Cara Benar Shalat Tahajud Pada Bulan Ramadhan

Senin, 6 Mei 2019 | 09:20:15

Cara Benar Shalat Tahajud Pada Bulan Ramadhan

 

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah. Malam-malam di bulan Ramadhan merupakan malam-malam yang paling utama untuk beribadah. Pahala beribadah di bulan Ramadhan akan dilipatgandakan hingga berkali-kali lipat. Sudah tentu umat muslim akan berusaha untuk menghidupkan malam-malam dibulan Ramadhan dengan qiyamul lail atau shalat malam.

Qiyamul lail pada bulan Ramadhan sering dilakukan secara berjamaah oleh sebagian besar umat muslim yang sering disebut dengan shalat tarawih dilanjutkan dengan shalat witir. Menurut bahasa kata tarawih merupakan bentuk jamak dari kata tarwihah yang artinya istirahat atau santai. Shalat tarawih umumnya dilakukan pada awal malam yaitu setelah shalat isya’. Setelah shalat tarawih biasanya imam akan melanjutkan shalat witir sebagai penutup.

Permasalahan terjadi kepada umat muslim yang ingin melanjutkan shalat tahajud pada sepertiga malam setelah shalat tarawih dan witir berjamaah. Quran Cordoba telah merangkum cara benar shalat tahajud pada bulan Ramadhan setelah shalat tarawih dan witir berjamaah.

Tahajud berasal dari kata hajada yang berarti tidur. Huruf ta di depan kata hajada menjadikan makna yang berlawanan dari tidur yaitu tidak tidur atau bangun. Allah berfirman dalam surat Al Isra’ ayat 79 :

 

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا (٧٩

 

“Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji” (QS Al Isra’ 79).

Allah SWT memerintahkan dalam ayat di atas untuk melakukan shalat tahajud pada sebagian malam tidak terkecuali di bulan Ramadhan. Namun, di bulan Ramadhan ada shalat tarawih yang disertai dengan shalat witir sebagai penutupnya. Shalat witir dianjurkan untuk dijadikan sebagai penghujung shalat malam sesuai dengan hadits berikut :

 

اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا

 

“Jadikanlah akhir shalat kalian di malam hari dengan shalat witir.” (HR. Bukhari 998 dan Muslim 749). Menurut hadits ini shalat witir adalah shalat pengganjil yang dilakukan diakhir qiyamullail atau shalat malam. Namun, beberapa ulama menegasakan bahwa hadis di atas tidaklah melarang seorang muslim untuk shalat sunah setelah witir. Meningat terdapat banyak dalil yang menunjukkan boleh shalat setelah witir.

Witir maknanya ganjil, shalat witir adalah shalat untuk mengganjilkan shalat-shalat yang genap. Melaksanakan shalat tahajud setelah shalat witir diperbolehkan menurut hadits berikut :

 

Hadis dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah melakukan safar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau bersabda,

 

إِنَّ هَذَا السَّفَرَ جُهْدٌ وَثُقْلٌ، فَإِذَا أَوْتَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ وَإِران في ليلة

 

“Tidak boleh melakukan 2 kali witir dalam satu malam.” (HR. Ahmad 16296, Nasai 1679, Abu Daud 1439, dan dihasankan Syuaib Al-Arnauth).

Kesimpulannya, shalat tahajud setelah shalat tarawih berjamaah di masjid adalah diperbolehkan dengan catatan tidak melakukan dua shalat witir dalam satu malam. Shalat tahajud yang dilakukan setelah shalat tarawih berjemaah dapat dikatakan melanjutkan shalat tarawih atau qiyamullail. Shalat tarawih berjamaah dibulan Ramadhan sangat dianjurkan mengingat pahala yang didapat dari berjamaah sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut :

 

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً

 

“Sesungguhnya barangsiapa yang shalat (Tarawih) bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyamul lail satu malam penuh.” (HR. An-Nasai no.1605, At-Tirmidzi no.806, Ibnu Majah no.1327, dan selainnya. Dan hadits ini dinyatakan SHOHIH oleh At-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani dalam Irwa’ Al-Gholil no. 447).

Sudah selayaknya pada bulan Ramadhan ini kita mencari pahala sebanyak-banyaknya dengan mengikuti tuntunan yang diberikan oleh Rasulullah SAW melalui hadits-haditsnya.

Sumber : Kajian Fiqh Kontroversi Ustadz Saiful Islam Mubarak LC

http://qurancordoba.com