38 TEKNIK NABI MUHAMMAD SAW DALAM MENASIHATI DAN MENGOREKSI

Jumat, 15 Februari 2019 | 09:02:15

38 TEKNIK NABI MUHAMMAD SAW DALAM MENASIHATI DAN MENGOREKSI

 

1. TEGURLAH SEGERA DAN JANGAN DITUNDA-TUNDA.

Ketika mengetahui seseorang melakukan kesalahan, Rasulullah SAW akan segera menegur dan menasihatinya, terlebih lagi jika menurutnya menunda nasihat akan berdampak lebih buruk. Ia diutus kedunia untuk menyampaikan kebenaran dan menjelaskannya kepada umat manusia, menganjurkan kebaikan, dan memperingatkan mereka dari kesalahan. Dalam berbagai kesempatan, Rasulullah tak pernah diam dan membiarkan seseorang melakukan kesalahan tanpa teguran atau peringatan sedikitpun. Dalam hadist-hadist yang telah dikemukakan diatas kita melihat bagaimana Rasulullah menegur orang yang berbuat salah pada saat itu juga, misalnya yang ia lakukan kepada Usamah, Abu Bakar, dan lain-lain. Tempalah besi menjadi barang yang diinginkan ketika besi itu masih panas. Jika dibiarkan dingin, tentu kita akan kesulitan membentuk besi itu menjadi sesuatu yang kita inginkan. Sama halnya, kita harus segera menegur orang yang melakukan kesalahan dan jangan menundanya hingga ia tidak merasa bersalah, kecuali dalam kasus atau situasi tertentu yang akan kita bahas lebih jauh dibawah ini.

2. JELASKANLAH KESALAHAN SESEORANG DARI SUDUT PANDANG SYARIAT.

Dalam keadaan apapun, syariat mesti kita jadikan landasan sikap dan perilaku, termasuk ketika menegur dan memperingatkan seseorang dari kesalahannya. Islam diturunkan sebagai pedoman hidup bagi seluruh manusia. Syariat Islam bersifat universal dan menyeluruh meliputi berbagai aspek kehidupan, baik ibadah, aqidah, maupun muamalah. Karena itu, ketika menegur orang yang berbuat salah, semestinya kita mengingatkan kepadanya bahwa tindakannya itu melanggar syariat. Jarhad r.a meriwayatkan bahwa suatu ketika ia berpapasan dengan Rasulullah SAW, sementara bagian pahanya tak tertutupi kain. Nabi SAW menegurnya dan berkata, "tutupilah pahamu, karena itu bagian dari aurat." Sunan Al-Tirmidzi.

3. JELASKANLAH KESALAHAN YANG DILAKUKAN SESEORANG DAN SERULAH IA

   AGAR SELALU MENGIKUTI AJARAN ISLAM.

Ketika seseorang melakukan kesalahan, berarti saat itu hati dan fikirannya jauh dari prinsip-prinsip Islam. Dalam beberapa kasus, penjelasan mengenai prinsip-prinsip Islam dan seruan untuk mengikutinya dapat menjadi cara yang efektif untuk menyadarkan seseorang dari kekeliruan dan kesesatan. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika mendamaikan perselisihan antara kaum Muhajirin dan Anshar akibat fitnah yang disebarkan oleh kaum munafik. Al-Bukhari r.a meriwayatkan dalam shahihnya bahwa Jabir r.a berkata, "kami berangkat dalam sebuah ekspedisi militer bersama Rasulullah serta para sahabat Muhajirin dan Anshar. Ketika kami tiba di pinggiran Madinah, seorang pengikut ibn Ubay dari suku Khazraj menghalang-halangi seorang muhajirin yang hendak mengambil air dari sebuah sumur. Muhajirin itu mendorong tubuh pengikut ibn Ubay itu hingga terjatuh. Mendapat perlawanan seperti itu, pengikut ibn Ubay berteriak, "hai orang-orang Anshar, kemarilah." Sebaliknya, orang Muhajirin itupun berteriak, "hai orang-orang Muhajirin, kemarilah." Tidak butuh waktu lama, sejumlah orang muhajirin dan anshar telah bergerombol saling berhadapan didekat sumur. Keadaan berkembang menjadi sangat tegang dan panas.

Ibn Ubay memanfaatkan situasi itu. Ia berdiri dan berpidato didepan orang-orang Anshar. "Lihatlah, mereka melakukan keburukan ini kepada kalian. Dan kini, kalian  biarkan mereka? Mereka telah melarikan diri ke negeri kita dan menyesakkan rumah kita. Demi Allah, perilaku mereka bagaikan peribahasa 'menolong anjing terjepit'. Demi Allah, jika kita kembali ke Madinah, kita keluarkan yang hina dari yang mulia."

Kemudian ia memandang kaumnya dan berkata, "inikah yang kalian lakukan dengan diri kalian? Kalian bebaskan tanah kalian untuk mereka, kalian bagi milik kalian dengan mereka. Demi Allah, seandainya kalian tak menolong dan memberi mereka, tentu mereka akan berpaling kepada orang lain."

Mendengar keributan itu Nabi Muhammad SAW mendatangi mereka dan berkata, "persoalan apakah yang sedang diributkan orang-orang Jahiliah ini?"

Kemudian ia bertanya kepada semua orang, "apakah yang terjadi?"

Para sahabat menceritakan tentang seorang sahabat Muhajirin yang mendorong sahabat Anshar. Nabi Muhammad SAW bersabda, "tinggalkan perselisihan itu karena termasuk kejahatan". HR.Al-Bukhari.

Menurut riwayat yang diceritakan oleh Muslim, Rasulullah SAW berkata, "seseorang harus menolong saudaranya, baik orang itu bersalah, ia harus menghentikannya. Jika ia adalah korban kejahatan, ia harus membantunya."Shahih Muslim.

Ketika kaum muslimin berhijrah ke Madinah, ada beberapa kelompok yang tidak menyukai mereka, termasuk diantaranya kaum Yahudi dan kaum Munafik. Setiap saat kedua kelompok itu melakukan berbagai upaya untuk mengusik ketenteraman dan kedamaian umat Islam di Madinah. Kaum munafik mendengki kaum muslimin karena mereka dianggap merebut penghidupan dan kedudukan sosial yang selama ini mereka nikmati. Abdullah ibn Ubay dikenal sebagai pentolan munafik. Meskipun menyatakan diri sebagai muslim, tetapi tindak-tanduk dan tingkah lakunya selalu merugikan kaum muslimin. Ia tidak suka jika Muhammad, seorang asing yang baru datang di Madinah dan tidak dikenal sebelumnya, tiba-tiba saja menjadi pemimpin Madinah, sementara ia yang seumur hidup di Madinah dan berhasrat menjadi pemimpin kota itu tersisihkan begitu saja dari percaturan sosial-politik. Karena itulah ia selalu berusaha menghasut penduduk Madinah agar membenci Rasulullah dan kaum muslimin.

Kendati demikian, Rasulullah selalu mendahulukan persatuan dan kedamaian. Bahkan saat pertama kali tiba di Madinah, yang ia lakukan adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Cara itu terbukti efektif menyatukan berbagai komunitas Madinah yang heterogen itu. Maka, ketika terjadi perselisihan antara Muhajirin dan Anshar, seperti yang diceritakan dalam riwayat diatas, Rasulullah berusaha mengingatkan mereka pada prinsip-prinsip ajaran Islam yang menekankan cinta, kasih sayang, dan persaudaraan. Ia menekankan bahwa perselisihan dan sikap saling memusuhi merupakan kejahatan yang harus dihindari.

4. LURUSKANLAH KESALAHPAHAMAN AKIBAT PEMIKIRAN SESEORANG YANG

   TIDAK JELAS.

Dalam shahih Al-Bukhari, Humaid ibn Abi Humaid al-Thawil meriwayatkan bahwa ia mendengar Anas ibn Malik r.a berkata, "tiga orang datang kerumah istri-istri Nabi Muhammad SAW menanyakan perihal ibadah Rasulullah SAW. Ketika mereka diberi tahu mengenai ibadah Rasulullah, mereka berhasrat untuk melakukan ibadah seperti yang dilakukan Rasulullah. Mereka berkata, "apalah artinya ibadah kita dibandingkan dengan ibadah Rasulullah, padahal semua dosa-dosanya, baik yang dimasa lampau maupun dimasa yang akan datang, telah diampuni?"

Pikiran untuk beribadah seperti Rasulullah mendorong mereka untuk melakukan ibadah secara berlebihan sehingga salah seorang diantara mereka berkata, "menurutku, aku akan mendirikan shalat sepanjang malam."

Orang kedua berkata, "aku akan berpuasa sepanjang hidupku dan tidak akan pernah berbuka."

Orang terakhir berkata, "menurutku, aku tidak akan mempergauli perempuan dan tidak akan menikah."

Kabar mengenai keinginan ketiga sahabat itu sampai ke telinga Rasulullah SAW hingga ia mendatangi mereka dan berkata, "apakah kalian orang-orang yang mengatakan hal itu? Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah diantara kalian, tetapi aku berpuasa dan aku berbuka., aku melaksanakan shalat dan aku tidur, dan aku menikah."

Muslim meriwayatkan dari Anas bahwa sekelompok sahabat Muhammad SAW menanyai istri-istri Nabi perihal ibadahnya. Salah satu dari mereka (sahabat) berkata, "aku tidak akan pernah menikahi perempuan."

Orang kedua berkata, "aku tidak akan pernah makan daging."

Seorang lagi berkata, "aku tidak akan pernah tidur dikasur". Kabar tentang mereka itu sampai ke telinga Rasulullah. Usai melaksanakan shalat, ia memuji kepada Allah kemudian bersabda, "apa yang terjadi dengan beberapa orang yang berkata perihal dirinya? Aku sendiri mendirikan shalat dan tidur, aku berpuasa dan berbuka, dan aku menikahi perempuan. Barangsiapa yang tidak mengikuti sunnahku maka ia tidak termasuk umatku." Shahih Muslim.

Kedua riwayat itu menunjukkan betapa Rasulullah menjadi teladan utama bagi para sahabat dan seluruh umatnya. Para sahabat yang menemui istri-istri Rasulullah dan menanyakan perihal ibadahnya itu terkesiap kaget ketika mendengar betapa berat ibadah yang dijalani oleh Rasulullah. Dalam riwayat-riwayat lain dipaparkan bagaimana Rasulullah mendirikan shalat tahajud setiap malam hingga kedua kakinya bengkak-bengkak saking lamanya ia berdiri dalam shalat. Shalat malam telah menjadi kewajiban bagi Rasulullah meskipun bagi umatnya shalat itu hukumnya sunnah. Tidak hanya itu, nyaris setiap hari ia berpuasa sehingga menurut para sahabat, mereka seakan-akan tak pernah melihat Rasulullah berbuka. Dan, meskipun dosa-dosanya telah diampuni baik yang telah lalu maupun yang akan datang, Rasulullah tak pernah alpa memohon ampunan kepada Allah, tak kurang dari tujuh puluh kali dalam sehari. Karena itulah ketiga sahabat itu merasa takjub dan merasa sangat hina dihadapan Rasulullah. Riwayat inipun menunjukkan betapa besar kecintaan dan semangat para sahabat untuk meneladani keutamaan Rasulullah. Generasi sahabat dikenal sebagai generasi yang sangat taat kepada Rasulullah. Mereka senantiasa berlomba-lomba melakukann kebaikan dalam berbagai bidang, dalam bidang ibadah maupun muamalah.

Ada beberapa pelajaran lain yang bisa kita ambil dari riwayat diatas, diantaranya :

1. Rasulullah SAW mendatangi para sahabatnya secara langsung. Kendati demikian, ia tidak menyebutkan nama seseorang ketika ingin menasihati dan mengajarkan syariat. Ia hanya mengatakan, "apa yang terjadi dengan orang-orang?" Dengan begitu, ia memelihara kehormatan mereka dan berusaha menutupi kesalahan mereka seraya tetap menjalankan kewajibannya yang utama, yaitu mengajari dan menasihati setiap orang.

2. Hadist itu bertutur tentang pencarian kebenaran yang dilakukan orang-orang baik dan kemudian mereka berusaha merumuskannya. Pengkajian dan penelaahan terhadap kebaikan merupakan tanda kecemerlangan akal.

3. Riwayat inipun memberi kita petunjuk bahwa berkaitan dengan beberapa persoalan tertentu, kita dapat bertanya kepada perempuan.

4. Mengungkapkan amal kebaikan sendiri tidak disalahkan selama tidak bertujuan untuk pamer atau mencari keuntungan dari orang lain.

5. Hadist inipun memberi kita pelajaran agar tidak beribadah secara berlebihan karena dikhawatirkan justru akan menimbulkan kebosanan hingga akhirnya kita meninggalkannya sama sekali. Sebaik-baik orang adalah yang pertengahan.

6.Kesalahan memahami sering kali menimbulkan kesalahan yang lebih fatal dan lebih serius. Kesalahan akan berkurang jika orang-orang memahami aturan dengan baik. Para sahabat dalam riwayat diatas ingin melakukan ibadah secara ekstrem dan mempraktikkan asketisme dengan maksud agar bisa mengejar kemuliaan ibadah Rasulullah SAW. Mereka pikir, Nabi SAW saja yang dosa-dosanya telah diampuni beribadah begitu ketat dan berat sehingga jika ingin selamat, mereka harus beribadah lebih  keras dan lebih berat dibanding ibadah orang kebanyakan. Namun, Rasulullah SAW meluruskan pemahaman mereka dengan mengatakan bahwa meskipun telah dimaafkan, ia tetap menjadi orang yang paling takut kepada Allah dibanding manusia lainnya dan ia memerintahkan mereka untuk mengikuti sunnahnya dalam beribadah.

Peristiwa serupa dialami oleh seorang sahabat yang bernama Kahmas al-Hilali r.a. Ia menuturkan  bahwa setelah menyatakan memeluk Islam, ia mendatangi Rasulullah SAW mengabarkan keislaman dirinya. Setelah itu ia mengasingkan diri selama setahun hingga tubuhnya menjadi sangat kurus. Ketika ia kembali, Rasulullah memandanginya dari atas kebawah. Kahmas bertanya, "apakah Tuan tidak mengenaliku, wahai Rasulullah?"

Rasulullah menjawab, "siapakah kau?"

"Aku Kahmas al-Hilali."

"Apa yang terjadi denganmu?"

"Setelah aku memeluk Islam dan menemuimu, tak pernah kulewatkan waktuku tanpa berpuasa, dan aku sangat jarang tidur pada malam hari."

Rasulullah bertanya, "siapakah yang mengajarimu untuk menyiksa dirimu sendiri? Berpuasalah sebulan penuh (yakni pada bulan Ramadhan) dan selain itu puasalah satu hari setiap bulannya."

"Biarkanlah aku mengerjakan lebih dari itu."

"Puasalah sebulan penuh dan selain itu puasalah dua hari setiap bulannya."

"Biarkanlah aku mengerjakan lebih dari itu, aku mampu melakukannya."

"Puasalah sebulan penuh dan selain itu puasalah tiga hari setiap bulannya." HR.Al-Tabari.

Sering kali kekeliruan disebabkan oleh kesalahan memandang atau memahami seseorang. Berikut ini contoh riwayat yang menuturkan bagaimana Rasulullah SAW menasihati orang yang melakukan kesalahan karena pandangannya yang keliru tentang orang lain. Dalam Shahih al-Bukhari, ada sebuah riwayat dari Sahl ibn Sa'd al-Sa'idi yang menuturkan bahwa suatu ketika para sahabat berkumpul bersama Nabi SAW. Tidak lama kemudian seorang laki-laki berjalan melewati mereka. Rasulullah bertanya kepada para sahabat, "apa pendapat kalian mengenai orang itu?"

Mereka menjawab, "ia adalah orang yang kaya raya. Demi Allah, jika ia melamar perempuan, ia pasti diterima dan jika ia menengahi suatu perkara, keputusannya pasti diterima. Rasululllah SAW tidak mengatakan apa-apa. Tidak lama kemudian seorang laki-laki lain berjalan melintas. Rasulullah SAW kembali bertanya kepada para sahabat, "apa pendapatmu mengenai orang itu?"

Mereka menjawab, "wahai Rasulullah ia adalah seorang muslim yang sangat fakir. Jika ia melamar, lamarannya tidak akan diterima. Jika ia menjadi penengah, keputusannya tidak akan diterima, dan jika ia berbicara, pembicaraannya tidak akan didengar."

Rasulullah SAW bersabda, "orang ini jauh lebih baik daripada laki-laki sebelumnya yang sarat dengan dunia." HR.Al-Bukhari.

Dari riwayat tersebut kita bisa menarik pelajaran penting bahwa tak semestinya kita menilai seseorang dari penampilan fisik, pakaian yang dikenakan, atau harta yang dimilikinya. Kemuliaan dan keagungan seseorang tidak terletak pada penampilan fisik, harta, atau cara bicara dan cara berjalannya, tetapi ditentukan oleh ketaqwaannya kepada Allah serta kesucian dirinya dari kekejian dan kemungkaran.

5. INGATKANLAH ORANG YANG BERBUAT SALAH AGAR SENANTIASA MENGINGAT

   ALLAH.

Jundub ibn Abdullah al-Bajali meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW mengirim sekelompok sahabat untuk memerangi kaum musyrik. Kedua pihak pun bertemu di medan perang. Seorang musyrik bertempur dengan hebat dan membunuh banyak pasukan muslim. Kemudian seorang muslim menurut Jundub, orang itu adalah Usamah ibn Zaid bergerak cepat melawan orang itu dan berusaha membunuhnya. Saat Usamah hendak menebaskan pedangnya, orang musyrik itu berseru, "la ilaha illallah." Namun, Usamah tetap membunuhnya. Seorang sahabat menyampaikan peristiwa itu kepada Rasulullah SAW yang kemudian segera memanggil Usamah dan menanyainya, "mengapa kau tetap membunuhnya?"

Usamah menjawab, "wahai Rasul, ia telah menyebabkan banyak penderitaan kepada kaum muslim. Ia membunuh beberapa orang seraya menyebutkan satu persatu korban-korban orang musyrik itu. Karena itulah aku menyerangnya, dan saat hendak kutebas, ia mengucapkkan la ilaha illallah."

Rasulullah bertanya, "dan kau tetap membunuhnya?"

"ya."

Apa yang akan kau lakukan ketika la ilaha illallah muncul pada Hari Kebangkitan?"

Usamah menjawab, "wahai Rasulullah, mohonkanlah ampunan untukku."

Rasulullah SAW kembali berkata, "apa yang akan kau lakukan ketika la ilaha illallah muncul pada Hari Kebangkitan?" HR.Muslim.

Dalam riwayat yang lain Usamah ibn Zaid menuturkan, "Rasulullah SAW mengutus kami untuk memerangi kaum musyrik dan kami tiba di al-Haraqat dekat Juhainah di pagi hari. Dalam pertempuran itu aku menangkap seorang musyrik dan saat aku hendak menebas lehernya, ia mengucapkan la ilaha illallah, namun aku tetap membunuhnya. Aku merasa bersalah dan kemudian kulaporkan peristiwa itu kepada Rasulullah SAW. Rasulullah bertanya, "ia telah mengucapkan la ilaha illallah dan kau tetap membunuhnya?"

Aku menjawab, "wahai Rasulullah, ia mengucapkan kalimat itu hanya untuk menyelamatkan dirinya dari pedangku."

"Apakah kau mengetahui isi hatinya? Bagaimana kau bisa yakin apakah ia tulus atau tidak?"

Rasulullah terus mengulangi ucapannya itu hingga aku berharap bahwa aku belum memeluk Islam hingga hari itu." HR.Muslim.

Riwayat berikut ini menjelaskan bagaimana Rasulullah mengingatkan sahabatnya agar senantiasa mengingat Allah. Jika pada pembahasan nomor 5, Rasulullah mengajari kita agar tidak menilai seseorang dari penampilan fisiknya saja, dalam riwayat ini Rasulullah mengajari kita untuk senantiasa berbaik sangka kepada orang yang telah mengucapkan kalimat tauhid la ilaha illallah. Sebab, tidak ada seorangpun yang mengetahui isi hati seseorang sehingga dapat menentukan bahwa seseorang jujur atau berdusta ketika mengucapkan kalimat tauhid. Karena kalimat tauhid merupakan kalimat pengakuan yang menandai penyerahan diri seseorang kepada Allah, semestinya kita berbaik sangka dan menghukumi setiap orang yang telah mengucapkan kalimat itu sebagai muslim. Setelah itu kita hanya bisa menyerahkan kepada Allah apakah seseorang jujur dengan pengakuannya ataukah berdusta.

Imam Muslim r.a meriwayatkan bahwa Abu Mas'ud al-Badri berkata, "aku sedang memukuli budakku dengan cambuk ketika aku mendengar suara dibelakangku, 'dengarkanlah hai Abu Mas'ud! Namun aku tidak memedulikan suara itu karena aku sangat marah. Ketika suara itu semakin jelas terdengar, aku sadar bahwa itu adalah suara Rasulullah SAW. Beliau berkata, 'Dengarkanlah hai Abu Mas'ud, dengarkanlah hai Abu Mas'ud! Aku meletakkan cambukku (menurut riwayat lain, ia menjatuhkan cambuknya karena menghormati beliau). Rasulullah kembali berkata, 'Dengarkanlah hai Abu Mas'ud, Allah lebih berkuasa atasmu daripada kekuasaanmu atas budak ini.' Aku berkata, 'aku tidak akan mencambukinya lagi.'

Menurut riwayat lain ia berujar, "wahai Rasulullah, ia bebas atas nama Allah."

Rasulullah SAW berkata, "jika kau tidak membebaskannya maka api neraka akan menyambar mukamu, atau api neraka akan menyengatmu."

Menurut cerita lain yang juga diriwayatkan oleh Muslim, "Rasulullah berkata, "pasti Allah lebih berkuasa atas dirimu daripada kekuasaan yang kau miliki." Kemudian Abu Mas'ud membebaskan budaknya itu." Shahih Muslim.

Dalam riwayat lain Abu Mas'ud al-Anshari berkata, "aku sedang memukuli seorang budakku ketika aku mendengar seseorang berkata dari belakangku, 'dengarkanlah hai Abu Mas'ud, dengarkanlah hai Abu Mas'ud. Aku berbalik dan melihat Rasulullah SAW beliau bersabda, 'Allah lebih berkuasa atas dirimu melebihi kekuasaanmu atas dirinya.' Setelah kejadian itu aku tidak pernah memukuli budak-budakku." HR.Al-Tirmidzi.

Riwayat dari Abu Mas'ud itu memberi kita pelajaran agar kita tidak pernah menghina dan merendahkan siapapun, bahkan kepada seorang budak sekalipun. Seluruh manusia hanyalah makhluk yang lemah dan hina. Kekuasaan yang dimiliki manusia tidak akan pernah melebihi kekuasaan Allah yang maha berkehendak. Riwayat inipun menunjukkan bentuk perhatian Rasulullah kepada kaum dhuafa dan fakir miskin. Ia sangat menyayangi mereka dan bahkan ia merupakan pemimpin kaum fakir. Sikap kasar dan menyakiti sesama manusia tidak akan pernah muncul jika manusia senantiasa mengingat Allah. Orang yang selalu ingat kepada Allah akan selalu merasa takut kepada-Nya. Ia tak akan merasa sombong atau merasa lebih berkuasa dibanding orang lain yang lebih lemah.

6. TUNJUKKANLAH KASIH SAYANG KEPADA ORANG YANG BERBUAT SALAH.

Tunjukkanlah kelembutan dan kasih sayang kepada orang yang berbuat salah, terutama jika mereka benar-benar menunjukkan penyesalan. Kita merumuskan banyak riwayat yang menggambarkan betapa Nabi Muhammad mengasihi sepenuh hati orang-orang yang berbuat salah dan menyesali perbuatannya. Nabi Muhammad SAW selalu bersikap lembut dan penuh perhatian ketika menghadapi orang yang datang merendahkan dirinya seraya mengakui kesalahannya dan bertekad untuk memperbaiki dirinya. Kasus seperti ini biasanya terjadi ketika seseorang datang menanyakan suatu persoalan hukum dan Nabi Muhammad SAW memberikan jawabannya.

Ibn Abbas meriwayatkan bahwa seseorang yang telah menceraikan istrinya karena zihar, menggaulinya lagi, dan kemudian ia mendatangi Rasulullah SAW seraya berkata, "wahai Rasulullah, aku menceraikan istriku karena zihar, lalu aku menggaulinya, padahal aku belum membayar kafarat."

Nabi Muhammad SAW bertanya, "mengapa kau lakukan itu? Semoga Allah mengampunimu."

Ia berkata, "aku tergoda saat melihatnya pada malam hari."

Nabi Muhammad SAW bersabda, "jangan lagi mendekatinya sampai kau mengerjakan apa yang Allah perintahkan kepadamu." Shahih Sunan al-Tirmidzi.

Abu Hurairah r.a menuturkan bahwa ketika ia dan para sahabat lain duduk bersama Rasulullah SAW seorang laki-laki mendatanginya dan berkata, "wahai Rasulullah, hukumlah aku!"

Nabi Muhammad SAW berkata, "apa yang telah kau lakukan?"

Ia berkata, "aku telah menggauli istriku padahal aku sedang berpuasa."

Rasulullah SAW bertanya, "apakah kau mampu membebaskan seorang budak?"

"Tidak."

"Apakah kau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?"

"Tidak."

"Apakah kau memiliki harta untuk memberi makan enam puluh orang miskin?"

"Tidak."

Rasulullah SAW terdiam karena tak ada lagi yang bisa menjadi kafarat untuk orang itu. Tidak lama berselang, seseorang datang membawa sekeranjang kurma sebagai sedekah. Rasulullah SAW bertanya, "dimanakah orang yang tadi bertanya?"

Laki-laki itu menjawab, "ini aku wahai Rasulullah."

"Ambillah kurma ini dan sedekahkanlah kepada orang miskin."

"Siapakah yang lebih miskin daripada diriku, wahai Rasulullah? Demi Allah, di Madinah ini tidak ada keluarga yang lebih miskin daripada keluargaku."

Rasulullah SAW tersenyum hingga giginya kelihatan, kemudian bersabda, "berilah makan keluargamu dengan kurma ini."HR.Al-bukhari.

Sahabat yang melakukan kesalahan itu benar-benar menunjukkan rasa penyesalannya dan ia tidak bercanda atau menyepelekan masalah itu. Ia menyesali perbuatannya sehingga mengatakan, "Hukumlah aku!" Karena itu, ia berhak diampuni dan dikasihani.

7. JANGAN TERBURU-BURU MENYATAKAN BAHWA SESEORANG BERSALAH.

Diriwayatkan bahwa Umar ibn al-Khatthab mengatakan, "aku mendengar Hisyam ibn Hakim ibn Hizam membaca surah al-Furqan dan ternyata bacaannya itu berbeda dengan cara bacaan Rasulullah SAW. Aku hampir saja menghentikan shalatnya, tetapi aku menunggunya sampai ia mengucapkan salam. Setelah itu aku menarik dan menggenggam kerah jubahnya, 'siapakah yang mengajarimu membaca surah dengan bacaan yang tadi kudengar?'

Ia menjawab, 'Rasulullah SAW sendiri yang mengajariku.'

Aku berkata, 'Kau bohong! Rasulullah mengajariku bacaan yang berbeda dengan bacaanmu.'

Aku mengajaknya menemui Rasulullah, 'wahai Rasul, aku mendengarnya membaca surah al-Furqan berbeda dengan cara yang engkau ajarkan kepadaku.'

Rasulullah SAW bersabda, 'biarkan dia sendiri. Hai Hisyam, bacakanlah untukku.'

Kemudian ia membacanya dengan bacaan seperti yang kudengar sebelumnya. Rasulullah SAW berkata, 'seperti inilah bagaimana Al-Qur'an dibacakan.' Kemudian Nabi berpaling kepadaku dan berkata, 'bacalah, hai Umar.' Lalu aku membacanya seperti ia dulu mengajariku. Rasulullah SAW bersabda, 'seperti inilah Al-Qur'an dibacakan. Al-Qur'an ini dibacakan dengan tujuh cara bacaan. Maka, bacalah Al-qur'an dengan cara yang paling mudah bagimu,"HR.Al-Bukhari.

Dari riwayat tersebut kita bisa menarik beberapa pelajaran penting :

* Meminta seseorang membaca dihadapan orang lain dan kemudian membenarkan bacaan keduanya adalah cara yang efektif untuk menunjukkan bahwa cara baca keduanya benar.

* Rasulullah SAW menyuruh Umar untuk melepaskan Hisyam agar ia bisa menyiapkan diri untuk membaca dengan tenang. Rasulullah tak mau terburu-buru menghukumi bahwa seseorang bersalah atau tidak bersalah.

* Seorang pencari kebenaran tidak boleh terburu-buru menyalahkan pendapat yang berbeda dengan pendapatnya. Ia harus yakin terhadap pendapatnya sendiri, kemudian memperhatikan pendapat orang lain secara seksama karena siapa tahu pendapatnya itu menghasilkan kebenaran.

Al-Nasa'i r.a meriwayatkan bahwa Abbad ibn Syurahbil r.a menuturkan, "aku pergi bersama pamanku ke Madinah dan kami memasuki sebuah kebun dikota itu. Karena rasa lapar, kami mengambil beberapa gandum sehingga sebagian tanaman itu tampak rusak. Pemilik kebun itu datang, merampas jubahku, dan memukulku. Aku menemui Rasulullah SAW untuk melaporkan peristiwa itu dan memohon pertolongannya. Rasulullah meminta kami dan si pemilik kebun itu menghadap. Pertama kali ia menanyai si pemilik kebun, 'mengapa kau menyerang dan memukulnya?'

Ia menjawab,'Wahai Rasulullah, ia memasuki kebunku, mengambil beberapa gandumku, dan membuat kerusakan didalamnya.'

Rasulullah SAW berkata, 'kau tidak mengajarinya ketika ia tidak tahu, dan kau tidak memberinya makan saat ia kelaparan. Kembalikanlah jubahnya.'

Selain itu, Rasulullah SAW memerintahkan kepadaku agar memberikan ganti rugi sebesar satu atau setengah wasaq (ukuran gandum)."Al-Nasa'i.

Riwayat ini memberi kita pelajaran bahwa seharusnya kita mencari tahu dan menganalisis keadaan seseorang yang berbuat salah sebelum kita menegur apalagi menyerangnya dengan kekerasan. Pelajarilah penyebab ia melakukan kesalahan itu atau kondisi orang itu sehingga kita bisa menyikapinya dengan bijak dan baik. Riwayat itu juga menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak menghukum si pemilik kebun karena ia berada dalam posisi yang benar namun memperlakukan saudaranya secara tidak benar. Rasulullah menjelaskan bahwa caranya menyikapi persoalan itu tergesa-gesa dan tidak bijak. Ia mengambil keputusan tidak sesuai dengan saat peristiwa itu terjadi dan tidak memperhatikan keadaan orang yang melakukan kesalahan itu. Karena itulah Rasulullah menyuruhnya untuk mengembalikan jubah milik Abbad ibn Syurahbil, yang saat itu baru saja menempuh perjalanan dan dalam keadaan lapar.

8. PERINGATKANLAH DENGAN LEMBUT.

Sikap keras dan perlakuan yang kasar ketika memperingatkan atau menasihati orang yang berbuat salah biasanya akan berujung pada keburukan, bukan kesadaran. Kita bisa mengkaji hadist-hadist Nabi Muhammad SAW yang menunjukkan contoh bagaimana ia memperlakukan dan menyikapi orang yang berbuat salah, misalnya ketika ia memperlakukan seorang Badui yang kencing di Masjid Madinah. Anas ibn Malik menceritakan bahwa ketika para sahabat duduk bersama Rasulullah didalam masjid, seorang Badui datang dan kencing didalam masjid. Para sahabat berkata, "hei, hentikan, dan pergilah!" Namun, Rasulullah berkata, "jangan ganggu dia. Biarkanlah!"

Para sahabat membiarkannya sampai ia selesai kencing kemudian Rasulullah SAW memanggilnya dan berkata, "masjid bukanlah tempat untuk kencing atau buang air besar. Masjid adalah tempat untuk mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan membaca Al-Qur'an, atau ibadah lainnya." Setelah itu Rasulullah menyuruh seorang sahabat mengambil seember air untuk menyiram air kencing itu dan beliau ikut membantu membersihkannya. Shahih Muslim.

Nabi Muhammad SAW memberi contoh tentang bagaimana menyikapi orang bodoh yang melakukan kesalahan. Ia memperlakukannya dengan ramah dan lembut. Para sahabat, semoga Allah meridhai mereka, berusaha menghentikan si Badui itu karena mereka sangat memperhatikan kesucian dan tak mau ada najis di masjid suci itu. Karena alasan itulah mereka meneriaki laki-laki badui itu, berusaha menghentikan, dan menegurnya dengan keras. Mereka serempak mengatakan, "berhenti!" Ketika melihat laki-laki itu hendak kencing didalam masjid. Namun, Nabi SAW mempertimbangkan dua pilihan sikap, antara menghentikannya dan membiarkannya. Jika para sahabat itu dibiarkan melarang laki-laki Badui itu, bisa jadi akibatnya akan lebih buruk. Mungkin laki-laki itu akan menahan kencingnya, yang bisa membuatnya sakit. Dan jika ia tidak bisa menahannya, dikhawatirkan air kencingnya itu akan menyebar kesemua area masjid, karena ia takut kepada para sahabat yang mengejarnya, atau karena ia kencing berpindah-pindah menghindari para sahabat. Nabi Muhammad SAW memiliki pertimbangan yang lebih  matang dan pemikiran yang lebih tepat sehingga ia meminta para sahabat membiarkan laki-laki itu menuntaskan hajatnya. Kencing di masjid memang sebuah kesalahan, tetapi kesalahan itu menjadi lebih besar jika ia mengotori seluruh masjid. Penyelesaian atas kesalahan itu sederhana saja, yakni menyiram bagian masjid yang dikencingi dengan seember air. Karena itulah Rasulullah mengatakan kepada para sahabatnya agar membiarkan laki-laki itu. Itulah langkah yang paling baik daripada melarang atau menakut-nakutinya.

Setelah laki-laki itu menuntaskan kencingnya, Rasulullah menanyainya, 'apakah kau bukan seorang muslim?'

Ia menjawab, 'tentu saja aku muslim.'

'Mengapa kau kencing didalam masjid kita?'

'Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku pikir masjid seperti tempat lainnya sehingga aku bisa kencing didalamnya.' Kemudian Rasulullah SAW meminta seember air dan menyirami kencing itu.

Kebijakan dan kelembutan Rasulullah SAW itu ternyata berpengaruh besar terhadap kejiwaan laki-laki Badui itu. Ibn Majah meriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata, "seorang Badui memasuki masjid yang didalamnya ada Rasulullah sedang duduk bersama para sahabat. Laki-laki itu mendekati Rasulullah SAW, kemudian duduk, dan berkata, 'Ya Allah, ampunilah aku dan Muhammad, dan jangan ampuni orang lain.'

Rasulullah SAW tersenyum dan berkata, 'Kau membatasi sesuatu yang lebih luas.'

Lalu orang Badui itu berdiri dan berjalan ke bagian lain masjid, membuka celananya, dan langsung kencing. Si Badui menuturkan apa yang terjadi kemudian, "Setelah kencing, aku melihat Rasulullah bangun. Demi Allah, ia tidak menegur atau menghinaku. Rasulullah hanya berucap, 'kita tidak boleh kencing didalam masjid, karena masjid didirikan hanya untuk berzikir kepada Allah dan melaksanakan shalat.' Kemudian Rasulullah meminta seember air dan menyiram air kencingku." Sunan Ibnu Majah.

Ibnu Hajar r.a menyebutkan dalam tafsirnya berapa pelajaran yang dapat kita tarik dari hadist tersebut :

* Kita harus bersikap ramah ketika menghadapi orang bodoh dan mengajarinya apa yang perlu ia ketahui tanpa menegurnya. Terlebih lagi jika orang bodoh itu tidak menunjukkan kebengalan, tidak keras kepala, dan bertekad untuk mencari pengetahuan.

* Nabi Muhammad SAW selalu bersikap ramah dan lembut kepada siapapun, terlebih lagi kepada orang fakir dan orang awam.

* Para sahabat Rasulullah SAW telah terdidik untuk senantiasa menjaga kebersihan dan kesucian masjid sehingga tanpa meminta izin Nabi Muhammad SAW ramai-ramai mereka hendak menghentikan orang Badui itu. Mereka juga telah terbiasa menyeru orang-orang kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran. Mereka merasa tak perlu lagi menunggu perintah Nabi untuk urusan tersebut.

* Kita harus segera menghilangkan sesuatu yang dipersoalkan jika memang tidak ada halangan. Ketika laki-laki Badui itu selesai kencing, Rasulullah langsung meminta seember air kepada para  sahabat untuk menghilangkan najis itu.

9. JELASKANLAH DAMPAK NEGATIF SUATU KESALAHAN.

Ibn Umar, Muhammad ibn Ka'b, Zaid ibn Aslam, dan Qatadah meriwayatkan bahwa dalam perjalanan pulang dari perang Tabuk, seseorang berkata, "tidak ada yang lebih menyukai makanan, yang paling menyukai kebohongan, dan yang paling penakut dalam peperangan kecuali para qari kita."

Auf ibn Malik berseru, "kau bohong! Kau munafik! Sungguh aku akan melaporkan ucapanmu itu kepada Rasulullah,' ujarnya seraya bergegas menemui Rasulullah SAW. Setibanya didepan Rasulullah, ternyata pada saat yang sama beliau menerima wahyu tentang hal itu. Orang munafik itu datang menemui Rasulullah yang saat itu sedang menunggang unta. Ia berkata, 'wahai Rasulullah, kami hanya bercanda dan tidak ada maksud apa-apa dengan ucapan itu kecuali mengisi waktu dalam perjalanan."

Ibn Umar berkata, "aku melihat orang itu memegang tali kekang unta Rasulullah, menendang kerikil, dan berkata, 'wahai Rasul, kami hanya bercanda, tak ada maksud lain,' sementara Rasulullah SAW membacakan ayat : 'Dan jika kau menanyai mereka, niscaya mereka akan berkata, "kami hanya bercanda dan mengisi kekosongan." Katakanlah, "apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Rasul-Nya kalian mengolok-olok?" QS.Al-Tawbah[9]:65.

Firman Allah itu dengan tegas menegur dan memperingatkan orang yang memperolok-olok Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya. Meskipun mengaku bahwa ia sedang bercanda, kesalahan yang dilakukan orang itu benar-benar fatal sehingga bukan para sahabat atau Rasulullah yang menegurnya, melainkan Allah langsung mewahyukan firman-Nya. Tak ada yang boleh bercanda dan memperolok-olok Allah, Rasulullah, dan ayat-ayat-Nya. Jika kesalahan seperti itu dibiarkan, tentu akan berpengaruh buruk terhadap umat Islam. Orang-orang tidak akan merasa takut untuk bercanda dan memperolok-olokk  keagungan Allah atau Rasul-Nya. Karena itulah Allah langsung menurunkan firman-Nya.

10. JELASKANLAH BAHWA KESALAHAN SESEORANG BISA MENIMBULKAN KESALAHAN YANG LEBIH SERIUS.

Abu Tsa'labah al-Khasyani berkata, "setiap kali berhenti disebuah tempat untuk beristirahat dalam perjalanan, para sahabat biasanya langsung berpencar mencari tempat yang teduh dan nyaman pilihan mereka masing-masing. Suatu ketika Rasulullah SAW melihat kelakuan mereka dan ia berkata, 'kalian membubarkan diri dan berpencar. Ketahuilah, itu merupakan perbuatan setan.' Sejak saat itu, setiap kali berhenti untuk berisitrahat, para sahabat tak lagi bubar dan berpencar. Mereka tetap berhimpun dan saling berdekatan sehingga dikatakan bahwa seandainya jubah dibentangkan, tentu akan meneduhi mereka semua." HR.Abu Dawud r.a

Disini kita melihat betapa Rasulullah sangat menyayangi dan senantiasa memperhatikan para sahabatnya. Itulah contoh perhatian seorang pemimpin kepada pasukannya. Bubar dan berpencarnya para sahabat ketika mendirikan kemah merupakan taktik yang diembuskan setan untuk melemahkan orang Islam sehingga musuh mudah menyerang mereka. Kebiasaan berpencar akan menyulitkan para sahabat untuk membantu kelompok sahabat yang mendapat serangan dari musuh.

Dalam riwayat inipun kita menyaksikan ketaatan dan kepatuhan para sahabat kepada Rasulullah SAW yang merupakan pimpinan mereka. Ketika Rasulullah memerintahkan atau melarang sesuatu, mereka langsung mematuhinya.

Riwayat lain memberikan contoh tentang bagaimana Nabi Muhammad SAW menegur sahabat yang melakukan kesalahan yang akan mengakibatkan kesalahan yang lebih serius. Al-Nu'man ibn Basyir meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Luruskan dan rapatkan shaf (barisan) kalian, atau Allah akan membuat kalain terpecah-pecah." HR.Al-Bukhari.

Imam Muslim meriwayatkan dalam shahih-nya dari Sammak ibn Harb bahwa ia mendengar al-Nu'man ibn Basyir berkata, "Rasulullah SAW biasanya meluruskan shaf dalam shalat dengan teguran yang keras sehingga ia merasa yakin bahwa kami telah memahami dan mematuhi perintahnya. Suatu hari, Rasulullah datang dan ketika akan mengucapkan takbiratul ihram, ia berkata karena melihat seseorang yang barisannya tidak lurus, 'hai hamba Allah, luruskan dan rapatkan barisanmu, atau Allah akan membuat kalian tercerai-berai." Shahih Muslim.

Al-Nasa'i meriwayatkan dari Anas r.a bahwa Rasulullah SAW berkata, "luruskan barisan kalian dan rapatkan satu sama lain. Buatlah leher kalian dalam satu garis yang lurus. Demi Zat yang menguasai jiwa Muhammad, aku melihat setan datang ditengah-tengah barisan kalian seakan-akan kalian adalah domba-domba kecil yang terpencar."Shahih Al-Nasa'i.

Ketika menegur dan meyakinkan seseorang yang berbuat salah, kita harus menjelaskan dampak dan akibat buruk yang akan terjadi jika ia kembali melakukan kesalahan itu. Dampak dan akibat buruk itu bisa jadi akan memengaruhi si pelaku sendiri atau mungkin menyebar dan membahayakan orang-orang disekitarnya.

Abu Dawud r.a dalam sunan-nya, meriwayatkan dari Ibn Abbas r.a bahwa seorang sahabat mengutuk angin. Diriwayatkan bahwa jubah salah seorang sahabat ditiup angin, dan kemudian ia mengutuk angin itu. Rasulullah SAW bersabda, "jangan mengutuknya, karena angin hanya bekerja sebagaimana ia diperintahkan. Jika seseorang mengumpat sesuatu yang tidak layak dikutuk maka kutukannya akan berbalik mengenai dirinya." HR.Abu Dawud.

Contoh yang lain diriwayatkan oleh al-Bukhari r.a dalam shahih-nya dari Abdurrahman ibn Abi Bakrah dari ayahnya bahwa seseorang memuji orang lain dihadapan Rasulullah SAW. Menurut riwayat yang diceritakan oleh Muslim, seseorang berkata, "wahai Rasulullah, tidak ada seorangpun selain Rasulullah, yang lebih baik daripada si Fulan dalam urusan tertentu."Shahih Muslim.

Rasulullah SAW berkata kepadanya, "celakalah kau! Kau telah memotong kerongkongan sahabatmu!" Rasulullah mengatakan kalimat itu beberapa kali kemudian berkata, "jika kalian bersikukuh ingin memuji sahabat kalian, katakanlah, 'aku pikir si fulan begini-begini,' dan hanya Allah yang mengetahui kebenarannya. Aku sendiri tidak akan merasa lebih tahu dibanding Allah mengenai kebaikan seseorang. Aku akan mengatakan, "menurutku, si fulan begini dan begini." Hanya Allah yang mengetahui kebenarannya."Shahih Al-Bukhari.

Menurut riwayat yang diceritakan oleh Al-bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, Mihjan al-Aslami r.a mengatakan, "ketika kami tiba di masjid, Rasulullah SAW melihat seseorang melaksanakan shalat, bertakbir dan rukuk. Rasulullah SAW bertanya kepadaku, 'siapakah dia?' Aku mulai memujinya dan berkata, 'wahai Rasul, ini adalah si fulan, dan ia begini-begini.' (Menurut riwayat lain, juga dalam al-Adab al-Mufrad, seorang sahabat berkata, 'ini adalah si fulan. Dalam urusan shalat, ia adalah laki-laki terbaik di Madinah).' Rasulullah SAW bersabda, 'Diam! Pujianmu itu akan menghancurkannya andai ia mendengarnya.'

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa memuji seseorang secara berlebihan merupakan kesalahan yang akan berdampak buruk. Tindakan seperti itu mungkin akan membuat orang yang dipuji merasa bangga dan sombong. Hatinya akan dipenuhi keangkuhan dan keagungan diri sendiri, dan ia mulai berlagak menunjukkan keagungan dirinya. Ia merasa nyaman dengan pujian itu. Pada gilirannya, pujian itu akan mengantarkannya pada kehancuran, yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, "kau telah menghancurkannya," atau "kau telah memotong kerongkongan orang itu," atau "kau telah mematahkan punggung orang itu."

Selain itu, jika seseorang berlebih-lebihan memuji orang lain dan mengucapkan sesuatu yang tidak ia yakini kebenarannya, atau mengungkapkan sesuatu yang tidak diketahuinya, atau bahkan berdusta mengatakan sesuatu yang tidak benar hanya untuk menyenangkan orang yang dipujinya, ia berarti telah menimpakan bencana. Terlebih lagi, jika orang yang dipujinya adalah orang yang sering melakukan kejahatan atau penindasan.

Jadi, memuji orang lain tidak dilarang, karena Rasulullah SAW pun memuji langsung beberapa orang. Penjelasan yang lebih lengkap mengenai tema ini terdapat dalam shahih muslim, dalam bab yang berjudul "al-nahy 'an al-madh idza kana fihi if-rath wa khifa minhu fitnah 'ala al-mamduh (larangan memuji seseorang secara berlebihan atau jika dikhawatirkan akan memunculkan fitnah bagi orang yang dipuji.

Seseorang yang menyadari kekurangan dan kehinaan dirinya tidak akan rusak oleh pujian. Jika ia dipuji, ia tidak akan menjadi sombong, karena ia mengetahui keadaan dan sifat dirinya. Beberapa ulama salaf mengatakan, "jika seseorang dipuji, ucapkanlah 'Ya Allah, ampunilah aku atas apa yang mereka tidak ketahui, jangan menyuruhku bertanggung jawab atas apa yang mereka katakan, dan jadikanlah aku lebih baik dari pada yang mereka pikirkan." HR.Al-Bukhari.

11. PRAKTIKKANLAH APA YANG ANDA NASIHATKAN.

Dalam banyak kasus, nasihat dengan perbuatan nyata lebih efektif daripada kata-kata. Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW Jubair ibn Nufair meriwayatkan dari ayahnya bahwa ia mendatangi Rasulullah SAW, yang meminta air, kemudian berkata, "wudhulah, hai Abu Jubair."

Abu Jubair memulai wudhu dengan berkumur. Rasulullah SAW bersabda, "jangan berwudhu dimulai dengan mulutmu, Abu Jubair. Karena orang kafir pun melakukan itu." Kemudian Rasulullah SAW meminta air, membasuh tangannya sampai bersih, lalu berkumur tiga kali, menghirup air untuk membersihkan hidungnya tiga kali, membasuh mukanya tiga kali, membasuh tangan kanannya sampai siku tiga kali, dan tangan kirinya tiga kali, mengusap kepala, dan membasuh kakinya."HR.Al-Baihaqi.

Kita melihat dalam riwayat ini bahwa Rasulullah SAW secara langsung menghentikan sahabat yang melakukan kesalahan dalam beribadah. Beliau melarangnya memulai wudhu dengan berkumur, karena orang kafir memulainya dengan mulut. Maksudnya, orang kafir tidak membasuh tangannya terlebih dahulu sebelum minum dari cangkir atau gelas-ini tafsiran yang dikemukakan oleh Syekh Abdul Aziz ibn Baz. Namun yang paling penting, Rasulullah kemudian mempraktikkan cara berwudhu yang benar. Dengan mempraktikkan secara langsung, sahabat bisa memahami teknik dan cara-cara berwudhu yang benar dan sesuai dengan syariat.

Rasulullah selalu memberikan teladan yang baik kepada umatnya. Ia senantiasa mengerjakan apa yang dinasihatkan dan diajarkan kepada mereka. Dalam urusan apapun, ia selalu menjadi yang terdepan. Dialah hamba Allah yang paling takut kepada-Nya meskipun seluruh dosanya telah diampuni oleh Allah. Dia juga menjadi pemimpin yang paling baik dan paling mengasihi umatnya. Sebagai pemimpin umat, Rasulullah tak mau menjadi orang yang lebih kaya dibanding umatnya yang paling miskin. Dia juga memberi contoh yang paling baik tentang menjadi suami dan kepala keluarga yang sangat menyaayangi anggota keluarganya. Karena itulah Allah memperingatkan bahwa orang yang tidak melakukan apa yang dikatakannya niscaya akan mendapat murka-Nya.

12. BERILAH ALTERNATIF YANG BENAR.

Abdullah ibn Mas'ud berkata, "jika melaksanakan shalat dibelakang Nabi Muhammad SAW kami terbiasa mengucapkan, 'keselamatan bagi Allah dari para hamba-Nya, keselamatan bagi fulan." Nabi Muhammad SAW bersabda, "jangan ucapkan, 'keselamatan bagi Alllah, karena Allah adalah keselamatan" (al-salam). Tetapi katakanlah, 'al-tahiyyatu lillahi wa al-shalawatu wa al-thayyibatu, al-salamu 'alayka ayyuha al-nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuhu, wa al-salamu 'alayna wa ala ibadillahi al-shalihin.' Dengan mengucapkan itu, berarti kau memasukan setiap hamba Allah yang berada dilangit maupun yang berada antara langit dan bumi. Kemudian katakanlah :'aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan kau bersaksi bahwa Muhammad utusan dan Rasul-nya.' Kemudian pilihlah doa apa saja yang kau sukai, dan bacalah doa tersebut."HR.Al-Bukhari.

Riwayat lain yang berkaitan dengan topik ini diceritakan oleh Anas r.a, yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW melihat ada ludah diarah kiblat dan hal itu membuatnya sangat marah. Kemarahannya tampak jelas dari perubahan raut mukanya yang memerah. Ia berdiri dan membersihkan ludah dengan tangannya sendiri kemudian bersabda, "ketika salah seorang diantara kalian melaksanakan shalat maka sesungguhnya ia sedang berbicara kepada tuhan. Tuhannya ada diantara dirinya dan kiblat. Maka, kalian tidak boleh meludah kearah kiblat. Meludahlah kearah kiri atau kebawah kakinya." Kemudian Nabi Muhammad SAW memegang ujung jubahnya, meludahinya dan mengelap bagian itu dengan bagian yang lain, lalu berkata, "atau lakukanlah seperti ini." HR.Al-bukhari.

Contoh lain diriwayatkan oleh Abu Sa'id al-Khudri r.a ia menuturkan, "Bilal mendatangi Nabi dengan membawa kurma yang sangat baik. Nabi SAW bertanya, 'dari manakah kurma-kurma ini?'

Bilal menjawab, 'kami punya kurma yang kurang baik kualitasnya sehingga aku menukarkan dua takar kurma yang jelek itu dengan satu takar kurma yang baik agar kami bisa memberikannya kepadamu Nabi.'

Mendengar ucapan Bilal, Nabi Muhammad SAW bersabda, 'oh,oh! Itu riba, seperti itulah hakikat riba! Jangan lakukan itu. Jika kau ingin membeli, juallah kurmamu terlebih dahulu dan kemudian belilah kurma yang kau inginkan dengan uang hasil penjualan itu." HR.Al-Bukhari.

Jika kita perhatikan saat ini, para dai atau mubalig yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah orang-orang dari kemungkaran memiliki kelemahan yang sama. Mereka sering kali lebih mengandalkan pada ucapan dan ceramah mengenai kebaikan tetapi tidak mementingkan praktik atau amal nyata. Atau, mereka menunjukkan kesalahan dan keburukan yang dilakukan orang-orang seraya menyebutnya sebagai kejahatan, tetapi mereka tidak memberikan jalan alternatif, atau memberikan penjelasan mengenai apa yang seharusnya dilakukan jika seseorang melakukan kesalahan.

Telah dikenal luas bahwa Islam senantiasa memberikan jalan alternatif yang berguna dan menguntungkan manusia sebagai pilihan yang lebih baik dari pada sesuatu yang diharamkan. Ketika zina dilarang, Islam mensyariatkan bahwa menganjurkan pernikahan; ketika riba dilarang, Islam mengizinkan perdagangan; ketika babi, bangkai, dan daging hewan yang bertaring atau bercakar diharamkan, Islam mengizinkan memakan daging hewan ternak yang disembelih dengan benar dan hewan-hewan lain yang dibolehkan. Banyak lagi contoh lain yang menunjukkan bahwa Islam selalu menyediakan alternatif yang lebih baik dari pada memilih jalan yang diharamkan oleh Allah. Jika seseorang melakukan kesalahan, Islam mengajarinya untuk membersihkan diri dan bertaubat sebagaimana dijelaskan dalam berbagai rujukan tentang taubat dan kafarat (penebusan). Karena itu, seorang dai yang mengajak manusia kejalan Islam harus mengikuti contoh yang ditunjukkan syariat dalam hal memberikan jalan alternatif dan menemukan cara yang bisa diterima.

Penting untuk dikemukakan disini bahwa jalan alternatif hanya diberikan jika memang situasinya memungkinkan. Sering kali kita harus menegur dan memperingatkan orang yang berbuat salah tanpa bisa memberikan jalan alternatif karena situasinya tidak memungkinkan. Misalnya, situasi masyarakat disekitarnya yang cenderung telah kotor, rusak, dan jauh dari syariat, atau karena kita tak menemukan jalan lain sebagai alternatif untuk kesalahan yang dilakukannya. Kita hanya ingin menghentikan kesalahan itu dan mengubahnya meskipun tak bisa menawarkan alternatif lain untuk menggantikannya. Contoh yang paling aktual dan berjalin kelindan dengan kehidupan kita sehari-hari adalah persoalan keuangan dan investasi. Dewasa ini, sistem ekonomi modern dikuasai oleh negara-negara kafir sehingga mereka menerapkan sistem transaksi keuangan yang ribawi. Sistem keuangan dan investasi itu dibawa dan diadopsi oleh negara-negara Islam yang masih tergolong lemah dalam bidang ekonomi dan kesejahteraan. Memang Islam memiliki sistem keuangan dan transaksi ekonomi yang baik. Namun, situasi sosial ekonomi tidak memungkinkan mereka untuk menerapkan sistem keuangan atau investasi syariah itu. Karena itulah banyak umat Islam yang tidak bisa menghindari sistem ekonomi ribawi dan bergelut didalamnya. Mereka hanya bisa menerima bahwa sistem itu salah, tetapi tidak bisa menerapkan sistem yang lebih diterima syariat.

13. BIMBINGLAH MANUSIA AGAR TERHINDAR DARI PERBUATAN SALAH.

Abu Umamah ibn Sahl ibn Hanif meriwayatkan dari ayahnya bahwa Rasulullah SAW pergi bersama para sahabat menuju Makkah hingga akhirnya mereka tiba di lembah al-Khazar dekat al- juhfah. Ketika mereka beristirahat, Sahl ibn Hanif mandi membersihkan dirinya. Ia dikenal sebagai orang yang tampan dengan kulit yang putih bersih. Ketika Sahl mandi, Amir ibn Rabiah, dari keluarga Banu Adi ibn Ka'b, melihatnya dan berkata, "aku belum pernah melihat sesuatu seperti yang kulihat saat ini, bahkan perawan yang terhijab pun tidak seperti ini!"

Sahl terkejut dan ia terjerembab ke tanah (ia memiliki penyakit ayan).

Rasulullah SAW datang dan seseorang berkata kepadanya, "apakah anda ingin melihat Sahl? Demi Allah, ia tidak bisa mengangkat kepalanya atau bangun."

Rasulullah SAW bertanya, "Siapakah yang membuatnya seperti ini?"

Mereka menjawab, "Amir ibn Rabiah melihatnya ketika ia mandi."

Rasulullah SAW memanggil Amir, memarahinya, dan berkata, "mengapa kalian ingin membunuh saudara kalian sendiri? Jika setiap orang diantara kalian melihat saudaranya memiliki suatu kebaikan, doakanlah kebaikan untuknya." Kemudian Rasulullah berkata kepada Amir ibn Rabiah, "bersihkanlah tubuhmu dan bantulah dia." Amir ibn Rabiah membersihkan mukanya, tangannya sampai sikunya, kakinya hingga lututnya, bagian atas dan bagian dalam kakinya. Kemudian Nabi bersabda, "Tuangkanlah air itu kepadanya." Maka ia menuangkan air itu ke kepala dan punggungnya dari belakang, kemudian ia mengangkat ember itu. Setelah itu Sahl pergi bersama para sahabat lainnya tanpa merasa sakit sedikitpun." HR.Imam Ahmad.

Ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita tarik dari riwayat ini, yaitu :

* Seorang guru (dalam riwayat ini adalah Nabi Muhammad SAW) akan memarahi orang yang menyebabkan kesulitan dan keburukan kepada saudaranya sesama muslim.

* Rasulullah SAW menjelaskan dampak buruk dari kesalahan yang mungkin membahayakan.

* Rasulullah SAW menunjukkan cara untuk mencegah bahaya yang mungkin menimpa seorang muslim.

14. JANGAN MEMBAHAS KESALAHAN SESEORANG SECARA LANGSUNG DAN 

    SAMPAIKANLAH DENGAN UNGKAPAN UMUM.

Anas ibn Malik berkata, "Nabi bersabda, 'apa yang terjadi dengan orang-orang yang mengangkat pandangannya kelangit saat ia melaksanakan shalat?' Rasulullah bersikap keras sehingga mengatakan, 'mereka harus berhenti melakukan itu! Kalau tidak, Allah akan mengambil penglihatan mereka.'HR.Al-Bukhari.

Ketika Aisyah ingin membeli seorang budak peempuan yang bernama Barirah, para pemiliknya menolak kecuali jika mereka tetap bisa berhubungan dengan budak itu. Ketika mendengar kabar itu, Nabi Muhammad SAW bangkit dan bergegas menemui mereka. Setelah memuji Allah dan bersyukut kepada-Nya, Rasulullah SAW bersabda, "mengapa ada orang-orang yang memaksakan syarat yang tidak disebutkan dalam kitab Allah? Tidak ada syarat yang tak disebutkan dalam kitab Allah yang dianggap sah, bahkan meskipun ada ratusan syarat. Keputusan Allah adalah paling benar. Syarat-syarat yang ditetapkan oleh Allah bersifat mengikat. Hubungan kesetiaan (wala) seorang budak adalah kepada orang yang memerdekakannya ."HR.al-Bukhari.

Aisyah r.a berkata, "Nabi melakukan sesuatu sehingga hal itu diperbolehkan, tetapi beberapa orang merasa bahwa mereka sanggup melakukan lebih dari itu. Kabar mengenai tingkah laku orang-orang itu didengar oleh Nabi dan ia segera menemui mereka. Setelah memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya, Rasulullah bersabda, 'mengapa ada orang-orang yang berpikir mereka bisa melakukan sesuatu melebihi yang bisa kulakukan? Demi Allah, aku lebih tau mengenai Allah daripada mereka, tetapi akupun yang paling takut kepada-Nya dibanding mereka."HR.Al-Bukhari.

Al-Nasa'i meriwayatkan dalam Sunan-nya bahwa Nabi SAW mengerjakan shalat subuh dan membaca surah Al-Rum, tetapi bacaannya bercampur dengan surah yang lain. Usai mengerjakan shalat, Rasulullah bersabda, "mengapa masih ada diantara kalian yang melaksanakan shalat bersama kami tetapi tidak menyucikan dirinya dengan benar? Orang itulah yang membuatku kacau ketika aku membaca Al-Qur'an. Sunan Al-Nasa'i.

Ahmad r.a meriwayatkan bahwa Abu Raul al-Kala'i mengatakan, "Rasulullah SAW memimpin shalat dan membaca Surah al-Rum, tetapi bacaannya agak kacau pada salah satu bagian. Usai melaksanakan shalat, Rasulullah bersabda, 'setan membuat kacau bacaanku, karena ada orang yang mendirikan shalat tanpa berwudhu.' Jika kalian hendak melaksanakan shalat, berwudhulah dengan sempurna."

Ada banyak hadist lain yang menunjukkan bahwa Nabi tidak pernah menyebutkan jati diri orang yang melakukan kesalahan. Ia menegur seseorang dengan ungkapan yang ditujukan kepada semua orang. Teknik menegur secara tak langsung dan tanpa penyebutan jati diri orang yang bersalah memiliki sejumlah keuntungan, diantaranya :

* Dapat menghindari reaksi negatif dari orang yang berbuat salah sehingga ia tidak akan merasa sakit hati, dengki, atau dendam kepada orang yang menegur atau menasihatinya.

* Teknik seperti ini lebih mudah diterima dan bekerja lebih efektif.

* Teknik seperti ini akan merahasiakan kesalahan seseorang didepan umum.

*Teknik seperti ini akan meningkatkan kehormatan orang yang menegur atau menaasihati sehingga ia lebih disegani dan nasihatnya lebih didengarkan.

Penting untuk diperhatikan bahwa metode ini yang mempergunakan ungkapan umum atau simbolis untuk menegur orang yang berbuat salah tanpa menyebutkan nama atau jati dirinya selayaknya hanya dipergunakan jika kesalahannya itu tidak diketahui oleh orang-orang. Namun, jika banyak orang mengetahui kesalahan yang dilakukan seseorang, dan ia pun tahu bahwa masyarakat mengetahui kesalahannya, metode penasihatan yang lebih tepat adalah menegurnya secara langsung, tanpa menyembunyikan jati dirinya. Jika perlu, kita dapat memberikan teguran atau nasihat dengan keras. Kepada orang yang berbuat salah dan kesalahannya telah diketahui umum, lebih baik digunakan cara yang lebih jelas dan tegas. Namun, dampak yang akan ditimbulkan mungkin berbeda-beda, tergantung pada siapa yang memberikan nasihat, didepan siapa nasihat diberikan, dan apakah nasihat itu disampaikan dengan cara yang provokatif dan agresif, ataukah dengan cara yang ramah dan sopan.

Nasihat atau teguran secara tak langsung munkgin bisa bekerja efektif untuk menyadarkan orang yang melakukan kesalahan dan kesalahannya telah diketahui umum apabila dipergunakan dengan bijak dan cermat.

15. JELASKANLAH BAHWA SEMUA ORANG MENENTANG KESALAHAN.

Metode ini hanya mungkin dipergunakan dalam keadaan yang sangat terbatas, ketika pandangan orang-orang disatukan untuk mencegah berlangsungnya sesuatu keburukan atau agar sesuatu tidak bertambah buruk. Metode ini layak digunakan jika nasihat yang kita sampaikan tidak membuat perubahan sedikitpun sehingga dibutuhkan pendapat dan nasihat dari banyak orang yang sama-sama menentang kesalahannya.

Berikut ini sebuah riwayat yang menuturkan bagaimana Nabi Muhammad SAW mempergunakan metode ini. Abu Hurairah menceritakan, "seseorang menemui Nabi Muhammad SAW dan mengadukan kesalahan tetangganya. Nabi berkata, 'kembalilah, dan bersabarlah.' Namun orang itu kembali menemui Nabi Muhammad SAW hingga dua atau tiga kali. Karena itu, Nabi Muhammad SAW berkata kepadanya, 'pergilah dan tinggalkanlah barang-barangmu dijalan.' Laki-laki itu pergi dan meletakkan barang-barangnya dijalan. Orang-orang menanyainya apa yang terjadi, dan ia memberitahukan masalahnya kepada mereka. Orang-orang mulai mengutuk tetangga orang itu seraya berkata, 'semoga Allah menimpakan sesuatu kepadanya.' Melihat banyak orang yang mengutuknya, si tetangga itu mendatanginya dan berkata, 'ambillah kembali barang-barangmu. Setelah hari ini, kau tidak akan lagi melihat sesuatu yang tidak kau sukai dariku." HR.Abu Dawud.

Metode ini merupakan kebalikan dari metode berikut ini yang juga dipergunakan dalam kondisi tertentu untuk melindungi pribadi dari kejahatan umum sebagaimana akan kami jelaskan berikut ini.

16. JANGAN MEMBANTU SETAN DENGAN MEMUSUHI ORANG YANG BERBUAT 

    SALAH.

Umar ibn al-Khatthab meriwayatkan bahwa pada masa Nabi Muhammad SAW ada seorang pria bernama Abdullah yang punya nama julukan "Himarr" (keledai). Laki-laki itu sering kali membuat Rasulullah tertawa senang. Nabi telah melarangnya minum arak. Suatu ketika ia dibawa kepada Nabi dan beliau memerintahkan sahabat untuk mencambuknya (karena minum arak). Seorang sahabat berkata, "ya Allah, laknatlah dia! Betapa sering ia dihukum karena minum arak!"

Nabi Muhammad SAW bersabda, "jangan kutuk dia. Demi Allah, semua yang aku tahu tentang dia adalah bahwa dia mencintai Allah dan Rasul-Nya."HR.Al-Bukhari.

Menurut riwayat lain, "kemudian Rasulullah SAW berkata kepada para sahabatnya, 'nasihatilah dia.' Mereka mendekatinya kemudian berkata, 'sungguh kau tidak pernah mengingat Allah, kau tidak takut kepada Allah, dan kau tidak merasa malu dihadapan Rasulullah SAW." Kemudian mereka meninggalkannya pergi. Nabi Muhammad bersabda, 'ucapkanlah : "ya Allah, maafkanlah dia. Ya Allah, sayangilah dia."HR.Abu-Dawud.

Menurut riwayat lain, "ketika ia pergi menjauh, beberapa orang berkata, 'mudah-mudahan Allah memberikannya rasa malu!" Rasulullah bersabda, "jangan mengucapkan kata-kata seperti itu. Janganlah menolong setan dengan memusuhi orang itu. Ucapkanlah, "mudah-mudahan Allah mengasihinya."HR.Ahmad.

Riwayat ini memberikan kita pelajaran penting bahwa seorang muslim yang melakukan kesalahan atau dosa, ia akan tetap menjadi muslim selama tidak menyekutukan Allah atau murtad dari agamanya. Seorang pendosa pada dasarnya masih tetap menjadi orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Kenyataan itu tak bisa dimungkiri sehingga tak semestinya kaum muslim menghina atau merendahkannya. Karena itu, Nabi melarang umatnya menolong setan dengan memusuhi orang yang melakukan kesalahan. Lebih baik kita mendoakannya dan memohon agar Allah membimbing, mengampuni, dan mengasihinya.

17. MINTALAH AGAR PELAKU KESALAHAN MENGHENTIKAN PERBUATANNYA.

Sangat penting sekali membuat seseorang menghentikan kesalahannya agar si pelaku tidak menjadi terbiasa. Diriwayatkan bahwa ketika Umar mengatakan, "bukan, demi ayahku," Rasulullah SAW menegurnya, "cukup! Barang siapa bersumpah dengan sesuatu selain Allah, dikhawatirkan ia akan terjebak dalam syirik."HR.Imam Ahmad.

Al-Tirmidzi meriwayatkan bahwa ibn Umar menceritakan, "seseorang bersendawa dihadapan Nabi sehingga ia bersabda, 'jangan bersendawa dihadapanku! Seseorang yang mengisi perutnya terlalu banyak didunia maka ia akan menjadi orang yang selalu lapar pada Hari Kebangkitan."

Dalam riwayat diatas, kita melihat bahwa Rasulullah SAW secara langsung menegur orang yang melakukan kesalahan hingga mereka merasa kapok dan tak mengulangi kesalahannya.

18. JELASKANLAH KEBENARAN KEPADA ORANG YANG BERBUAT SALAH AGAR 

    IA BISA MEMPERBAIKI DIRINYA.

Dalam berbagai kesempatan Nabi menegur para sahabat yang berbuat salah seraya menjelaskan kebenaran yang seharusnya mereka lakukan. Tindakan itu perlu dilakukan agar mereka bisa memosisikan dirinya dijalan yang benar.

Ada beberapa teknik yang bisa digunakan untuk mengingatkan seseoransg akan kesalahannya dan agar ia melakukan yang benar, diantaranya :

* Kita bisa menarik perhatian orang yang berbuat salah agar ia memperhatikan teguran kita. Sebagai contoh, Abu sa'id Khudri r.a menuturkan bahwa ia berjalan bersama Rasulullah SAW memasuki masjid dan beliau melihhat seseorang yang duduk ditengah-tengah masjid, membunyikan jari-jarinya, dan berbicara sendiri. Nabi memberi isyarat kepadanya, namun ia tidak memperhatikan. Lalu Nabi berpaling kepada Abu sa'id dan bersabda, "jika salah seorang diantara kalian sedang mengerjakan sholat, ia tidak boleh membunyikan jari-jarinya karena perbuatan iru berasal dari setan. Dan sesungguhnya kalian tetap berada dalam keadaan shalat selama kalian berada didalam masjid hingga kalian keluar."HR.Ahmad.

* Jika memungkinkan, mintalah seseorang mengulangi perbuatannya, kali ini dengan cara yang benar. Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahwa seseorang memasuki masjid ketika Rasulullah duduk di pojok masjid. Orang itu mengerjakan shalat, kemudian ia mendekati Nabi dan mengucapkan salam kepadanya. Rasulullah menjawab,"wa 'alayka al-salam, kembalilah dan kerjakanlah shalat, karena kau belum mengerjakannya." Lalu ia kembali dan mengerjakan shalat. Setelah itu ia kembali mendekati dan mengucapkan salam kepada Nabi yang menjawab, "wa 'alayka al-salam, kembalilah dan kerjakanlah shalat, karena kau belum mengerjakannya." Setelah dua atau tiga kali, orang itu berkata, "ajarilah aku, wahai Rasul." Nabi bersabda, "ketika kau hendak mengerjakan shalat, kerjakanlah wudhu secara sempurna, kemudian menghadaplah kiblat, dan ucapkanlah takbir (Allahu akbar). Setelah itu bacalah Al-Qur'an yang kau kehendaki, lalu membungkuklah untuk rukuk dengan tumakninah (nyaman), lalu berdiri kembali dengan tumakninah. Kemudian bersujudlah dengan tumakninah, lalu bangun lagi dengan tumakninah, lalu bersujud lagi hingga merasa tumakninah. Setelah itu, duduk tahiyat dengan tumakninah. Kerjakanlah ini disemua shalatmu."HR.Al-Bukhari.

Jika kita perhatikan dengan baik, kita melihat betapa Rasulullah senantiasa memperhatikan perbuatan orang-orang disekelilingnya dan menegur mereka ketika mereka melakukan kesalahan. Rasulullah tak pernah pilih kasih. Semua orang, baik itu keluarga, sahabat dekat, ataupun sahabat biasa, akan ia tegur jika mereka melakukan kesalahan. Tentu saja teknik tegurannya berbeda-beda sesuai dengan keadaan orang itu dan keadaan disekitarnya. Menurut sebuah riwayat yang diceritakan oleh al-Nasa'i, seorang memasuki masjid dan mendirikan shalat. Tanpa kami sadari, ternyata Rasulullah SAW memperhatikan orang itu. Ketika orang itu selesai, ia berjalan mendekati Rasulullah SAW dan mengucapkan salam kepadanya. Rasulullah SAW bersabda, "kembalilah dan kerjakanlah shalat, karena kau belum mengerjakannya." Shahih al-Bukhari.

Seorang pendidik, pengajar, atau dai harus memperhatikan tingkah laku orang-orang disekitarnya sehingga ia bisa menegur dan menasihati jika mereka melakukan kesalahan. Selain itu, ia juga harus memiliki kecakapan untuk membaca kepribadian dan sifat orang lain agar bisa memilih metode yang tepat untuk menegur atau menasihatinya.

Dalam riwayat-riwayat diatas kita menyaksikan bagaimana Rasulullah menerapkan metode yang sangat efektif untuk mengingatkan orang-orang akan kesalahannya sehingga mereka sadar dan ti