Al-Baqarah 83: Memuliakan Anak Yatim

Senin, 24 Desember 2012 | 13:08:44

Al-Baqarah 83: Memuliakan Anak Yatim

oleh : ust. Bachtiar Nasir, Lc


Dua celengan transparan bertengger diatas meja kerja seorang pengusaha muda. Setiap hari, anak muda yang baru saja merintis bisnis itu memasukkan seribu Rupiah kedalam masing-masing celengan. Sudah bisa dihitung, jika ia konsisten menyisihkan jumlah yang sama, maka dalam setahun terdapat 365 ribu Rupiah. Jika ditotal jumlah dua celengan menjadi 730 ribu. Dengan niat mengumrohkan dua orang pegawainya, anak muda ini tidak perduli sampai kapan ia bisa merealisasikannya.

Begitu juga dalam menyantuni anak yatim. Seharusnya keinginan menanggung anak yatim sedemikian besarnya sebagaimana anak muda diatas. Sangat disayangkan jika ada orang yang sudah bekerja namun tidak menyisihkan dana untuk anak yatim. “Jika Anda sudah bekerja dan berani menyiapkan posting tersendiri untuk anak yatim, itu bagus sekali. Betapa beruntungnya Anda.” ucap Ustadz Bachtiar Nasir pada kelas Tadabbur Kamis malam, Surat Al-Baqarah ayat 83. Kemudian Ustadz yang sering menyampaikan tema kajian penyucian jiwa itu melanjutkan: “Merugi besar jika ada orang yang sudah bekerja namun tidak memiliki posting tertentu untuk anak yatim.”

Rasulullah mengatakan bahwa hubungan antara ia dan penyantun anak yatim di surga bisa diibaratkan seperti jari telunjuk yang saling mengait dengan jari manis. “Aku dan anak yatim dekatnya seperti ini (sembari mengaitkan jari telunjuk dan jari tengah).”

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa menjamin anak yatim dari kaum muslimin pada makanan dan minumannya sampai Allah mencukupkannya (mencapai usia baligh) maka dosa-dosanya akan diampuni kecuali jika dia melakukan sesuatu yang tidak akan diampuni,” Namun kita tidak perlu khawatir terhadap curahan kasih sayang Allah yang berlimpah. Hadits lainnya menguatkan: “Barangsiapa kehormatannya dihilangkan oleh Allah kemudian dia bersabar, maka dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah SWT.”

Hadits tersebut menunjukkan sebegitu besarnya keutamaan menanggung anak yatim.
“Bagi mereka yang yatim, sapaan hangat dan hadiah kecil sangat berarti. Mungkin mereka terlihat biasa saja ketika menerimanya. Namun, bisa jadi, wajah si pemberi akan menghiasi mimpi indah mereka dalam tidur,” jelas UBN, panggilan akrab Ustadz Bachtiar Nasir.

Kemuliaan seorang hamba tidak hanya terkena pada pihak yang menanggung kehidupan anak yatim secara langsung. Pihak yang tidak mampu menyantuni dengan materi namun dengan gigih mencarikan pihak lain yang bisa menanggung anak yatim, maka rahmat Allah tercurah juga padanya.

Menarik sekali jika kita menilik asal kata yatim. Kata yatim berasal dari kata walyatama. Kata tersebut merujuk pada anak yang ditinggal mati oleh Ayah atau Ibu-nya saat usianya belum baligh. Terjadi salah kaprah penyebutan piatu di Indonesia. Kata piatu digunakan untuk menyebutkan anak yang ditinggal oleh Ibu-nya. Dengan begitu kata yatim piatu akan ditempatkan sebagai kata untuk menjelaskan status seorang anak yang sudah tidak ber-ayah dan ber-ibu. Padahal jika kita merujuk pada asal katanya yang berasal dari bahasa Arab, tidak seperti itu maksudnya.

Bentuk jamak dari kata yatim adalah yatama. Kata yatama menjelaskan status seorang anak manusia menjadi seorang yatim karena kehilangan ayahnya. Hal yang berbeda jika kata tersebut digunakan untuk penyebutan status pada hewan. Seekor binatang akan disebut yatim jika ia kehilangan induknya.

Salah seorang periwayat hadits yaitu Al Mawardi menyebutkan bagi seorang anak yang kehilangan Ibu juga bisa disebut yatim. Namun, pendapat pertama yang menyebutkan bahwa seseorang dikatakan yatim jika ia kehilangan ayahnya, lebih kuat. Selain itu kata yatim juga berasal dari kata infirath alias terpisah atau sendiri. Shobiyun Yatimun memiliki arti anak yang terpisah dari Bapaknya.

Terkait soal kemuliaan menyantuni anak yatim, UBN menjelaskan hubungannya dengan peningkatan kualitas pribadi si penyantun. “Sebetulnya hambatan karir itu bukan karena orang lain lebih pintar dari Anda. Mungkin karena ada dosa yang Anda lakukan dan dosa itu sangat fundamental. Anda sulit merubahnya,” ulas UBN. Hal-hal yang secara umum dianggap sepele namun fundamental itu misalnya seperti tidak memiliki komitmen, kurang bisa memberi perhatian pada pelanggan, tidak bisa bekerja dalam tim dan mengenai kekurangan kualitas diri lainnya. Lalu bagaimana cara cepat untuk mendongkrak kualitas diri tersebut? Salah satunya adalah dengan menyantuni anak yatim dan bersedekah.

Jangan ragu untuk menempuh jalan ini bagi orang-orang yang ingin melembutkan hatinya. Tak tanggung-tanggung Allah memberikan kemuliaan pada hamba-Nya yang mau perduli pada anak yang telah kehilangan orang tuanya. Hal ini terutama berpengaruh pada kedekatan pada Allah SWT. Bukankah nikmat beriman itu merupakan setinggi-tingginya kenikmatan?

(Rias Andriati) 

sumber : http://bachtiarnasir.net/2013/02/01/al-baqarah-83-memuliakan-anak-yatim/