itu tidur kita pun terganggu, karena sering buang air kecil, padahal kualitas tidur mempengaruhi kesehatan kita juga.

2.       KHASIAT MADU.

Bajri (2008) menguraikan keajaiban madu dengan sangat rinci.  Beliau menerangkan bahwa madu dikenal sebagai “the food of God”, yaitu makanan atau minuman pemberian Tuhan karena khasiatnya yang luar biasa.  Madu merupakan pemulih stamina terbaik (best tonic) karena mampu menjaga kadar gula tetap stabil.  Madu juga menurunkan morbiditas penyakit saluran nafas pada anak, dan meningkatkan nafsu makan pada balita.  Madu juga mampu mengendalikan bakteri “jahat” karena berfungsi sebagai prebiotik.  Ada beberapa faktor yang membuat madu menjadi probiotik, antara lain:

a)   Kadar gula alami (glukosa, fruktosa dan sukrosa) yang tinggi pada madu mampu menghambat pertumbuhan dan perkembangan bakteri.

b)   Madu bersifat asam,  mengandung asam formiat, asam malat, asam asetat, asam sitrat, asam suksinat, dengan pH 3-4 yang tidak disukai bakteri patogen.

c)   Madu mengandung senyawa radikal hydrogen peroksida yang sanggup mematikan bakteri dan berbagai mikroorganisme jahat lainnya.

d)  Madu mengandung senyawa antibakteri lainnya seperti inhibine dari kelompok flavonoid, glikosida, dan polyphenol.

e)   Madu mengandung senyawa 10- hidroxidecen-2-oic acid, merupakan senyawa anti bakteri yang dikandung royal jelly pada madu.

Khasiat madu bagi manusia telah dijamin oleh Allah SWT pencipta manusia, dalam al Qur’an pada surah An Nahl (lebah), yakni surah ke 16 ayat 69 yang artinya:

“ Dari perut lebah itu keluar minuman yang bermacam-macam warnanya.  Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia….”

Cara meminum madu adalah diminum 2 sendok makan pada pagi dan malam, dapat juga dicampurkan dengan segelas air atau segelas susu.  Carilah madu yang asli, belum dicampur dengan gula atau pun bahan lain (Aydid, 1997).

KHASIAT KURMA AJWA.

Kurma mengandung banyak karbohidrat, 14 jenis asam lemak, 15 jenis garam-garaman dan mineral, 23 jenis asam amino penyusun protein, 6 jenis vitamin dan serat dalam prosentase yang cukup.  Tak heran jika kurma disebut juga buah yang berpotensi menjadi makanan terbaik di masa depan karena  walau dimakan dalam jumlah yang sedikit, kurma telah member nutrisi yang lengkap (Shahib & Marshall, 2003).

Kurma pada bentuk ruthab atau masih basah mampu mencegah perdarahan berlebihan pada wanita nifas, karena mengandung hormone oxytocine yang membantu kontraksi rahim dan memudahkan untuk menyusui.  Tekstur serat kurma yang cukup halus aman untuk kondisi gastritis dan entiritis, juga baik untuk mengatasi konstipasi.  Khusus kurma ajwa, Rasulullah SAW menekankan khasiatnya yang dapat mencegah dan mengobati gangguan jin (Anonim, 2009).

KHASIAT CUKA.

Jarvis (1986) menceritakan pengalamannya sebagai dokter di daerah Vermont, bahwa orang-orang yang berpenyakit reumatik sembuh saat mengkonsumsi cuka apel.  Konsumsi cuka terbukti baik dikonsumsi orang sehat dan penderita diabetes karena mampu menurunkan respon glukosa terhadap konsumsi karbohidrat, juga membuat kita lebih cepat kenyang (Johnston & Gaas, 2006).

 Cuka juga diduga dapat menjadi bahan penghilang lemak dan dapat menurunkan berat badan sampai 10% (Kondo, 2009).

Minyak Zaitun.

Minyak zaitun mengandung fraksi fenol, squalene dan asam lemak tak jenuh tunggal, asam oleat, yang sangat baik bagi kesehatan.  Fraksi fenolnya terdiri dari lebih dari satu kelas, bahkan 3 kelas: fenol simpel (hydroxytyrosol, tyrosol); secoiridoids (oleuropein) dan lignans [(+)-1-acetoxypinoresinol dan pinoresinol].   Ketiga jenis fenol ini memiliki potensi sebagai antioksidan pencegah kanker. Terutama kanker colon, payudara dan kanker kulit.  Juga mencegah penyakit jantung koroner dan penuaan dini.  Sebaiknya minyak zaitun dikonsumsi dalam bentuk extra virgin atau minyak yang belum dipanaskan (Owen et al, 2000).  Dengan senyawa polifenolnya ini minyak zaitun juga berkhasiat sebagai antiinflamasi dan antimicrobial (Tripoli et al, 2005).

Khasiat Buah Tin.

Dikenal sebagai fig fruit, yang banyak tumbuh di mediterania.  Buah tin kaya dengan polyphenols, flavonoids, dan  anthocyanins.  Kombinasi ketiganya menghasilkan kemampuan antioksidan yang tinggi sebagai pencegah kanker (Solomon et al, 2006).

Buah tin juga mampu mengurangi lemak pada makanan tanpa mengubah rasa dan tekstur makanan, contohnya jika buah tin ditambahkan pada es krim.  Tentu hal ini akan mengurangi kadar cholesterol darah.  (Murtaza et al, 2004)

KHASIAT SANNA DAN SANUT (SAYURAN).

Suplai mineral dan vitamin untuk tubuh kita sebagian diperoleh dari sayur-sayuran.  Semakin banyak kita mengkonsumsi makanan sehat, seperti sayur dan buah-buahan organic yang tinggi gizi dan serat, semakin sehat pula tubuh kita.  Memang tidak mudah dan tidak murah kita mendapatkan sayur dan buah organic.  Akan tetapi , setidaknya makan sayur dan buah non organic lebih baik daripada tidak memakannya sama sekali.  Asalkan sebelumnya kita cuci dahulu dengan bersih agar sisa-sisa cemaran pestisida, herbisida atau fungisida segera hilang (Bajri, 2008).

8.      KHASIAT LABU.

Biji Labu mengandung lipofilik antioxidant yang dapat mencegah efek dari radikal bebas (Fruhwith, 2008).Labu mengandung vitamin A yang tinggi sehingga berguna untuk mencegah kebutaan karena defisiensi vitamin A, juga meningkatkan daya tahan tubuh anak-anak (Faber et al, 2001).  Sebuah jurnal di Afrika meneliti bahwa campuran labu, telur dan susu dapat menaikkan kadar haemoglobin pada ibu hamil, sehingga mengurangi risiko perdarahan dan transfusi darah, sehingga akan menurunkan risiko terpapar HIV dan Hepatitis B (Olaniyan & Adeleke, 2005).

9.      KHASIAT ANGGUR.

 Buah ini mengandung komponen yang disebut resveratrol yang menghalangi pertumbuhan tumor.  Anggur juga mengandung asam elagik yang mencegah sekresi enzim buruk pemicu kanker.  Buah lain yang mengandung resveratol adalah apel, stroberi, dan raspberi.  Jadi, jika tidak suka anggur kita dapat memilih ketiga buah lainnya tersebut (Azhar, 2007). 

TATA CARA MAKAN RASULULLAH SAW.

Tata cara mengkonsumsi makanan tidak kalah pentingnya dengan pemilihan menu. Sebab setinggi apapun gizinya, kalau pola konsumsinya tidak teratur, akan buruk juga akibatnya. At Tuwim (2007) menulis tentang beberapa kaidah yang dicontohkan oleh Rasullah SAW adalah:

Menghindari israf, atau berlebihan. Sabda Rasulullah SAW:

“Cukuplah bagi manusia itu beberapa suap makanan, untuk menegakkan tulang rusuknya.”

“Kalaupun harus kenyang, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk air minumnya dan sepertiga lagi untuk nafasnya” (al hadis).

 Hadits tersebut menggunakan kata assyab`u yang berarti “kenyang”  bukan menggunakan kata al imtila` , atau “penuh”. Tetapi kenyang adalah tercukupinya tubuh oleh zat-zat yang dibutuhkannya, sesuai dengan proporsi dan ukurannya.

Tidak makan besar setelah makan besar lainnya.  Rasulullah melarang untuk idkal at tha’am ‘ala tha’am, alias makan lagi sesudah makan. Suatu hari, di masa setelah wafatnya rasulullah, para sahabat mengunjungi Aisyah ra. Waktu itu daulah islamiyah sudah sedemikian luas dan makmur. Lalu, sambil menunggu Aisyah ra, para sahabat, yang sudah menjadi orang-orang kaya, saling bercerita tentang menu makanan mereka yang meningkat dan bermacam-macam. Aisyah ra, yang mendengar hal itu tiba-tiba menangis. “Apa yang membuatmu menangis, wahai Bunda?” tanya para sahabat.  Aisyah ra lalu menjawab, “Dahulu Rasulullah tidak pernah mengenyangkan perutnya kecuali dengan dua jenis makanan. Ketika sudah kenyang dengan roti, beliau tidak akan makan kurma, dan ketika sudah kenyang dengan kurma, beliau tidak akan makan roti”.

Rasulullah tidak makan dua jenis makanan panas atau dua jenis makanan yang dingin secara bersamaan.

Beliau juga tidak makan ikan dan daging dalam satu waktu.

Tidak langsung tidur setelah makan malam.

Beliau juga meminimalisir dalam mengkonsumsi daging, sebab terlalu banyak daging akan berakibat buruk pada persendian dan ginjal. Pesan Umar ra “Jangan kau jadikan perutmu sebagai kuburan bagi hewan-hewan ternak!”. Maksudnya, janganlah sampai ayam, kambing, lembu, kerbau semuanya masuk ke dalam perut kita dalam waktu makan yang sama.

 SEBANYAK APA KITA BOLEH MAKAN?

Ibnul Qayyim, seperti yang dikutip at Tuwim (2007) membagi tingkat makanan menjadi tiga tingkatan:

Tingkat kebutuhan: yaitu seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW.

“Cukuplah bagi manusia untuk mengkonsumsi beberapa suap makanan saja untuk menegakkan tulang rusuknya”.

 Jika tidak mampu menahan dirinya untuk menkonsumsi lebih maka ia berpindah ke tingkat berikutnya yaitu:

Tingkatan cukup: yaitu mengisi sepertiga perutnya untuk untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga untuk bernafas, dan hikmah di balik itu dikarenakan perut kita mempunyai kapasitas yang sangat tebatas dan jika semuanya dipenuhi dengan makanan maka maka tidak ada tempat lagi untuk minum dan sulit bernafas

Adapun tingkat ketiga adalah tingkat berlebihan: tingkat ini bisa membahayakan dirinya tanpa ia sadari, dan hal ini banyak dialami oleh kita, dan kebanyakan orang yang terjangkit penyakit gula, depresi, kegemukan, jantungan dan stroke tidak lain adalah disebabkan karena mereka tidak mengatur pola makan mereka dengan baik, serta berlebihan dalam makan dan minum.

KESIMPULAN

Dari uraian di atas kita  paham bahwa :

 Ternyata Rasulullah sangat memperhatikan masalah gizi dan menu makanan.  Walaupun di masa itu ada banyak jenis makanan, Beliau memilih makanan yang baik untuk kesehatan, mengandung unsur gizi yang dibutuhkan dan tentu saja halal.

Di samping menu, Rasulullah juga memperhatikan cara mengkonsumsinya.  Makanan yang baik jika tidak dikonsusi dengan cara yang baik tidak akan memberi banyak manfaat.

Rasulullah SAWsangat jarang sakit, hanya beberapa kali dalam hidup Beliau.  Hal ini harus menjadi spirit untuk memulai menghidupkan semangat dan kebiasaan meneladani Rasulullah SAW dalam kehidupan kita, untuk menyempurnakan makna syahadah “Wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah “ yang tiap hari minimal 9 kali kita dengungkan dalam shalat kita.  Sehingga kegiatan makan tidak berhenti pada hal yang mubah atau “boleh”  tapi dapat meningkat derajat menjadi “sunnah” atau “dianjurkan” karena dilakukan dengan niat meneladani kekasih kita, idola kita, yakni Rasulullah SAW.  Bayangkan betapa banyak pahala yang Allah SWT berikan bagi orang-orang yang tidak pernah bertemu Rasulullah SAW, bahkan berselang ratusan tahun dari hidup Beliau, tapi menyatakan kecintaan yang luar biasa pada setiap aspek hidup Beliau.  Mudah-mudahan Allah pertemukan dengan Beliau di yaumil akhir nanti.  Amiin.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.  (2009).  Kurma.  Rumoh PMI, edisi September 2009.

At Tuwim, Nurah.  (2007).  Cara Makan Rasulullah SAW, Maktab Dakwah dan Bimbingan Jaliyat Rabwah, Riyadh.  Retrived from www.islamichouse.com,  14 September 2009.

Aydid, Muhammad Hasan. (1997).  Sehat itu Nikmat: Telaah Hadits tentang Kesehatan.  Gema Insani Press, Jakarta.

Azhar, Tauhid Nur & Trim, Bambang.  (2007).  Jangan ke Dokter Lagi!: Keajaiban Sistem Imun dan Kiat Menghalau Penyakit.  MQ Gress, Bandung.

Bajri, Husen A.  (2008).  Tubuh Anda adalah Dokter yang Terbaik.  Hayati Qualita, Bandung.

Faber, M.et al (2001).  An integrated primary health-care and provitamin A household food-production program: Impact on food-consumption patterns, Food and Nutrition Bulletin, vol. 22, no. 4, The United Nations University.  retrieved from http://www.unu.edu/unupress/food/fnb22-4.pdf#page=24 , 15 September 2009.

Jarvis, D.C.  (1986).  Penyembuhan Reumatik secara Tradisional.  Penerbit Pionir, Bandung.

Johnston, C.S. , Gaas, C.A.  (2006).  Vinegar: Medicinal Uses and Antiglycemic Effect.  Medscape General Medicine, vol 8(2) pp 61.    Retrived from http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1785201/?tool=pmcentrez, September 2009.

Kondo, T.  (2009).  Vinegar May Aid in Fat Loss.  Journal of Agricultural and Food Chemistry. July 8, 2009, retrieved from http://www.medscape.com/viewarticle/704850, September 2009.

Murtaza, M.A et al.  (2004).  Effect of Fat Replacement by Fig Addition on Ice Cream Quality, International Journal of Agriculture and Biology vol.6, No.1,  retrieved from http://www.fspublishers.org/ijab/ past-issues/ IJABVOL_6_NO_1/15.pdf.  September 2009.

Olaniyan, M.F, Adeleke, A.   (2005).  A Study of the effect of Pumpkin (Ugu- Telfaira Occidentals) Milk and Raw Egg Mixture in the Treatment of Anaemic Pregnant Women in a Rural Area.  African Journal of Traditional, Complementary and Alternative Medicine, volume 2 (3), pp 269-273

Owen, RW, et al.  (2000). Olive-oil consumption and health: the possible role of antioxidants.  Lancet Oncology, vol. 1,   pp 107-112.  Retrieved from http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11905662.

Shahib, W.,  Marshall, R.J.  (2003)  The fruit of the date palm: it’s possible use as the best food for the future.  International Journal of Food Sciences and Nutrition, Volume 54, Number 4 (July 2003) 247 _/259  retrieved from http://www.noorbiotechnologies.com, September 2009.

Solomon, A, et al.  (2006).  Antioxidant Activities and Anthocyanin Content of Fresh Fruits of Common Fig (Ficus carica L.), Journal of  Agricultural Food Chemistry, vol. 54 (20), pp 7717–7723, Israel.  Retrieved from http://pubs.acs.org/doi/abs/10.1021/jf060497h, September 2009.

Tripoli, E., et al.  (2005).  The phenolic compounds of olive oil: structure, biological activity and beneficial effects on human health, Nutrition Research Reviews,  vol. 18, pp 98-112.   Cambridge University Press.  Retrieved from http://journals.cambridge.org, September 2009.

oleh: dr.Hj.Rosaria Indah

https://zh-cn.facebook.com