12 Keutamaan Menjaga Lisan dalam Islam

Selasa, 8 Januari 2019 | 09:13:30

12 Keutamaan Menjaga Lisan dalam Islam

 

Anda pasti pernah mendengar peribahasa yang mengatakan bahwa “lidah lebih tajam daripada pedang”. Ya, hal itu memang benar. Allah SWT memberikan karunia lisan kepada manusia untuk berbicara. Tentu saja karunia tersebut amat luar biasa. Namun sayangnya, banyak dari kita yang sulit mengendalikan lisan.

adsSaudariku, berhati-hatilah terhadap lisan karena sebuah ucapan bisa menjerumuskan kita ke dalam api neraka. Apabila kita tidak mengetahui sebuah perkara dengan pasti, sebaiknya kita diam saja. Dan janganlah kita mengucapkan perkataan yang menyakiti hati orang lain, sekalipun itu hanya candaan. Sebab di akhirat kelak, segala apa yang kita ucapkan dengan lisan pasti akan dimintai pertanggung jawaban.

Allah Ta’ala berfirman: “Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS Qaf: 18).

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra: 36)

Rasullulah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan manusia agar tak banyak bicara, kecuali berbicara untuk hal-hal yang penting, bermanfaat ataupun untuk mengingat Allah SWT.

“Janganlah kamu sekalian memperbanyak bicara selain berzikir kepada Allah; sesungguhnya memperbanyak perkataan tanpa zikir kepada Allah akan mengeraskan hari, dan sejauh-jauh manusia adalah yang hatinya keras.” (HR. Tirmidzi).

 “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Al-Syafi‘i menjelaskan pula:“Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya.”

Nah, berikut ini beberapa keutamaan menjaga lisan dalam islam yang harus diketahui. Simak terus ya!

1. Memiliki kedudukan tinggi sebagai muslim

Keutamaan menjaga lisan yang pertama yakni menjadikan kita sebagai seorang muslim yang berkedudukan tinggi di mata Allah Ta’ala. Dengan menjaga lisan kita akan terhindar dari perkataan-perkataan dosa yang bisa berujung pada dosa.

Suatu hari Rasulullah Saw. ditanya, “Siapakah Muslim yang paling utama?” Beliau menjawab,“Orang yang bisa menjaga lisan dan tangannya dari berbuat buruk kepada orang lain.” (HR. Bukhari).

2. Dijanjikan surga

Orang-orang yang mampu menjaga lisannya dari ucapan buruk dan tidak berguna juga dijanjikan surga oleh Allah SWT. Sebagaimana dijelaskan dalam suatu hadist:

Dari Sahl bin Sa’ad ra., Rasulullah Muhammad saw bersabda: “Barangsiapa yang dapat memberikan jaminan kepadaku tentang kebaikannya apa yang ada di antara kedua tulang rahangnya – yakni mulut atau lidah – serta antara kedua kakinya – yakni kemaluannya, maka saya memberikan jaminan syurga untuknya.” (HR. Al-Bukhari)

3. Dijauhkan dari neraka jahannam

Untuk pembicaraan yang tidak jelas maslahatnya, atau mungkin ia tidak memiliki ilmu dalam bidang tersebut, maka sebaiknya seorang hamba diam saja. Berbicara sesuatu yang salah atau buruk justru membuat ia terjerumus ke dalam neraka jahannam.                                                         

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka Jahannam.” (HR. Al-Bukhari)

4. Dijauhkan dari kebinasaan

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang-orang yang berbicara tanpa berpikir dan tidak mampu menjaga lisannya, maka ia akan binasa di akhirat. Bahkan wajahnnya akan tersungkur dalam neraka.

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berbincang dengan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu: “Maukah kuberitahukan kepadamu tentang kunci semua perkara itu?” Jawabku: “Iya, wahai Rasulullah.” Maka beliau memegang lidahnya dan bersabda, “Jagalah ini”. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami dituntut (disiksa) karena apa yang kami katakan?” Maka beliau bersabda, “Celaka engkau. Adakah yang menjadikan orang menyungkurkan mukanya di dalam neraka selain ucapan lisan mereka?” (HR. Tirmidzi)

5. Meningkatkan iman

Seseorang yang banyak diamnya dan tak suka mengumbar ucapan yang sia-sia, biasanya ia lebih sering menghabiskan waktunya untuk berpikir. Apabila ia berpikir tentang kebesaran Allah SWT, mengingat akan nikmat yang telah didapat, mengingat kematian, maka kadar keimanannya pun juga akan bertambah.

Menjaga lisan termasuk dalam perbuatan yang meningkatkan iman seseorang. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, bahwasahnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

6. Amalan sedekah yang mendatangkan pahala

Perbuatan yang termasuk dalam menjaga lisan tidak hanya menjauhi perkataan berdosa ataupun diam. Tetapi juga menyampaikan kebaikan. Ketika seseorang mengucapkan sesuatu yang bermanfaat, seperti menyampaikan ayat-ayat Al-Quran atau dengan kata lain berdakwah lewat lisan, maka orang tersebut akan mendapatkan pahala. Perbuatannya tersebut dianggap sebagai sedekah. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam:

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Dalam hadist lain, Rasulullah SAW juga bersabda: “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893).

7. Menghindari sifat keras hati

Keutamaan menjaga lisan selanjutnya adalah untuk menghindari sifat keras hati. Umumnya seseorang yang banyak berbicara dan suka mengumbar-umbar perkataan dosa, hatinya dipenuhi dengan penyakit. Mereka itu orang-orang yang berhati keras. Tidak mudah menerima nasehat. Bahkan jika mendengar firman Allah (Al-Quran) hatinya sama sekali tak bergetar. Naudzubillah mindzalik.

Dari Ibnu Umar ra., katanya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Janganlah engkau semua memperbanyak kata, selain untuk berzikir kepada Alloh Ta’ala, sebab sesungguhnya banyaknya pembicaraan kerasnya hati dan sesungguhnya sejauh – jauh manusia dari Alloh ialah yang berhati keras, yakni enggan menerima petunjuk baik.” (HR. At Tirmidzi)

8. Menyelamatkan diri dari dosa

Selain menunaikan sholat, puasa dan mengaji, cara lain untuk menyelamatkan diri dari dosa serta azab kubur yakni dengan menjaga lisan. Daripada mengunjing atau membicarakan sesuatu yang tak bermanfaat, akan lebih baik jika kita diam serambi memperbanyak istighfar.

Dari ‘Uqbah bin ‘Aamir, dia berkata, “Aku bertanya, wahai Rasulallah, apakah sebab keselamatan?” Beliau menjawab, “Kuasailah lidahmu, hendaklah rumahmu luas bagimu dan tangisilah kesalahanmu”. (HR. Tirmidzi)

9. Diangkat derajatnya oleh Allah SWT

Menjaga lisan dengan memperbanyak mengingat Allah SWT, berdizikir, mengucap asma-asma Allah Ta’ala dan berucap kebaikan-kebaikan akan membuat kita diridhai oleh Allah SWT. Dan Allah juga akan meninggikan derajat seseorang yang mampu menjaga lisannya.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah Ra, bahwasahnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat dari apa yang diridhai Allah yang dia tidak menganggapnya (bernilai) ternyata Allah mengangkat derajatnya karenanya.” (HR. Al-Bukhari).

10. Memperoleh ridha Allah SWt di akhirat

Keutamaan menjaga lisan juga membuat kita memperoleh ridha Allah Ta’ala di akhirat kelak. InsyaAllah kita akan mendapatkan surga dan dapat bertemu dengan Allah SWT.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Sesungguhnya seseorang berbicara dengan satu kalimat yang diridhai oleh Allah dan dia tidak menyangka akan sampai kepada apa (yang ditentukan oleh Allah), lalu Allah mencatat keridhaan baginya pada hari dia berjumpa dengan Allah.” (HR At Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Imam Malik dan Ahmad)

11. Memperoleh keberuntungan di akhirat

Selain ditinggikan derajatnya dan memperoleh ridha Allah SWT, orang-orang yang menjaga lisannya dari perkataan dusta, akan diberikan keberuntungan dan keselamatan di akhirat. Serta dijauhkan dari keburukan.

Diriwayatkan oleh Khlaid bin Abi ‘Imran, bahwasahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda serambi memegang lisannya dalam waktu yang lama,“Semoga Allah merahmati seorang hamba, yang telah berkata benar maka ia akan mendapatkan keberuntungan yang besar atau diam dari keburukan maka ia akan selamat.” (HR. Ibnu Al Mubarak)

12. Menjaga lisan laksana emas

Seseorang diharuskan berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara. Namun apabila ia masih tak mampu berbicara baik atau mungkin tak menguasai ilmunya, maka lebih baik ia diam. Tindakan diam bukanlah sesuatu yang bodoh. Justru diam itu lebih baik bagi seorang muslim. Bahkan Luqman Al Hakim mengibaratkan diam seperi emas. Begitu sangat berharga dan bernilai bagi kita.

Wasiat Lukman Al Hakim kepada anaknya: “Anakku, tiada penyesalan sama sekali dalam diamku. Karena sesungguhnya jika berbicara laksana perak maka diam bagaikan emas”

Pada intinya, sebaiknya manusia berbicara perihal kebaikan dan hal-hal yang bermanfaat. Janganlah mengucapkan sesuatu yang menyakiti hati orang lain, menghina, berlagak sok pintar, sombong atau perkataan dusta. Apabila tidak mampu berbicara baik, maka diam bisa menjadi pilihan tepat. Namun ingat, diam pun ada saatnya. Apabila kita melihat keburukan maka seharusnya berbicara dan mencegah kemungkaran tersebut. Dan apabila kita ditindas, kita juga diperbolehkan membela diri. Yang terpenting, pikirkan terlebih dahulu kata-kata yang hendak diucapkan. Sebab perkataanmu adalah kualitas dirimu.

https://dalamislam.com